Drama Adu Penalti Antar Persebaya Rajai Piala Presiden 2026
Skor akhir 1-1 dalam 90 menit, lalu drama adu penalti 6-5 — Persebaya Surabaya resmi mengangkat trofi Piala Presiden 2026 setelah menumbangkan Persib Bandung dalam final yang berjalan panas di Stadi...
Skor akhir 1-1 dalam 90 menit, lalu drama adu penalti 6-5 — Persebaya Surabaya resmi mengangkat trofi Piala Presiden 2026 setelah menumbangkan Persib Bandung dalam final yang berjalan panas di Stadion Manahan, Solo, Sabtu malam. Kiper Ernando Ari keluar sebagai pahlawan setelah menggagalkan eksekusi penentu pada babak sudden death, memastikan Bajol Ijo mengakhiri turnamen pramusim ini dengan status kampiun.
Sejak peluit kick-off dibunyikan, kedua tim langsung memperagakan tempo tinggi. Persebaya turun dengan formasi 4-3-3, mengandalkan trisula Flavio Silva, Bruno Moreira, dan Francisco Rivera di lini depan. Sementara Persib merespons dengan skema 4-2-3-1, menempatkan David da Silva sebagai ujung tombak dengan dukungan Ciro Alves dan Beckham Putra tepat di belakangnya.
Babak Pertama: Maung Bandung Mencakar Lebih Dulu
Persib langsung mengambil inisiatif serangan sejak menit awal. Menit ke-12, Ciro Alves melepaskan umpan silang berbahaya yang masih bisa diamankan Ernando Ari di bawah mistar. Tekanan berkelanjutan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-23: umpan terukur Marc Klok dari lini tengah diteruskan Ciro Alves dengan crossing mendatar, dan David da Silva menyambutnya dengan sundulan keras ke pojok kiri gawang. Skor 1-0 untuk Maung Bandung.
Tertinggal satu gol, Persebaya mencoba merespons lewat penguasaan bola yang lebih sabar. Namun disiplinnya double pivot Persib membuat ruang di tengah nyaris tertutup rapat. Hingga turun minum, statistik mencatat penguasaan bola 54 persen berbanding 46 persen untuk keunggulan Persib, dengan shots on target 2 berbanding 1. Wasit juga mengeluarkan kartu kuning untuk Marc Klok pada menit ke-41 setelah pelanggaran keras terhadap Rivera di sektor tengah.
Babak Kedua: Bajol Ijo Menyamakan Kedudukan
Pelatih Paul Munster melakukan penyesuaian taktik selepas jeda, menginstruksikan kedua full-back tampil lebih agresif naik membantu serangan. Hasilnya langsung terlihat. Menit ke-57, tendangan keras Bruno Moreira dari luar kotak penalti masih membentur mistar gawang. Persebaya terus menekan tanpa henti, dan gol yang dinanti akhirnya tiba pada menit ke-68.
Berawal dari pergerakan cerdas Rivera di sisi kanan, bola dialirkan ke Bruno Moreira yang melepaskan umpan terobosan membelah pertahanan Persib. Flavio Silva lolos dari jebakan offside — tayangan ulang VAR mengonfirmasi posisinya onside — lalu menaklukkan kiper Persib lewat penyelesaian dingin satu sentuhan. Skor imbang 1-1, dan tribun hijau di Manahan meledak oleh sorakan Bonek.
Sisa waktu normal berjalan semakin sengit. Menit ke-80, Persib mengklaim penalti setelah David da Silva jatuh di kotak terlarang, namun wasit melambaikan tangan bermain setelah berkonsultasi dengan VAR. Kartu kuning kedua dalam laga ini dikeluarkan untuk Rizky Ridho pada menit ke-85 karena menghentikan serangan balik. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tak berubah — pertandingan dilanjutkan ke adu penalti.
Pelatih Paul Munster seusai laga: “Kami tahu ini akan menjadi pertarungan panjang. Para pemain menunjukkan mental juara sejak menit pertama, dan ketika laga harus ditentukan dari titik putih, kami sudah sangat siap.”
Drama Adu Penalti: Ernando Ari Jadi Pahlawan
Adu penalti berjalan luar biasa menegangkan. Lima algojo pertama dari kedua kubu nyaris sempurna — hanya satu eksekusi Persib yang mampu ditepis Ernando Ari pada penendang keempat, namun Persebaya gagal memaksimalkan momentum setelah sepakan Rivera melambung tipis di atas mistar. Skor 5-5 memaksa babak sudden death digelar.
Pada penendang keenam, Rizky Ridho dengan tenang mengecoh kiper Persib untuk membawa Persebaya unggul 6-5. Tekanan berpindah ke pundak bek Persib yang menjadi algojo penentu — dan di sinilah malam menjadi milik Ernando Ari. Kiper timnas Indonesia itu membaca arah sepakan dengan sempurna, menepis bola ke sisi kanan gawang, dan memicu selebrasi gila-gilaan seluruh skuad Bajol Ijo di tengah lapangan.
Pelatih Persib, Bojan Hodak: “Sepak bola terkadang kejam. Kami bermain baik selama 90 menit, tetapi adu penalti adalah lotere. Saya tetap bangga dengan perjuangan anak-anak.”
Statistik Akhir dan Makna Kemenangan
Data akhir menunjukkan laga yang benar-benar berimbang: penguasaan bola 52-48 persen untuk Persib, shots on target 6 berbanding 5 untuk keunggulan Persebaya, serta total 19 pelanggaran dari kedua tim sepanjang 90 menit. Persebaya mencatatkan 4 tembakan tepat sasaran di babak kedua — bukti nyata keberhasilan perubahan taktik Munster setelah jeda.
Bagi Persebaya, gelar ini menjadi modal berharga menatap kompetisi musim baru. Clean sheet memang tak tercatat di laga final, tetapi ketangguhan mental dalam adu penalti menunjukkan kedewasaan skuad asuhan Munster. Sementara Persib harus kembali menelan pil pahit di partai puncak, meski penampilan David da Silva dan Ciro Alves layak mendapat apresiasi tinggi. Piala Presiden 2026 resmi menjadi milik kota Surabaya.
Comments (0)