Air Mata Irianto dan Malam Bersejarah Persebaya di Piala Presiden 2026

Skor akhir 2-1 untuk Persebaya Surabaya atas Persib Bandung menutup partai final Piala Presiden 2026 yang berlangsung panas di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam. Gol sundulan Rachm...

Aug 09, 2026 - 00:50
0 0
Air Mata Irianto dan Malam Bersejarah Persebaya di Piala Presiden 2026

Skor akhir 2-1 untuk Persebaya Surabaya atas Persib Bandung menutup partai final Piala Presiden 2026 yang berlangsung panas di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam. Gol sundulan Rachmat Irianto pada menit ke-81 menjadi penentu kemenangan, dan begitu wasit meniup peluit panjang, sang kapten langsung ambruk berlutut di tengah lapangan. Air mata mengalir deras di wajahnya — bukan air mata biasa, melainkan luapan emosi seorang pemain yang akhirnya membawa klub kebanggaannya naik ke podium tertinggi.

Babak Pertama: Bajol Ijo Tancap Gas Sejak Menit Awal

Pelatih Persebaya menurunkan formasi 4-3-3 dengan Ernando Ari di bawah mistar, sementara trisula lini depan diisi Bruno Moreira, Malik Risaldi, dan Francisco Rivera. Persib membalas dengan skema 4-2-3-1 yang mengandalkan David da Silva sebagai ujung tombak. Persebaya langsung menggebrak sejak peluit dibunyikan. Menit ke-23, Malik Risaldi melepaskan umpan silang mendatar dari sisi kanan, dan Bruno Moreira menyambarnya dengan tendangan first time yang menghujam sudut kiri gawang. 1-0 untuk Bajol Ijo, dan tribun hijau Gelora Bung Karno meledak.

Statistik babak pertama menunjukkan dominasi tipis Persebaya dengan penguasaan bola 54 persen berbanding 46 persen. Persib bukan tanpa perlawanan — Ciro Alves dua kali menguji Ernando Ari lewat tembakan jarak jauh, tetapi sang kiper tampil sigap mengamankan gawangnya. Hingga turun minum, Persebaya mencatat 3 shots on target dari 7 percobaan, sementara Maung Bandung hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran. Satu kartu kuning masing-masing diterima gelandang kedua tim akibat duel keras di lini tengah.

Babak Kedua: Drama VAR dan Sundulan Penentu Sang Kapten

Persib keluar dari ruang ganti dengan intensitas berbeda. Tekanan beruntun akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-57. Ciro Alves mengirim umpan terobosan yang membelah pertahanan Persebaya, dan David da Silva menyelesaikannya dengan dingin ke tiang jauh. Skor imbang 1-1. Laga berubah menjadi perang urat syaraf — duel fisik terjadi di mana-mana, tempo meningkat drastis, dan wasit terpaksa mengeluarkan tiga kartu kuning tambahan dalam rentang sepuluh menit.

Ketegangan memuncak pada menit ke-70 ketika Persib mengklaim penalti setelah David da Silva jatuh di kotak terlarang. VAR turun tangan, wasit meninjau monitor di pinggir lapangan, dan keputusan akhir menyatakan bukan pelanggaran. Gelora Bung Karno bergemuruh. Sebelas menit berselang, momen yang dinanti akhirnya tiba. Tendangan sudut Francisco Rivera melengkung ke jantung pertahanan Persib, dan Rachmat Irianto — yang naik membantu serangan — melompat paling tinggi di antara kerumunan pemain. Sundulannya keras, terarah, dan tak terbendung. 2-1 pada menit ke-81. Di sisa waktu, termasuk lima menit injury time, Ernando Ari membuat satu penyelamatan krusial untuk mengunci kemenangan.

Air Mata Sang Kapten

Bagi Irianto, trofi ini terasa sangat personal. Pemain yang sempat meninggalkan Surabaya sebelum akhirnya kembali pulang itu tampil sebagai jenderal lini tengah sepanjang turnamen. Di laga final, ia mencatatkan akurasi umpan 89 persen dan memenangkan 7 duel udara — angka yang menegaskan peran vitalnya di kedua sisi permainan. Saat menerima medali dan mengangkat trofi, ia tak kuasa menahan tangis di hadapan puluhan ribu Bonek yang memadati tribun. "Ini untuk Surabaya. Ini untuk semua orang yang percaya kami bisa kembali juara," ucapnya singkat dengan suara bergetar seusai laga.

Sang pelatih memuji habis performa kaptennya. "Dia adalah simbol tim ini. Secara taktik dia menjalankan peran ganda — menjaga keseimbangan saat bertahan dan menjadi ancaman nyata saat situasi bola mati. Gol itu bukan kebetulan, itu buah kerja keras di sesi latihan," tuturnya dalam konferensi pers pascalaga.

Rekor Baru di Layar Kaca

Kemenangan Persebaya tak hanya bersejarah di atas lapangan. Laga final ini dilaporkan mencatat rating televisi tertinggi dalam sejarah Piala Presiden, melampaui capaian edisi-edisi sebelumnya. Duel dua tim dengan basis suporter terbesar di Indonesia terbukti menjadi magnet luar biasa — jutaan pasang mata menyaksikan lewat siaran televisi nasional, sementara angka penonton di platform streaming digital juga menembus rekor baru. Puncak jumlah penonton terjadi tepat saat gol Irianto tercipta dan pada momen pengangkatan trofi.

Secara keseluruhan, statistik akhir memperlihatkan laga yang berimbang: penguasaan bola 52-48 persen, shots on target 6 berbanding 4, total tembakan 13-10, dan sepak pojok 7-5 untuk keunggulan Persebaya. Namun sepak bola pada akhirnya soal siapa yang mampu memanfaatkan momen besar — dan malam itu, momen besar tersebut bernama Rachmat Irianto. Satu trofi prestisius sudah berada dalam genggaman. Kini Bajol Ijo membidik target yang lebih besar: menaklukkan kompetisi Liga 1 musim depan dengan skuat dan kepercayaan diri yang sedang berada di puncak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User