Spanyol Juara Dunia 2026, Messi Tertunduk Lesu di Final

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di final Piala Dunia 2026 menorehkan luka baru di karier megabintang Lionel Messi. Menit ke-93, wasit meniup peluit panjang, dan kamera langsung menyorot kapten Argentina ...

Spanyol Juara Dunia 2026, Messi Tertunduk Lesu di Final

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di final Piala Dunia 2026 menorehkan luka baru di karier megabintang Lionel Messi. Menit ke-93, wasit meniup peluit panjang, dan kamera langsung menyorot kapten Argentina yang tertunduk lesu di tengah lapangan MetLife Stadium. La Albiceleste kembali gagal mengangkat trofi usai drama 90 menit yang diwarnai kontroversi VAR, perubahan formasi, dan dominasi generasi emas Spanyol yang tak terbendung. Starting XI Argentina yang diturunkan Lionel Scaloni memakai formasi 4-4-2 dengan Messi berpartner Julian Alvarez di lini depan, sementara Luis de la Fuente membalas dengan taktik 4-3-3 fleksibel yang memaksimalkan kecepatan Lamine Yamal dan Pedri di sayap.

Babak Pertama: Alvarez Buka Keran, Pedri Samakan Kedudukan

Pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi sejak menit awal. Penguasaan bola di babak pertama terpantau imbang di angka 50-50, namun Spanyol unggul dalam shots on target dengan empat percobaan berbahaya. Menit ke-12, Rodri melepaskan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti yang masih melambung di atas mistar gawang Emiliano Martinez. Argentina membalas pada menit ke-23 ketika Angel Di Maria menyusuri sayap kiri dan mengirimkan umpan silang yang dihalau Unai Simon.

Gol pembuka tercipta pada menit ke-29. Messi, yang beroperasi sebagai false nine, menjatuhkan bola dengan backheel elegan kepada Julian Alvarez yang menerobos celah antara dua bek Spanyol. Alvarez melepaskan tembakan kaki kanan ke sudut bawah gawang, membuat skor 1-0 untuk Argentina. Assist gemilang itu sekaligus membuktikan kelas sang kapten meski usianya telah menginjak 39 tahun.

Namun keunggulan tak bertahan lama. Menit ke-41, Spanyol melancarkan serangan balik cepat berbasis transisi. Lamine Yamal melewatkan Nahuel Molina di sayap kanan sebelum mengirimkan low cross ke tengah kotak penalti. Bola ditepis Martinez, namun Pedri yang mengikuti alur permainan langsung menyambarnya dengan volley kaki kiri. Skor imbang 1-1 bertahan hingga jeda, dengan Spanyol mencatatkan enam shots on target dibandingkan empat milik Argentina.

Babak Kedua: VAR Batalkan Harapan dan Yamal Jadi Penentu

Masuk babak kedua, De la Fuente melakukan penyesuaian taktis dengan menaikkan pressing intensity di tengah lapangan. Formasi Spanyol yang awalnya 4-3-3 bergeser menjadi 4-2-3-1 saat bertahan, memaksa Messi turun lebih dalam untuk mengambil bola. Kartu kuning pertama keluar pada menit ke-52 untuk Cristian Romero usai melakukan tactical foul terhadap Yamal yang lolos dari jebakan offside.

Puncak kontroversi terjadi pada menit ke-63. Messi mengirimkan umpan terobosan manis kepada Enzo Fernandez yang meneruskan dengan sundulan ke gawang. Selebrasi Argentina sempat pecah sebelum VAR memanggil wasit untuk meninjau kembali posisi Fernandez yang terpantau offside seperjengkal. Gol dianulir, dan keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan Scaloni. Tiga menit berselang, Spanyol membalas dengan serangan mematikan. Menit ke-67, Rodri merebut bola di tengah dan langsung mengoper ke Lamine Yamal yang berlari dari belakang bek. Yamal dengan dingin mengecoh Martinez dengan chip halus, membawa Spanyol unggul 2-1. Assist dari Rodri itu mencatatkan data umpan terobosan kelima Spanyol di laga ini.

Scaloni kemudian melakukan substitusi ganda pada menit ke-74 dengan memasukkan Lautaro Martinez dan Exequiel Palacios untuk menambah daya gedor. Messi masih bertahan di lapangan meski mobilitasnya menurun drastis. Menit ke-81, tendangan bebas Messi dari jarak 25 meter masih bisa ditahan Simon. Hingga wasit menutup laga, Argentina gagal mencetak gol penyama kedudukan. Penguasaan bola akhir laga menunjukkan dominasi Spanyol dengan 54 persen berbanding 46 persen milik Argentina, sementara total shots on target La Furia Roja mencapai delapan kali, jauh di atas La Albiceleste yang hanya mengemas lima percobaan tepat sasaran.

Analisis Taktik: Generasi Emas Spanyol vs Sisa Keajaiban Messi

Dari sisi taktis, final ini menjadi pertarungan antara transisi cepat Spanyol dan ketergantungan Argentina pada individual brilliance Messi. Starting XI Spanyol yang rata-rata berusia 26 tahun berhasil menutup ruang gerak Messi dengan double pivot Rodri dan Fabian Ruiz. Setiap kali Messi menerima bola, minimal dua pemain Spanyol langsung melakukan closing down, memaksanya sering kali harus melepas bola ke belakang. Berbeda dengan Argentina yang kesulitan memutus rantai distribusi Spanyol di sayap.

"Kami kecewa, tetapi Spanyol layak menang malam ini. Mereka lebih segar secara fisik dan taktis lebih matang di babak kedua. Messi sudah memberikan segalanya," ujar Lionel Scaloni usai laga.

Di kubu lawan, De la Fuente mengapresiasi performa disiplin anak asuhnya yang berhasil meredam serangan balik Argentina.

"Kami tahu Argentina akan bermain lewat Messi. Plan kami adalah membuatnya selalu berada di depan dua pemain dan memaksa Argentina bermain melalui sayap yang tidak begitu produktif hari ini," jelas De la Fuente.

Bagi Messi, kekalahan ini memastikan bahwa trofi Piala Dunia 2022 tetap menjadi satu-satunya di lemarinya. Tertunduknya sang kapten usai laga bukan sekadar ekspresi kekalahan, melainkan tanda bahwa era keemasan Argentina telah benar-benar dihentikan oleh generasi baru Spanyol yang kini berhak merayakan clean sheet prestise sebagai kampiun dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User