Barcelona Menang tapi Tersingkir dari Copa del Rey

Skor akhir 2-1 untuk Barcelona di Camp Nou, Rabu (04/03/2026) malam WIB, tetapi angka itu tidak pernah cukup. Kemenangan Blaugrana atas Atletico Madrid pada leg kedua semifinal Copa del Rey 2025/2026 ...

Aug 24, 2026 - 00:14
0 0
Barcelona Menang tapi Tersingkir dari Copa del Rey

Skor akhir 2-1 untuk Barcelona di Camp Nou, Rabu (04/03/2026) malam WIB, tetapi angka itu tidak pernah cukup. Kemenangan Blaugrana atas Atletico Madrid pada leg kedua semifinal Copa del Rey 2025/2026 hanya memperkecil defisit agregat menjadi 4-3, dan Los Rojiblancos lah yang berhak melaju ke final. Begitu peluit panjang berbunyi, wajah-wajah tuan rumah langsung berubah muram. Alejandro Balde, bek kiri yang mengisi starting XI sejak menit pertama, terduduk di rumput sambil memegangi kepala — kemenangan yang ia bantu raih terasa sia-sia di hadapan puluhan ribu penonton yang memadati tribun.

Babak Pertama: Keunggulan Cepat Atletico di Tengah Dominasi Tuan Rumah

Barcelona langsung menekan sejak kick-off dengan formasi 4-3-3; Pedri, Gavi, dan Frenkie de Jong mengisi lini tengah, sementara Lamine Yamal dan Raphinha melebar di sisi sayap. Sebaliknya, Diego Simeone memarkir formasi 5-3-2 yang rapat dengan dua garis pertahanan berlapis. Penguasaan bola babak pertama tercatat 64 persen untuk tuan rumah, tetapi efektivitas justru berpihak kepada tim tamu. Menit ke-23, serangan balik kilat Atletico bermula dari umpan terobosan Antoine Griezmann; Julian Alvarez menyambutnya dengan tendangan first-time dari sisi kanan kotak penalti yang tak mampu dihalau Marc-Andre ter Stegen. 0-1, dan kini Barcelona wajib mencetak tiga gol untuk lolos langsung atau dua gol untuk memaksakan babak tambahan.

Gol itu justru membangkitkan tekanan tuan rumah. Lamine Yamal menjadi mimpi buruk bek sayap Atletico lewat dribel-dribelnya; di menit ke-38 tembakannya dari sisi kanan hanya membentur tiang gawang Jan Oblak. Enam menit kemudian, giliran Raphinha yang menguji kiper asal Slovenia itu lewat voli dari sudut sempit, tetapi Oblak masih sigap menepis. Babak pertama ditutup 0-1 dengan catatan lima shots on target berbanding satu milik Atletico. Satu kartu kuning sempat keluar di menit ke-41, dikenakan kepada Rodrigo De Paul atas tekel keras ke arah Pedri.

Babak Kedua: Kebangkitan Barcelona yang Datang Terlambat

Setelah jeda, Barcelona meningkatkan tempo dengan presing tinggi dan sayap yang lebih lebar. Hasilnya hadir di menit ke-54: umpan silang Raphinha dari sisi kiri disambut sundulan Robert Lewandowski yang tak bisa dihentikan Oblak. 1-1! Camp Nou bergemuruh, dan agregat kini 4-2 — Blaugrana masih membutuhkan dua gol dalam 36 menit untuk memaksakan extra time.

Drama VAR mewarnai menit ke-71. Ferran Torres, yang baru masuk sebagai pengganti, mencetak gol dari jarak dekat, tetapi pemeriksaan VAR menganulirnya karena posisi offside. Meski kecewa, tuan rumah terus menekan, dan gol kedua akhirnya tiba di menit ke-78 lewat Raphinha. Menerima assist dari Lewandowski, pemain asal Brasil itu melepaskan tembakan kaki kiri dari tepi kotak penalti yang menembus pojok kanan gawang Oblak. 2-1, dan agregat menipis menjadi 4-3.

Tekanan kian membara di menit ke-85 ketika De Paul menerima kartu kuning kedua setelah menjatuhkan Gavi — kartu merah membuat Atletico bermain dengan 10 pemain di sisa waktu. Barcelona melancarkan serangan total: sundulan Lewandowski membentur mistar pada menit ke-90+2, disusul tendangan terakhir yang diblok badan pemain bertahan Atletico di garis gawang. Di sisi lain, Ter Stegen justru nyaris kecolongan di menit ke-90+4, tetapi ia menggagalkan serangan balik Alvarez yang bisa mengunci agregat lebih telak. Peluit panjang berbunyi; skor akhir 2-1, tetapi tiket final tetap melayang ke tangan Atletico.

Analisis Taktik: Unggul Statistik, Kalah di Agregat

Jika hanya membaca angka malam itu, Barcelona tampak superior: penguasaan bola 62 persen, enam shots on target berbanding tiga, dan 11 tendangan sudut berbanding empat. Namun, sepak bola dua leg tidak dihitung per malam. Defisit 3-1 dari leg pertama di Stadion Metropolitano adalah beban yang tak pernah lunas — dan gol Alvarez di menit ke-23 menjadi penentu psikologis yang membuat rencana Hansi Flick berubah drastis.

Formasi 5-3-2 Simeone bekerja persis seperti papan tulisnya: dua gelandang bertahan memutus jalur umpan Pedri, sementara lima pemain belakang mempersempit ruang gerak Yamal. Barcelona unggul dalam penguasaan dan peluang, tetapi kebobolan dari satu-satunya serangan balik efektif Atletico pada babak pertama membuat segalanya berubah. Clean sheet yang sempat dinanti tuan rumah pun mustahil terwujud.

“Kami mendominasi hampir sepanjang laga dan menciptakan banyak peluang, tetapi sepak bola tidak menghitung penguasaan bola — ia menghitung gol,” ujar Flick dalam konferensi pers. “Kami membayar mahal kesalahan di leg pertama. Para pemain sudah memberikan segalanya malam ini.”

Simeone memiliki pandangan berbeda. “Kami tahu akan menderita di Camp Nou, tetapi tim ini punya karakter,” kata pelatih asal Argentina itu. “Bermain dengan 10 pemain di 10 menit terakhir dan tetap bertahan adalah bagian dari DNA kami.”

Kemenangan Sia-sia di Tengah Perjalanan Panjang

Kekalahan ini mengakhiri harapan Barcelona mempertahankan trofi yang mereka rebut musim lalu, ketika mereka menaklukkan Real Madrid di final Copa del Rey. Bagi Balde dan rekan-rekannya, malam di Camp Nou itu menjadi pelajaran pahit: kemenangan di atas kertas tidak selalu berarti kemenangan di agregat. Kini fokus Blaugrana tinggal pada perburuan gelar La Liga dan Liga Champions, sementara Atletico melaju ke final dengan modal lini pertahanan terbaik turnamen musim ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User