Oct 15, 2026
Olahraga

Der Panzer Gagal, Pelatih Bergaji Rp94 Miliar Tersingkir di Fase Grup

Skor akhir 4-2 atas Kosta Rika pada matchday ketiga Grup E tidak cukup menyelamatkan Timnas Jerman dari jurang eliminasi. Meski menang, Der Panzer harus mengakhiri Piala Dunia 2022 di peringkat ketiga...

Der Panzer Gagal, Pelatih Bergaji Rp94 Miliar Tersingkir di Fase Grup

Skor akhir 4-2 atas Kosta Rika pada matchday ketiga Grup E tidak cukup menyelamatkan Timnas Jerman dari jurang eliminasi. Meski menang, Der Panzer harus mengakhiri Piala Dunia 2022 di peringkat ketiga klasemen dengan koleksi empat poin, tertinggal dari Jepang dan Spanyol yang melaju ke fase gugur. Ini menjadi kedua kalinya secara beruntun Jerman tersingkir di babak grup turnamen akbar, sebuah catatan yang menyakitkan bagi negara dengan empat gelar juara dunia.

Kegagalan Flick dan Beban Gaji Tertinggi

Di balik kegagalan itu, nama Hansi Flick menjadi sorotan utama. Pelatih berusia 57 tahun tersebut dikenal sebagai salah satu pelatih bergaji tertinggi di perhelatan empat tahunan itu, dengan penghasilan yang disebut mencapai 5 juta pound sterling atau sekitar Rp94 miliar per tahun. Angka fantastis itu tentu berbanding lurus dengan ekspektasi: membawa Jerman minimal ke fase gugur. Kenyataannya, starting XI racikan Flick tampil labil, terutama saat kalah 2-1 dari Jepang pada laga pembuka dan hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Spanyol.

Statistik mempertegas masalah Jerman di sepanjang fase grup. Mereka mencatat penguasaan bola rata-rata di atas 60 persen, namun efektivitas di sepertiga akhir lapangan menjadi persoalan serius. Dari total 58 percobaan tendangan, hanya 19 yang mengarah ke gawang alias shots on target. Rasio konversi gol yang rendah ini menjadi bukti bahwa dominasi penguasaan bola tak selalu berbuah hasil. Formasi 4-2-3-1 yang kerap dipakai Flick sering macet ketika menghadapi tim yang bertahan rapat dengan blok rendah.

Menit ke-23 dan Momen Krusial yang Menentukan

Menit ke-23 laga melawan Jepang, Ilkay Gundogan sempat membawa Jerman unggul lewat titik penalti, dan stadion seakan yakin Der Panzer akan mengontrol pertandingan. Namun taktik bertahan yang diterapkan lawan plus kesalahan antisipasi di lini belakang membuat Jepang berbalik menang lewat gol Ritsu Doan dan Takuma Asano. VAR sempat menjadi topik hangat setelah beberapa keputusan offside dan pelanggaran di kotak penalti dianulir, tetapi secara keseluruhan Jerman tetap tampil tidak meyakinkan.

Bandingkan dengan Spanyol yang akhirnya lolos sebagai runner-up Grup E. La Furia Roja memang kalah 2-1 dari Jepang di laga terakhir, tetapi mereka punya selisih gol yang lebih baik berkat kemenangan 7-0 atas Kosta Rika. Sementara Jerman, meski menang 4-2 atas Kosta Rika, harus rela pulang lebih cepat karena kalah selisih gol dan rekor head-to-head. Ironisnya, kemenangan itu justru menjadi clean sheet yang gagal diraih, karena gawang Manuel Neuer kebobolan dua kali dari tim yang seharusnya menjadi lawan paling ringan di grup.

Kutipan Pelatih dan Analisis Taktik

"Kami kecewa, tentu saja. Kami punya peluang, tetapi tidak cukup efektif. Sepak bola adalah tentang efisiensi, bukan hanya penguasaan bola," ujar Hansi Flick dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari keterangan resmi federasi.

Pernyataan itu seolah mengakui kelemahan fundamental timnya. Flick dikenal sebagai arsitek pressing tinggi saat masih menangani Bayern Munich, tetapi di level timnas ia kesulitan menemukan keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Kartu kuning yang dikumpulkan para pemain Jerman, termasuk dari lini tengah dan bek sayap, menunjukkan disiplin yang mulai goyah ketika pertandingan berjalan ketat.

Kegagalan ini juga menempatkan Flick dalam daftar pelatih bergaji tinggi yang gagal membawa timnya ke fase gugur Piala Dunia 2022. Beban gaji yang besar selalu berbanding lurus dengan tuntutan hasil. Sejumlah nama pelatih top lain di turnamen ini juga bernasib serupa, tetapi kasus Jerman terasa lebih mencolok karena status mereka sebagai salah satu favorit juara. Federasi Sepak Bola Jerman kini menghadapi pertanyaan besar soal masa depan Flick, apakah akan diberikan kesempatan membangun ulang atau diganti menjelang Euro berikutnya.

Warisan Kegagalan dan Jalan ke Depan

Bagi para penggemar, tersingkirnya Jerman bukan sekadar soal skor akhir. Ini soal identitas sepak bola yang selama ini identik dengan efisiensi, mentalitas turnamen, dan ketajaman di depan gawang. Dengan empat poin, tiga gol kemasukan, dan dominasi penguasaan bola yang tak berbuah, statistik Jerman di Grup E menjadi potret tim yang kehilangan sentuhan akhir. Menit ke-90 laga melawan Kosta Rika menjadi penutup pahit: para pemain harus menunggu hasil laga lain, dan harapan itu sirna begitu Jepang menaklukkan Spanyol.

Masa depan Flick sebagai pelatih Timnas Jerman kini berada di ujung tanduk. Gaji Rp94 miliar per tahun bukan angka kecil, dan publik sepak bola Jerman menuntut pertanggungjawaban. Piala Dunia 2022 akan dikenang sebagai turnamen di mana Der Panzer pulang lebih cepat, dan Hansi Flick masuk dalam daftar pelatih mahal yang gagal total di panggung terbesar sepak bola dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User