Era Gianni Infantino: FIFA Cetak Rekor, Piala Dunia 48 Tim
Kigali, Rwanda, 16 Maret 2023 — Kongres ke-73 FIFA menjadi panggung tunggal Gianni Infantino. Tanpa lawan, tanpa drama pemungutan suara, presiden berkebangsaan Swiss-Italia itu kembali terpilih seca...
Kigali, Rwanda, 16 Maret 2023 — Kongres ke-73 FIFA menjadi panggung tunggal Gianni Infantino. Tanpa lawan, tanpa drama pemungutan suara, presiden berkebangsaan Swiss-Italia itu kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin federasi sepak bola dunia hingga 2027. Sebuah mandat ketiga yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah olahraga modern.
Perjalanan Infantino menuju kursi nomor satu FIFA bukanlah jalan pintas. Lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970, ia membangun karier dari balik meja administrasi UEFA sejak tahun 2000. Publik sepak bola Eropa mengenalnya sebagai wajah di balik undian Liga Champions — sosok berkepala plontos yang memutar bola-bola undian dengan senyum khas. Dari posisi Sekretaris Jenderal UEFA pada 2009, ia melesat ke kursi presiden FIFA pada 26 Februari 2016, mengambil alih organisasi yang tengah runtuh oleh skandal korupsi di era kepemimpinan sebelumnya.
Ekspansi Piala Dunia 2026: Angka yang Berbicara
Jika ada satu keputusan yang menjadi cap jempol kepemimpinan Infantino, itulah ekspansi Piala Dunia. Edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menampilkan 48 tim — loncatan masif dari format 32 tim yang bertahan sejak 1998. Total 104 pertandingan akan digelar di 16 stadion lintas tiga negara, menjadikannya turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola.
Format baru ini membagi kontestan ke dalam 12 grup berisi empat tim. Dua tim teratas plus delapan peringkat ketiga terbaik melaju ke babak 32 besar — fase gugur yang sama sekali baru dalam sejarah Piala Dunia. Bagi negara-negara Asia dan Afrika, ini kabar gembira: alokasi slot Asia melonjak menjadi 8,5 tempat, sementara Afrika mendapat 9,5 slot. Peta kekuatan sepak bola dunia resmi digambar ulang, dan peluang debut bagi tim-tim non-tradisional terbuka lebar.
Mesin Uang FIFA dan Rekor Pendapatan
Di luar lapangan, Infantino memimpin FIFA layaknya CEO korporasi raksasa. Siklus finansial 2019-2022 mencatatkan pendapatan 7,57 miliar dolar AS — rekor tertinggi sepanjang masa federasi. Proyeksi untuk siklus 2023-2026 bahkan lebih mencengangkan: menembus 11 miliar dolar AS, angka yang tak pernah terbayangkan satu dekade silam.
Dana itu mengalir ke 211 asosiasi anggota melalui program FIFA Forward, yang membiayai pembangunan lapangan, akademi usia muda, hingga kompetisi domestik di negara-negara berkembang. Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru juga mencetak sejarah dengan hampir dua juta penonton memadati stadion — bukti nyata investasi di sepak bola wanita mulai berbuah manis.
"Sepak bola harus benar-benar menjadi milik global. Misi kami adalah memberi kesempatan kepada setiap negara, setiap anak, di mana pun mereka berada, untuk bermimpi tampil di Piala Dunia," ujar Infantino dalam berbagai kesempatan resmi.
Warisan dan Tantangan di Depan Mata
Tidak semua langkah Infantino berjalan mulus. Pengenalan VAR di Piala Dunia 2018 memang revolusioner, tetapi perdebatan soal konsistensi keputusan wasit masih bergulir hingga kini. Penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 dan format unik edisi 2030 — tersebar di enam negara dan tiga benua demi perayaan 100 tahun turnamen — menuai kritik tajam dari kalangan suporter dan pegiat lingkungan.
Namun satu hal sulit dibantah: di bawah komandonya, sepak bola tumbuh menjadi industri yang lebih besar, lebih inklusif, dan lebih menguntungkan. Piala Dunia Antarklub 32 tim yang melakukan debut pada 2025 menjadi proyek ambisius berikutnya — turnamen yang ia sebut sebagai masa depan sepak bola klub dunia. Statistik kehadiran dan pendapatan siaran dari ajang tersebut akan menjadi ujian berikutnya bagi visinya.
Dengan mandat hingga 2027, panggung masih sepenuhnya milik Gianni Infantino. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ia akan meninggalkan jejak, melainkan seberapa dalam jejak itu akan terukir dalam sejarah panjang si kulit bundar.
Comments (0)