Argentina Juara Piala Dunia 2026 usai Drama Lawan Spanyol

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 tidak cukup menggambarkan badai emosi yang menerpa East Rutherford, Minggu malam waktu setempat. Tepat setelah wasit me...

Argentina Juara Piala Dunia 2026 usai Drama Lawan Spanyol

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 tidak cukup menggambarkan badai emosi yang menerpa East Rutherford, Minggu malam waktu setempat. Tepat setelah wasit meniup peluit panjang pada menit ke-90+6, tribune MetLife Stadium masih bergemuruh ketika Nicolas Otamendi, bek tengah dengan nomor punggung 19, dan Nahuel Molina, bek sayap kanan berjersey 26, terlibat dalam keributan fisik dengan gelandang Spanyol Rodri di tengah lapangan. Insiden tersebut merusak sedikit perayaan La Albiceleste yang berhasil meraih gelar dunia berturut-turut usai drama taktis selama 90 menit penuh.

Babak Pertama: Argentina Efisien, Spanyol Dominasi Penguasaan Bola

Menit ke-19, Argentina membuka skor melalui serangan balik mematikan. Lautaro Martinez yang berposisi sebagai false nine berhasil menerima umpan terobosan dari Enzo Fernandez, melepaskan tendangan rendah ke sudut bawah gawang setelah mengelabui bek Spanyol. Starting XI Argentina dalam formasi 4-4-2 yang diubah oleh Lionel Scaloni menjadi 4-3-3 saat transisi ofensif terbukti efektif untuk menembus blok pertahanan Spanyol yang bermain dengan formasi 4-3-3 klasik.

Spanyol membalas pada menit ke-26. Rodri yang beroperasi sebagai single pivot melepaskan tendangan jarak jauh setelah menerima assist dari Pedri. Tembakan dari luar kotak penalti tersebut menyusup melalui lautan kaki pemain, menembus gawang Emiliano Martinez yang baru saja melakukan penyelamatan spektakuler pada menit ke-23. Skor imbang 1-1 memaksa Luis de la Fuente mengubah instruksi kepada wingernya untuk lebih melebar menekan bek sayap Argentina.

Statistik babak pertama mencerminkan dominasi La Furia Roja dalam hal penguasaan bola yang mencapai 62 persen dibandingkan Argentina yang hanya 38 persen. Namun, shots on target Spanyol sebanyak 4 kali gagal memaksimalkan superioritas teritorial mereka. Argentina hanya mencatat 2 shots on target, namun salah satunya berbuah gol. VAR sempat diperiksa pada menit ke-34 saat dugaan offside Nico Williams, namun garis semiotomatis menunjukkan pemain sayap Spanyol masih sejajar dengan bahu terakhir Cristian Romero.

Babak Kedua: Taktik Substitusi dan Gol Penentu

Masuknya Angel Di Maria pada menit ke-67 mengubah dinamika sayap kanan Argentina. Kombinasi antara Di Maria dan Molina menghasilkan tekanan berkelanjutan yang memaksa bek kiri Spanyol mendapatkan kartu kuning pada menit ke-71 karena pelanggaran taktis. Tekanan itu membuahkan hasil pada menit ke-78 ketika Molina mengirimkan umpan silang rendah dari kanan yang diteruskan oleh Julian Alvarez dengan volley keras. Kiper Unai Simon sempat menyentuh bola namun tidak mampu menahan gempuran, dan skor berubah 2-1 untuk Argentina.

Spanyol yang tertinggal langsung meningkatkan intensitas serangan. Penguasaan bola mereka di babak kedua naik menjadi 58 persen secara keseluruhan, dengan total shots on target mencapai 6 kali sepanjang laga. Menit ke-84, Alvaro Morata hampir menyamakan kedudukan melalui sundulan dari tendangan sudut, namun Emiliano Martinez kembali menunjukkan kelasnya dengan reflex save. Argentina memilih menurunkan blok pertahanan mereka hingga ke garis 18 yard, memaksimalkan duel udara oleh Otamendi dan Romero yang memenangkan 12 dari 15 aerial duel di babak kedua.

Kartu kuning kedua hampir keluar pada menit ke-88 saat Rodrigo De Paul melakukan tactical foul untuk menghentikan serangan balik cepat Spanyol. Wasit memilih memberikan peringatan verbal setelah melihat replay di monitor VAR, keputusan yang memicu protes dari bangku cadangan Spanyol. Hingga wasit menambah 6 menit waktu injury time, tekanan Spanyol belum juga membuahkan hasil.

Insiden Pasca Laga: Otamendi dan Molina Terlibat Keributan dengan Rodri

Sesaat setelah peluit panjang, kamera televisi merekam momen panas ketika Rodri mendekati sejumlah pemain Argentina di tengah lapangan. Otamendi yang baru saja menyelesaikan laga dengan clean sheet individual di zona tengah langsung berhadapan dengan gelandang Manchester City tersebut. Pertukaran kata-kata kasar terjadi dalam jarak dekat, dan Molina yang berada di dekatnya langsung mendorong dada Rodri sebelum wasit serta official keamanan lapangan bergegas memisahkan.

Berdasarkan rekaman broadcast, insiden bermula dari komentar Rodri terkait salah satu duel keras pada menit ke-74 yang tidak dihukum kartu. Otamendi yang mengenakan jersey nomor 19 terlihat sangat emosional, sementara Molina dengan nomor 26 di punggungnya ikut terbawa suasana. Beberapa pemain cadangan dari kedua tim ikut berkerumun sebelum akhirnya keamanan stadion membubarkan keributan tersebut. Tidak ada kartu merah atau sanksi langsung yang diberikan wasit pasca laga, namun laporan komite disiplin FIFA kemungkinan akan menyelidiki insiden tersebut dalam 48 jam ke depan.

Data Pertandingan: Skor akhir Argentina 2-1 Spanyol. Gol: Lautaro Martinez (19', assist Enzo Fernandez), Julian Alvarez (78', assist Molina); Rodri (26', assist Pedri). Penguasaan bola: Argentina 42% - Spanyol 58%. Shots on target: Argentina 4 - Spanyol 6. Formasi: Argentina 4-4-2/4-3-3, Spanyol 4-3-3. Kartu kuning: Spanyol 2, Argentina 1. VAR: 2 intervensi. Clean sheet: Tidak ada.

"Kami memenangkan pertandingan di atas lapangan dengan hati dan taktik. Apa yang terjadi setelah peluit adalah emosi sepak bola, tapi kami akan hormati proses apapun yang dilakukan FIFA," ujar Lionel Scaloni dalam konferensi pers singkat.

Kemenangan ini menempatkan Argentina sebagai tim pertama sejak Brasil 1962 yang berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia. Namun, kontroversi pasca laga antara Otamendi, Molina, dan Rodri menjadi catatan kelam yang mengiringi malam bersejarah La Albiceleste di East Rutherford.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User