Duo Muda Indonesia Veda Ega dan Mario Suryo Aji Siap Gebrak Panggung Balap 2026
Dua nama yang selama ini menjadi andalan Indonesia di lintasan balap internasional, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, muncul dalam sesi jumpa media di Agreya Coffee, Menteng, Jakarta Pusat, Senin ...
Dua nama yang selama ini menjadi andalan Indonesia di lintasan balap internasional, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, muncul dalam sesi jumpa media di Agreya Coffee, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026). Keduanya hadir bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan membuka kartu soal persiapan mereka menuju musim balap yang kian padat. Format acara yang santai tidak mengurangi bobot substansi: mulai dari program latihan fisik, simulasi lintasan, hingga target di kejuaraan yang akan mereka jalani.
Konsistensi sebagai Kunci Utama
Dalam sesi tersebut, Veda Ega Pratama menegaskan bahwa fokus utamanya musim ini adalah konsistensi finis di zona poin. Menurutnya, kecepatan satu lap bukan lagi masalah, melainkan kemampuan menjaga ritme sepanjang balapan. Rata-rata waktu lap menjadi indikator yang paling ia perhatikan, bukan sekadar posisi start. "Kami sudah punya data, dan dari situ kelihatan di mana saya harus lebih sabar mengelola ban," ujarnya di hadapan awak media.
Pernyataan itu sejalan dengan karakter lintasan yang akan ia hadapi. Beberapa sirkuit menuntut manajemen ban belakang yang cermat, terutama ketika suhu aspal naik menjelang akhir balapan. Veda menyebut timnya telah menyiapkan strategi dua tahap: bertahan di grup depan pada paruh awal, lalu menaikkan tempo di lima lap terakhir. Pendekatan ini diyakini mampu memaksimalkan penguasaan posisi tanpa harus memaksakan manuver berisiko sejak awal.
Adaptasi Lintasan dan Persiapan Fisik
Sementara itu, Mario Suryo Aji menyoroti pentingnya adaptasi cepat terhadap karakter sirkuit yang berbeda-beda. Ia menjelaskan bahwa sesi latihan simulasi di tanah air difokuskan pada peningkatan refleks dan kekuatan otot inti. "Balapan sekarang bukan cuma soal gas pol, tapi siapa yang paling siap secara fisik saat masuk tikungan terakhir," kata Mario. Ia menyebut program latihan beban dan latihan kardio intensitas tinggi menjadi menu harian menjelang seri pembuka.
Keduanya sepakat bahwa dukungan data elektronik, termasuk analisis telemetri, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan. Mulai dari titik pengereman, sudut kemiringan motor saat menikung, hingga grafik bukaan gas, semuanya dibedah bersama tim teknis. Menariknya, mereka juga membahas pentingnya menjaga kondisi mental di tengah tekanan kompetisi yang semakin ketat.
"Kami belajar dari setiap balapan. Yang paling penting bukan menang sekali, tapi bagaimana bisa berada di depan secara konsisten," ujar Veda menegaskan prinsipnya.
Target Realistis, Ambisi Tetap Tinggi
Baik Veda maupun Mario enggan menyebut angka pasti untuk jumlah kemenangan. Namun keduanya menargetkan finis di posisi lima besar klasemen akhir. Target itu dinilai realistis mengingat peta persaingan yang dihuni pembalap-pembalap muda dari berbagai negara. Konsistensi finis, menurut mereka, jauh lebih berharga daripada sesekali naik podium tetapi sering gagal menyelesaikan balapan.
Sesi di Menteng itu juga menjadi ajang berbagi cerita soal dinamika tim. Keduanya mengakui bahwa komunikasi dengan kepala mekanik dan pelatih fisik menentukan hasil akhir. Setiap setelan suspensi dan pilihan kompon ban dibahas bersama, tidak lagi ditentukan secara sepihak. "Sekarang semuanya berbasis data. Keputusan cepat di pit tetap harus punya dasar," tambah Mario.
Menutup pertemuan, keduanya berharap dukungan publik Indonesia tidak surut, terutama saat balapan digelar di luar negeri. Mereka menyadari sorotan media dan penggemar menjadi energi tambahan, sekaligus tekanan yang harus dikelola dengan baik. Dengan persiapan fisik, strategi, dan analisis data yang matang, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji siap mengibarkan nama Indonesia di lintasan sepanjang musim 2026.
Comments (0)