Era Jose Mourinho di Real Madrid: Rekor 100 Poin dan Luka Eropa
Skor akhir 2-1 di Camp Nou, 21 April 2012 — malam ketika Cristiano Ronaldo melepaskan tembakan mendatar menit ke-73 melewati Victor Valdes dan membungkam hampir 99.000 penonton. Gol itu bukan sekada...
Skor akhir 2-1 di Camp Nou, 21 April 2012 — malam ketika Cristiano Ronaldo melepaskan tembakan mendatar menit ke-73 melewati Victor Valdes dan membungkam hampir 99.000 penonton. Gol itu bukan sekadar penentu El Clasico. Gol itu adalah stempel sah: Real Madrid asuhan Jose Mourinho berlari menuju gelar La Liga dengan cara paling brutal dalam sejarah klub. Keunggulan empat poin menjadi tujuh, dan Barcelona asuhan Pep Guardiola akhirnya menyerah. Itulah momen puncak dari tiga tahun penuh gol, garam, dan kontroversi yang bernama era Mourinho di Santiago Bernabeu.
Awal Era: Trofi Pertama dan Perang Psikologis
Mourinho tiba musim panas 2010 menyandang status juara Liga Champions bersama Inter Milan. Musim pertamanya langsung menghadirkan trofi: Copa del Rey 2010-11, dimenangkan lewat skor 1-0 atas Barcelona di final Mestalla. Menit ke-103 babak tambahan, Angel Di Maria mengirim umpan silang dari sisi kiri dan Ronaldo menanduk bola masuk ke gawang — satu-satunya gol laga itu. Di La Liga, Madrid finis runner-up dengan 92 poin, empat angka di belakang Barcelona. Di Liga Champions, langkah terhenti di semifinal oleh rival yang sama, lewat kekalahan 0-2 di Bernabeu pada leg pertama yang dibumbui kartu merah Pepe dan pengusiran Mourinho ke tribun.
Dari titik itu lahir perang psikologis terpanas dalam sejarah sepak bola Spanyol. Mourinho memainkan formasi 4-2-3-1 dengan double pivot Xabi Alonso dan Sami Khedira, lalu mengandalkan transisi secepat kilat: dari merebut bola hingga mencetak gol, starting XI-nya kerap hanya butuh kurang dari 12 detik. Serangan balik itu menjadi senjata paling mematikan di Eropa.
Musim 100 Poin: Mesin Gol yang Tak Terbendung
Musim 2011-12 adalah magnum opus. Madrid menutup La Liga dengan 100 poin — rekor liga saat itu — dari 32 kemenangan, dan melesakkan 121 gol, juga rekor. Rata-rata 3,18 gol per pertandingan. Ronaldo mengemas 46 gol liga, Karim Benzema dan Gonzalo Higuain bergantian menghukum pertahanan lawan, sementara Mesut Ozil memerankan raja assist dengan 17 assist di liga. Penguasaan bola rata-rata Madrid menyentuh sekitar 57 persen, dengan tembakan tepat sasaran nyaris tujuh kali per laga — angka yang membuat kiper lawan menderita setiap pekan.
Kemenangan 2-1 di Camp Nou pada April itu menjadi simbol kekuasaan. Gol Sami Khedira menit ke-17 dari kemelut sepak pojok disamakan Alexis Sanchez menit ke-70, lalu Ronaldo menjawab tiga menit berselang memanfaatkan umpan terobosan Ozil. Selebrasinya yang tenang — telapak tangan menunjuk ke bawah — menjadi salah satu gambar paling ikonik dekade itu.
Kami memenangi liga terbaik yang pernah saya mainkan, melawan tim terbaik di dunia. Tidak ada yang bisa menghapus 100 poin itu, tegas Mourinho kala itu, menegaskan gelar tersebut direbut dari Barcelona terbaik sepanjang masa.
Luka Eropa dan Akhir yang Pahit
Ironisnya, takhta Eropa tak pernah datang. Tiga semifinal Liga Champions beruntun berakhir tragis: 2011 disingkirkan Barcelona, 2012 kalah adu penalti dari Bayern Munchen setelah agregat 3-3 — tendangan Sergio Ramos melambung ke langit Bernabeu — dan 2013 dibantai Borussia Dortmund 1-4 pada leg pertama lewat empat gol Robert Lewandowski, sebelum kemenangan 2-0 di kandang tak cukup mengejar defisit.
Musim terakhir 2012-13 runtuh di semua lini domestik. Liga direbut kembali Barcelona, dan final Copa del Rey di Bernabeu sendiri berakhir dengan kekalahan 1-2 dari Atletico Madrid lewat perpanjangan waktu. Konflik ruang ganti, terutama dengan kapten Iker Casillas yang dicadangkan, meracuni atmosfer tim. Mourinho pergi musim panas 2013 dengan warisan tiga trofi: satu La Liga, satu Copa del Rey, dan satu Piala Super Spanyol.
Namun angka tidak pernah berbohong. Dalam tiga musim, Madrid versi Mourinho mencetak lebih dari 400 gol di semua kompetisi, mematahkan dominasi Barcelona di puncak kejayaan tiki-taka, dan meletakkan fondasi serangan balik yang kemudian dipakai generasi berikutnya untuk menaklukkan Eropa. Era Mourinho di Madrid memang singkat, bising, dan kontroversial — tetapi mustahil dilupakan.
Comments (0)