Argentina Juara Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Spanyol 2-1 di Final

Skor akhir: Argentina 2-1 Spanyol! Albiceleste resmi mempertahankan mahkota Piala Dunia setelah menang dramatis atas La Roja dalam partai puncak di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Senin ...

Aug 09, 2026 - 13:13
0 0
Argentina Juara Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Spanyol 2-1 di Final

Skor akhir: Argentina 2-1 Spanyol! Albiceleste resmi mempertahankan mahkota Piala Dunia setelah menang dramatis atas La Roja dalam partai puncak di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Senin (20/7/2026). Gol Lionel Messi pada menit ke-34 dan gol penentu Julián Álvarez pada menit ke-78 hanya mampu dibalas satu kali oleh Spanyol melalui sepakan Lamine Yamal pada menit ke-61. Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, meniup peluit panjang setelah sembilan menit injury time yang menegangkan, dan Argentina pun mengangkat trofi keempat mereka sepanjang sejarah turnamen.

Babak Pertama: Spanyol Dominan, Argentina Klinis

Spanyol langsung mengambil inisiatif serangan dengan formasi 4-3-3 andalan Luis de la Fuente. Trio lini tengah Rodri, Pedri, dan Dani Olmo membuat La Roja mencatatkan penguasaan bola 68 persen di 45 menit pertama. Menit ke-23, Lamine Yamal melepaskan tendangan melengkung dari sisi kanan yang hanya membentur tiang jauh gawang Emiliano Martínez. Namun, sepak bola selalu tentang efisiensi. Menit ke-34, Enzo Fernández memenangkan duel di tengah lapangan dan mengirim umpan terobosan akurat kepada Messi. Kapten Argentina itu mengecoh Marc Cucurella dalam situasi satu lawan satu sebelum melepaskan tembakan mendatar ke sudut bawah gawang Unai Simón. 1-0, dan itu menjadi satu-satunya shots on target Argentina di babak pertama.

Babak Kedua: Drama VAR dan Duel Panas Messi-Cucurella

Laga memanas pada menit ke-52. Tekel keras Cucurella terhadap Messi di tepi kotak penalti memicu reaksi keras dari bench Argentina. Vincic mengeluarkan kartu kuning untuk bek kiri Spanyol itu, sementara Enzo Fernández terlibat perdebatan sengit dengan sang pengadil yang menilai pelanggaran terjadi di luar kotak. Messi tampak menunjuk ke arah Cucurella dalam momen yang langsung menjadi sorotan kamera. Pemeriksaan VAR memakan waktu hampir tiga menit sebelum keputusan tendangan bebas ditegakkan, dan eksekusi Messi masih membentur pagar betis. Spanyol merespons dengan sempurna: menit ke-61, Nico Williams menusuk dari sisi kiri dan mengirim assist matang yang diselesaikan Yamal menjadi gol penyeimbang 1-1. Namun Argentina punya jawaban terakhir. Menit ke-78, Messi mengirim umpan silang terukur yang disambut sundulan keras Julián Álvarez. Skor 2-1 bertahan hingga akhir.

Statistik: Efisiensi Mengalahkan Dominasi

Angka-angka pertandingan menceritakan kisah menarik. Spanyol unggul telak dalam penguasaan bola 63 berbanding 37 persen, melepaskan 18 tembakan berbanding 11, dan mencatatkan 7 shots on target berbanding 5. Akurasi umpan La Roja mencapai 91 persen, jauh di atas Argentina yang hanya 78 persen. Namun Emiliano Martínez tampil heroik dengan 6 penyelamatan, termasuk dua di menit-menit akhir injury time. Nilai expected goals (xG) kedua tim nyaris berimbang, 1,8 untuk Spanyol dan 1,6 untuk Argentina — bukti bahwa peluang Argentina lebih berkualitas meski lebih sedikit. Vincic total mengeluarkan 4 kartu kuning dalam laga yang mencatatkan 27 pelanggaran ini.

"Kami tahu mereka akan menguasai bola sejak menit pertama. Tapi final tidak dimenangkan lewat statistik penguasaan, melainkan lewat keberanian di momen-momen besar. Grup ini menunjukkan mentalitas juara," ujar pelatih Argentina, Lionel Scaloni, usai laga.
"Saya bangga dengan perjuangan anak-anak ini. Detail kecil menentukan sebuah final, dan malam ini detail itu berpihak kepada lawan," kata pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.

Messi Tutup Kisah dengan Sempurna

Di usia 39 tahun, Messi membukukan satu gol dan satu assist di final — keterlibatan langsung dalam dua gol kemenangan. Penghargaan pemain terbaik pertandingan menjadi miliknya, melengkapi gelar Golden Ball turnamen. Bagi Argentina, ini adalah gelar beruntun setelah edisi 2022, menjadikan mereka tim pertama yang mempertahankan trofi sejak Brasil pada 1958 dan 1962. Starting XI Scaloni yang bermain dengan formasi 4-4-2 disiplin membuktikan bahwa pertahanan rendah dan serangan balik masih mematikan di level tertinggi. East Rutherford menjadi saksi: era Messi ditutup dengan cara paling indah yang bisa dibayangkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User