DENPASAR — Komunitas Tridatu Art Transformasikan Kisah Purana Jadi Seni Ogoh-Ogoh
Kreativitas generasi muda Bali dalam merawat tradisi terus bertransformasi ke tingkat estetika dan filosofi yang lebih mendalam. Di Denpasar Barat, sekelom
Kreativitas generasi muda Bali dalam merawat tradisi terus bertransformasi ke tingkat estetika dan filosofi yang lebih mendalam. Di Denpasar Barat, sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Tridatu Art dari Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, berhasil membuktikan bahwa seni Ogoh-Ogoh bukan sekadar parade visual musiman, melainkan medium dialektika narasi sastra klasik Hindu yang bernilai seni tinggi.
Inisiatif kreatif ini dipimpin oleh Radhea, yang menjabat sebagai Ketua Sekaa Teruna (ST) Swastika Banjar Pekambingan sekaligus Ketua Tim Artwork Tridatu Art. Di bawah arahannya, komunitas ini menjadi wadah inkubasi bagi perupa muda yang menekuni seni patung Ogoh-Ogoh, baik dalam skala miniatur presisi maupun karya berdimensi raksasa.
Eksplorasi Sastra Klasik: Dari Teks Menuju Bentuk
Dalam proses kreatifnya, Tridatu Art menempatkan riset naratif sebagai fondasi utama sebelum menyentuh aspek visual. Salah satu karya representatif mereka bertajuk "Arjunala", sebuah komposisi rupa yang digali dari teks keagamaan Markandeya Purana. Konsep ini mengeksplorasi pertempuran kosmis antara kekuatan kebaikan melawan kejahatan melalui personifikasi manifestasi Dewi Parwati.
"Arjunala kami artikan sebagai simbol penghancuran kejahatan demi menegakkan dharma atau kebenaran universal. Setiap lekuk anatomi patung dirancang untuk memancarkan pesan moral tersebut," ujar Radhea dalam keterangannya.
Kronologi dan Metodologi Penciptaan Karya
Menerjemahkan teks kuno menjadi karya tiga dimensi membutuhkan pendekatan teknis dan artistik yang ketat. Tim Tridatu Art menerapkan tahapan kerja sistematis dalam setiap proses produksinya:
- Riset Filosofis dan Pembacaan Naskah: Mengkaji literatur purana untuk menentukan karakter tokoh, latar cerita, serta nilai kontekstual yang relevan bagi masyarakat modern.
- Sketsa Konseptual dan Perhitungan Komposisi: Menyusun tata letak dinamis, proporsi anatomi, serta ekspresi wajah patung guna menciptakan karakterisasi visual yang kuat.
- Konstruksi Struktur dan Pembentukan Rupa: Merangkai kerangka penopang yang presisi, diikuti dengan pembentukan massa tubuh menggunakan teknik pahatan dan pengolahan bahan ramah lingkungan.
- Aplikasi Ornamen dan Payasan: Memperkuat narasi melalui ragam hias tradisional, tata busana (payasan), dan pewarnaan detail yang mencerminkan status mitologis karakter.
Pencapaian Kompetitif dan Dampak Komunitas
Pendekatan berbasis riset ini membuahkan hasil nyata. Sepanjang kalender 2026, Tridatu Art sukses mengukir berbagai prestasi bergengsi dalam kompetisi seni rupa dan pameran Ogoh-Ogoh tingkat regional. Namun, capaian trofi dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan indikator validasi artistik.
Bagi ekosistem kreatif Denpasar, keberadaan Tridatu Art memberikan dampak penting dalam penguatan kapasitas pemuda lokal:
- Ruang Pertukaran Pengetahuan: Menjadi wadah kolaborasi lintas seniman untuk mendiskusikan teknik kriya kontemporer dan pelestarian pakem rupa Bali.
- Diversifikasi Skala Karya: Mengembangkan fleksibilitas seniman muda agar mahir mengeksekusi karya berukuran mikro dengan detail rumit hingga konstruksi skala monumental.
- Kaderisasi Berkelanjutan: Menjamin regenerasi seniman di lingkungan banjar agar tradisi seni rupa tetap relevan di tengah dinamika urban Denpasar.
Melalui konsistensi ini, Tridatu Art menegaskan bahwa Ogoh-Ogoh modern di tangan generasi muda Denpasar telah berevolusi menjadi seni rupa berkelas yang memadukan ketelitian teknis, kekuatan narasi filosofis, serta semangat kebersamaan pemuda banjar.
Comments (0)