Argentina Disambut Hangat di Ezeiza Meski Final Piala Dunia 2026 Berakhir Pahit

Bus atap terbuka berwarna biru-putih itu melaju perlahan di jalanan Ezeiza, Provinsi Buenos Aires, pada Minggu (20/7) petang. Ratusan suporter setia La Albiceleste berjajar di sepanjang rute menuju ko...

Jul 28, 2026 - 04:25
0 0
Argentina Disambut Hangat di Ezeiza Meski Final Piala Dunia 2026 Berakhir Pahit

Bus atap terbuka berwarna biru-putih itu melaju perlahan di jalanan Ezeiza, Provinsi Buenos Aires, pada Minggu (20/7) petang. Ratusan suporter setia La Albiceleste berjajar di sepanjang rute menuju kompleks latihan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), melambaikan tangan dan mengibarkan bendera. Tidak ada piala di tangan Lionel Messi dan rekan-rekannya—hanya kelelahan dan luka kekalahan final Piala Dunia 2026 yang masih terasa segar kurang dari 24 jam sebelumnya. Argentina kalah 1-3 dari Spanyol di MetLife Stadium, New Jersey, dalam partai puncak yang memupuskan harapan mempertahankan gelar juara dunia. Skor akhir itu menjadi kenyataan pahit yang harus mereka bawa pulang sejauh 8.500 kilometer dari Amerika Serikat.

Meski begitu, tidak ada cemoohan dari kerumunan di Ezeiza. Justru tepuk tangan dan nyanyian "Vamos, Vamos Argentina" menggema saat bus yang ditumpangi Lionel Scaloni dan para pemain melintas. Momen ini menjadi bukti bahwa ikatan antara tim dan rakyat Argentina tidak diukur semata dari trofi. Kekalahan di final Piala Dunia memang menyakitkan, tetapi kebanggaan terhadap perjuangan tim tetap utuh.

Kronologi 90 Menit di MetLife: Spanyol Terlalu Tangguh

Partai final yang digelar pada Sabtu (19/7) malam waktu setempat itu menyuguhkan duel dua filosofi sepak bola: penguasaan bola khas Spanyol melawan intensitas dan transisi cepat Argentina. Pelatih Lionel Scaloni menurunkan formasi 4-3-3 dengan Lionel Messi, Lautaro Martínez, dan Julián Álvarez di lini depan, sementara Spanyol di bawah asuhan Luis de la Fuente tampil dengan 4-2-3-1 yang fleksibel. Statistik penguasaan bola langsung memperlihatkan jurang perbedaan: Spanyol menguasai 61 persen, sedangkan Argentina hanya 39 persen—angka terendah La Albiceleste sepanjang turnamen.

Menit ke-18, Spanyol membuka keunggulan lewat skema umpan pendek yang diakhiri tendangan melengkung Pedri dari luar kotak penalti. Gol tersebut tercipta melalui assist Dani Olmo setelah kombinasi 14 operan berturut-turut yang sama sekali tidak mampu dipotong lini tengah Argentina. Skor berubah 1-0. Argentina sempat memberi respons di menit ke-31 lewat peluang emas Lautaro Martínez, tetapi sepakan jarak dekatnya membentur mistar gawang yang dikawal Unai Simón. Tekanan Argentina akhirnya membuahkan hasil di menit ke-39: sepak pojok Enzo Fernández ditanduk Julián Álvarez ke sudut kanan bawah gawang. Skor imbang 1-1 bertahan hingga turun minum, dan harapan juara bertahan masih menyala.

Namun, babak kedua sepenuhnya milik La Roja. Menit ke-62, Lamine Yamal—bintang muda Barcelona yang baru berusia 19 tahun—menunjukkan kelasnya dengan tusukan dari sisi kanan yang diakhiri penyelesaian dingin ke tiang dekat. Shots on target Spanyol di babak kedua mencapai lima berbanding satu milik Argentina, menegaskan dominasi mereka. Pukulan telak datang di masa injury time (90+3) ketika serangan balik cepat yang digerakkan Nico Williams dituntaskan Ferran Torres menjadi gol ketiga. Skor akhir 3-1 untuk Spanyol menutup semua perlawanan Argentina.

Statistik Final yang Berbicara Lantang

Angka-angka dari laga final ini melukiskan superioritas Spanyol secara menyeluruh. Total tembakan Spanyol mencapai 19 kali, dengan sembilan di antaranya tepat sasaran. Di seberang lapangan, Argentina hanya mampu melepaskan 11 tembakan dan hanya empat yang mengancam gawang Unai Simón. Dominasi Spanyol juga terlihat dari jumlah tendangan sudut: tujuh berbanding dua. Lini tengah Argentina yang biasanya kokoh di bawah kendali Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister tercatat kehilangan penguasaan bola sebanyak 22 kali—jumlah tertinggi sepanjang era Scaloni. Kartu kuning pun lebih banyak diterima Argentina (empat) dibandingkan Spanyol (dua), dengan Cristian Romero dan Nicolás Otamendi sama-sama mendapat peringatan keras akibat pelanggaran taktis untuk menghentikan serangan cepat lawan.

Reaksi Scaloni dan Pertanyaan soal Regenerasi

“Kami kalah dari tim yang lebih baik malam itu. Spanyol pantas menjadi juara. Saya tidak bisa menyalahkan para pemain yang sudah memberikan segalanya. Sekarang waktunya beristirahat, lalu memikirkan apa yang terbaik untuk masa depan,” ujar Lionel Scaloni dalam konferensi pers singkat sebelum rombongan bertolak kembali ke Buenos Aires.

Kekalahan ini langsung memicu diskusi tentang regenerasi skuad Argentina. Lionel Messi, yang akan berusia 39 tahun pada 2026, tampil dalam bayang-bayang usia sepanjang turnamen. Ia tidak mencetak gol di final dan hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran. Sementara itu, pemain seperti Enzo Fernández (25 tahun) dan Julián Álvarez (26 tahun) diharapkan menjadi tulang punggung era baru. Di sisi lain, Spanyol justru merayakan gelar Piala Dunia keempat mereka dengan skuad yang sarat talenta muda: Pedri (23 tahun), Gavi (22 tahun), dan Lamine Yamal (19 tahun) adalah simbol keberhasilan proyek jangka panjang La Roja.

Ketika bus terbuka itu akhirnya memasuki gerbang kompleks AFA di Ezeiza, para pemain turun dengan wajah lelah namun penuh rasa terima kasih. Tidak ada pidato panjang. Hanya pelukan dan isyarat bahwa perjalanan belum berakhir. Final Piala Dunia 2026 menjadi penutup pahit, tetapi sambutan di Ezeiza mengirimkan satu pesan jelas: Argentina tetap berdiri, siap menatap babak berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User