Argentina Juara Piala Dunia 2026, Keributan Gavi dan Paredes Warnai Final

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 yang digelar di East Rutherford, N.J., tidak cukup menggambarkan gelora emosional yang terjadi di lapangan. Menit ke-84...

Argentina Juara Piala Dunia 2026, Keributan Gavi dan Paredes Warnai Final

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 yang digelar di East Rutherford, N.J., tidak cukup menggambarkan gelora emosional yang terjadi di lapangan. Menit ke-84, Julian Alvarez melepaskan tembakan krusial yang memastikan trofi Jules Rimet kembali ke Buenos Aires, namun drama sesungguhnya baru terjadi usai wasit meniup peluit panjang. Keributan besar melibatkan Gavi, Leandro Paredes, dan Thiago Almada di tengah lapangan menjadi puncak tensi yang mengguncang laga puncak tersebut.

Duel Taktis: Starting XI dan Formasi Berbeda

Sejak kick-off, Lionel Scaloni mempercayai starting XI dengan formasi 4-4-2 klasik yang mengandalkan duet Lautaro Martinez dan Julian Alvarez di lini depan. Di sisi lain, Luis de la Fuente membalas dengan formasi 4-3-3 fluid yang menempatkan Gavi sebagai false winger di sisi kiri, dengan Pedri dan Rodri mengontrol tempo dari lini tengah. Penguasaan bola mencapai 52% untuk La Furia Roja, namun Argentina lebih berbahaya dengan transisi cepat yang membuat back line Spanyol kerap kehilangan orientasi.

Argentina mencatat delapan shots on target sepanjang 90 menit, sementara Spanyol hanya mengemas enam tembakan yang mengarah ke gawang Emiliano Martinez. Perbedaan pendekatan ini terlihat jelas: La Albiceleste memilih direct passing ke final third, sementara Spanyol mempermainkan build-up pendek dengan full-back yang naik tinggi membentuk overload di sayap.

Babak Pertama: Martinez Buka Keran Gol

Menit ke-31, keunggulan Argentina lahir dari pressing tinggi yang sempurna. Enzo Fernandez merebut bola di tengah lapangan, mengirimkan through ball tajam ke ruang di belakang center-back Spanyol. Lautaro Martinez, yang memulai dari posisi offside trap yang cermat—diverifikasi VAR—menerima assist tersebut dengan sempurna dan melepaskan tendangan first-time ke sudut bawah gawang Unai Simon. Gol itu membuat skor 1-0 dan memaksa Spanyol untuk keluar dari zona nyaman.

Spanyol mencoba merespons lewat serangan sayap, namun setiap kali bola mendekati kotak penalti Argentina, Cristian Romero dan Lisandro Martinez memenangkan duel udara dengan dominasi fisik yang luar biasa. Hingga jeda babak, penguasaan bola 55% di tangan Spanyol belum mampu diubah menjadi peluang berbahaya yang signifikan.

Babak Kedua: Morata Samakan, Alvarez Penentu

Masuk babak kedua, Spanyol meningkatkan intensitas. Menit ke-55, Gavi menerima kartu kuning setelah tackle keras terhadap Paredes yang memutus serangan balik Argentina. Tindakan itu mencerminkan frustrasi La Furia Roja yang kesulitan menembus compact block lawan. Namun, tekanan akhirnya membuahkan hasil. Menit ke-68, Alvaro Morata menyamakan kedudukan 1-1 melalui finishing cepat di depan gawang usai menerima assist manis dari Pedri yang menerobos dari lini tengah.

Argentina tidak panik. Scaloni melakukan substitusi taktis dengan memasukkan Thiago Almada untuk mempercepat rotasi di sayap. Hasilnya, menit ke-84, Julian Alvarez mencetak gol kemenangan 2-1 usai menerima assist dari Alexis Mac Allister. Alvarez melesat melewati dua pemain belakang Spanyol dan melepaskan tendangan low drive yang bersarang di pojok kanan gawang. East Rutherford bergemuruh, dan trofi mulai terlihat dalam genggaman Messi dan kawan-kawan.

Ricuh Usai Laga: Gavi, Paredes, dan Almada Terlibat Aksi Fisik

Wasit meniup peluit panjang, namun emosi tak langsung padam. Gavi yang masih membawa amarah dari beberapa duel fisik sebelumnya terlibat adu argumen dengan Leandro Paredes. Dalam sekejap, Thiago Almada datang membela rekan setimnya, mendorong Gavi hingga terjatuh di tengah kerumunan pemain. Stewards dan ofisial tim bergegas masuk untuk memisahkan kedua kubu sebelum insiden membesar. Tidak ada kartu merah tambahan pasca laga, namun komite disiplin FIFA dipastikan akan meninjau rekaman VAR dan kamera broadcast untuk sanksi lebih lanjut.

Insiden itu menodai clean sheet emosional Argentina yang seharusnya merayakan gelar dunia ketiga mereka. Gavi, yang sejak menit awal sudah bermain dengan tekanan tinggi, tampak kehilangan kendali pasca kekalahan menyakitkan. Paredes dan Almada, meski berhasil menjaga konsentrasi hingga akhir, akhirnya terbawa suasana panas yang meluap usai laga terbesar di planet ini.

Kata Pelatih: Emosi Memuncak di Laga Terbesar

"Ini adalah final Piala Dunia, tekanannya luar biasa. Saya melihat ada kontak keras dan emosi yang meluap, tapi kita harus menghormati permainan. Kami menang karena taktik dan kerja keras, bukan karena insiden di akhir," ujar Lionel Scaloni di mixed zone.
"Kami kecewa dengan hasilnya, terutama cara kami kehilangan kendali di menit-menit akhir. Yang terjadi setelah laga tidak mencerminkan karakter tim ini. Kami akan evaluasi, tapi hari ini emosi memang sulit dikendalikan," tutur Luis de la Fuente.

Dengan skor akhir 2-1, Argentina menutup kampanye Piala Dunia 2026 sebagai juara dengan kombinasi taktik disiplin, efisiensi shots on target, dan mentalitas juara. Spanyol, meski unggul penguasaan bola, kembali pulang dengan tangan hampa dan satu misi baru: memperbaiki kontrol emosi di laga-laga besar mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User