Elkan Baggott: Lolos 16 Besar Piala Asia Momen Terindah
Menit ke-42 di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha. Asnawi Mangkualam menyelesaikan eksekusi penalti dengan tenang dan mengubah skor menjadi 1-0. Tiga poin itu bukan sekadar kemenangan kedua Indonesia ...
Menit ke-42 di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha. Asnawi Mangkualam menyelesaikan eksekusi penalti dengan tenang dan mengubah skor menjadi 1-0. Tiga poin itu bukan sekadar kemenangan kedua Indonesia sepanjang sejarah putaran final Piala Asia, melainkan tiket bersejarah menuju babak 16 besar. Bagi Elkan Baggott, bek tengah berpostur 194 sentimeter milik Millwall FC, itulah momen terindah yang pernah ia rasakan bersama Timnas Indonesia.
Dalam kesempatan berbagi cerita itu, pemain kelahiran 2002 ini menegaskan pencapaian kolektif di Piala Asia 2023 mengalahkan seluruh momen pribadi dalam kariernya. Ia juga menempatkan laga uji coba melawan Argentina di Jakarta sebagai pengalaman paling berkesan, karena harus berhadapan langsung dengan Lionel Messi di puncak kariernya. Dua momen itu, menurut Baggott, menjadi penanda betapa jauh perkembangan sepak bola Indonesia dalam dua tahun terakhir.
Jalan Berliku Menuju Sejarah 16 Besar
Indonesia tidak diunggulkan di Grup D. Lawannya adalah Irak, Jepang, dan Vietnam — tiga tim dengan basis kompetisi domestik yang jauh lebih matang. Starting XI Garuda bahkan menjadi salah satu termuda di turnamen, dan Baggott mengakui mentalitas anak muda menjadi kunci. Hasilnya tercatat rapi: kalah 1-3 dari Irak lewat gol Marselino Ferdinan pada menit ke-37, kalah 1-3 dari Jepang meski Sandy Walsh memperkecil kedudukan pada menit ke-90+1, dan kemenangan 1-0 atas Vietnam berkat penalti Asnawi pada menit ke-42. Penguasaan bola di tiga laga itu memang lebih banyak dimiliki lawan, tetapi catatan shots on target Garuda selalu kompetitif. Baggott menjadi tembok di lini belakang, memenangkan mayoritas duel udara dan kerap memancing penyerang lawan terjebak offside dengan garis pertahanan yang disiplin.
Kepastian lolos datang setelah hasil pertandingan grup lain memihak Indonesia, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Garuda melangkah ke babak gugur Piala Asia. Reaksi ruang ganti menjadi salah satu kenangan paling emosional bagi Baggott. Perjalanan berakhir dengan skor akhir 0-4 dari Australia di babak 16 besar, tetapi tiket itu sendiri sudah mencatatkan nama Indonesia di panggung terhormat Asia.
Malam Bersejarah Melawan Argentina
Beberapa bulan sebelum Piala Asia, Baggott merasakan ujian yang sama sekali berbeda. Pada Juni 2023, juara dunia Argentina datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno dan skor akhir menunjukkan 0-2. Leandro Paredes membuka keunggulan lewat titik putih pada menit ke-38, lalu Lionel Messi mengunci kemenangan dengan tendangan bebas pada menit ke-55. Statistik penguasaan bola mencatat dominasi Argentina sekitar 74 persen, dan shots on target mereka hampir tiga kali lipat milik Indonesia.
Namun bagi Baggott, angka-angka itu bukan cerita utamanya. Bermain dalam formasi tiga bek bersama Rizky Ridho, ia harus menjaga pergerakan Messi yang turun ke tengah mencari bola. “Bermain melawan Argentina di depan puluhan ribu suporter adalah pengalaman yang tidak ternilai,” ujarnya. Ia mengakui tekanan pressing Argentina begitu tinggi, tetapi pengalaman itu justru mempercepat pendewasaannya sebagai bek tengah.
Momentum itu berlanjut: di Piala Asia, Baggott tampil lebih tenang dalam membangun serangan dari belakang, dan kemampuannya membaca arah bola membuat Indonesia bisa bertahan lebih lama di area sendiri tanpa kehilangan struktur. Peran Baggott tidak melulu bertahan; umpan-umpan pertamanya kerap menjadi assist awal bagi serangan balik Garuda.
Profil Bek Millwall yang Kian Dewasa
Baggott adalah produk akademi Ipswich Town yang kini memperkuat Millwall di kasta kedua Liga Inggris, Championship. Debut seniornya bersama Timnas Indonesia terjadi pada Mei 2021, saat ia masih berusia 18 tahun. Sejak itu, ia menjelma menjadi salah satu bek tengah andalan dengan postur ideal untuk duel udara dan kecepatan yang memadai untuk menutup ruang di belakang garis pertahanan.
Di level klub, persaingan di Championship menuntut fisik dan konsistensi tinggi. Baggott menilai rutinitas itu justru membuatnya siap setiap kali dipanggil membela Garuda. Ia juga menyoroti pentingnya clean sheet sebagai standar: “Bek dinilai dari ketenangan dan kemampuan menjaga gawang tetap bersih, bukan hanya dari penampilan di atas kertas.”
Target Berikutnya: Lebih dari Sekadar 16 Besar
Baggott tidak berhenti di Piala Asia. Ia menargetkan langkah lebih jauh di Kualifikasi Piala Dunia dan putaran final berikutnya. Dengan generasi muda yang terus bermunculan, ia menilai kedalaman skuad kini jauh lebih baik. Di era VAR yang serba presisi, ia juga menekankan pentingnya disiplin posisi dan komunikasi antarlini. “Kami tidak boleh puas. Sejarah 16 besar harus menjadi awal, bukan puncak,” pungkasnya.
Lolos ke 16 besar Piala Asia adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan, tetapi kami masih punya target yang lebih besar ke depan.
Dengan kombinasi pengalaman internasional dan jam terbang di Inggris, Elkan Baggott menjadi salah satu pilar yang akan menentukan seberapa jauh Garuda melangkah. Jika konsisten, bukan mustahil momen terindah berikutnya akan datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Comments (0)