Oct 13, 2026
Olahraga

Blatter dan Platini Kembali Bebas di Banding Kasus Korupsi

Muttenz, Swiss — Setelah bertahun-tahun bergulir di meja hijau, babak baru duel hukum paling menyita perhatian dunia sepak bola akhirnya menemui titik terang. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, dan...

Blatter dan Platini Kembali Bebas di Banding Kasus Korupsi

Muttenz, Swiss — Setelah bertahun-tahun bergulir di meja hijau, babak baru duel hukum paling menyita perhatian dunia sepak bola akhirnya menemui titik terang. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, dan mantan Ketua UEFA, Michel Platini, dinyatakan bebas kembali oleh pengadilan Swiss pada 25 Maret 2025 melalui proses banding. Vonis ini menjadi pukulan telak bagi Kejaksaan Agung Swiss yang sebelumnya mengajukan banding atas putusan pembebasan tingkat pertama.

Blatter terlihat meninggalkan gedung pengadilan di Muttenz, dekat Basel, dengan raut wajah lega. Pria berusia 89 tahun itu sempat menyapa awak media sebelum masuk ke kendaraan yang menunggunya. Momen ini sekaligus menutup drama panjang yang menyeret dua nama besar arsitektur sepak bola modern ke pusaran tuduhan korupsi.

Kronologi Kasus: Dari Pembayaran 2 Juta Franc hingga Banding

Kasus ini berakar pada pembayaran senilai 2 juta franc Swiss dari FIFA kepada Platini pada 2011. Kejaksaan menuding transfer tersebut sebagai pembayaran palsu yang dibalut kontrak konsultasi fiktif. Namun, baik Blatter maupun Platini konsisten menyatakan bahwa dana itu merupakan kompensasi sah atas jasa konsultasi yang dilakukan Platini antara 1998 dan 2002.

Pengadilan tingkat pertama pada Juli 2022 sudah membebaskan keduanya dari tuduhan penipuan, pemalsuan dokumen, dan penyalahgunaan kepercayaan. Tidak terima dengan putusan itu, Kejaksaan Agung Swiss mengajukan banding. Sidang banding bergulir dengan menghadirkan sejumlah saksi dan bukti dokumen keuangan FIFA. Namun, majelis hakim tetap berpendapat bahwa tidak cukup bukti untuk menyatakan kedua tokoh bersalah secara pidana.

“Tidak ada unsur pidana yang terbukti. Pembayaran itu tercatat dalam sistem akuntansi FIFA dan telah melalui prosedur internal yang berlaku,” demikian inti pertimbangan majelis hakim dalam sidang yang berlangsung tertutup untuk sebagian agenda.

“Kami sudah mengatakan sejak awal bahwa ini adalah kesalahan besar. Keadilan akhirnya menang, meski butuh waktu sangat lama,” ujar Blatter kepada wartawan di luar ruang sidang.

Dampak bagi Sepak Bola Global dan Reputasi Lembaga

Meski secara hukum bebas, bayang-bayang kasus ini tetap melekat pada rekam jejak keduanya. Blatter memimpin FIFA sejak 1998 hingga 2015, sementara Platini merupakan Presiden UEFA periode 2007–2015 dan sempat menjadi kandidat kuat penerus Blatter. Skandal ini menjadi salah satu pemicu gelombang reformasi tata kelola FIFA yang berujung pada pergantian kepemimpinan dan penerapan paket transparansi keuangan.

Dari sisi statistik organisasi, periode kepemimpinan Blatter mencatat ekspansi besar-besaran: jumlah anggota FIFA bertambah menjadi 211 asosiasi nasional, turnamen Piala Dunia diperluas ke 32 tim, dan pendapatan komersial FIFA melonjak dari sekitar US$ 200 juta pada akhir 1990-an menjadi lebih dari US$ 5 miliar pada siklus 2014. Namun, lonjakan itu juga diiringi sorotan tajam terhadap mekanisme pengambilan keputusan dan distribusi dana.

Reaksi Publik dan Langkah Selanjutnya

Keputusan banding ini memicu reaksi beragam. Sebagian pengamat menilai vonis tersebut menegaskan prinsip praduga tak bersalah dan menutup celah kriminalisasi atas sengketa kontrak keolahragaan. Sebagian lain menyoroti bahwa pembebasan pidana tidak otomatis menghapus persoalan etika dan konflik kepentingan yang pernah mencuat.

Baik Blatter maupun Platini kini secara hukum terbebas dari jerat pidana di Swiss. Platini, yang sempat menjalani sanksi larangan beraktivitas sepak bola dari FIFA, belum memberi pernyataan resmi usai putusan. Sementara itu, Kejaksaan Agung Swiss menyatakan menghormati putusan pengadilan, meski belum memastikan apakah masih ada upaya hukum lanjutan.

Bagi dunia sepak bola, kasus ini menjadi catatan kelam sekaligus pelajaran tentang pentingnya tata kelola keuangan yang bersih di organisasi olahraga. Di atas lapangan, pertandingan ditentukan oleh gol dan penguasaan bola. Di luar lapangan, integritas lembaga diuji oleh transparansi dan akuntabilitas. Dua hal yang, dalam kasus ini, menghabiskan lebih dari satu dekade untuk diadili.

Dengan putusan banding ini, babak akhir drama hukum Blatter–Platini tampaknya telah usai. Namun warisan diskusi tentang reformasi sepak bola global akan terus bergulir, jauh melampaui ruang sidang di Muttenz.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User