Oct 25, 2026
Olahraga

Veda Ega dan Mario Suryo Aji Bicara Peta Jalan Balap 2026

JAKARTA — Dua nama yang disebut-sebut sebagai tulang punggung masa depan balap motor Indonesia, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, tampil dalam sesi jumpa media di sebuah kedai kopi di kawasan Me...

Veda Ega dan Mario Suryo Aji Bicara Peta Jalan Balap 2026

JAKARTA — Dua nama yang disebut-sebut sebagai tulang punggung masa depan balap motor Indonesia, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji, tampil dalam sesi jumpa media di sebuah kedai kopi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026). Acara yang dikemas santai itu berubah menjadi semacam konferensi pers mini: keduanya membeberkan agenda kompetisi, target pribadi, sekaligus membahas dinamika teknis yang bakal mereka hadapi pada musim depan.

Sesi Nonformal, Beban Statistik Tetap Jadi Sorotan

Dipilihnya lokasi nonformal tidak mengurangi bobot substansi. Dalam sesi yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, pembahasan bergulir dari kesiapan fisik, program latihan, hingga catatan hasil di lintasan. Veda Ega Pratama yang dikenal agresif saat melakukan late braking menyatakan bahwa konsistensi menjadi pekerjaan rumah utamanya. Sepanjang musim yang baru saja bergulir, ia tercatat menyelesaikan lebih dari 80 persen lap balapan di posisi sepuluh besar, sebuah angka yang menurutnya belum cukup bila ingin bersaing di barisan depan.

"Setiap lap harus punya nilai. Bukan cuma cepat di satu sektor, tapi stabil dari tikungan pertama sampai tikungan terakhir," ujarnya dalam sesi tersebut.

Sementara itu, Mario Suryo Aji lebih menyoroti aspek manajemen balapan. Ia menilai kemampuan membaca gap antarpembalap dan memilih waktu menyerang menjadi pembeda antara finis di podium dan finis di luar enam besar. Data internal yang ia paparkan menunjukkan bahwa pada paruh kedua musim, rata-rata waktu putaran-nya membaik sekitar 0,3 detik dibanding seri-seri awal, indikasi bahwa adaptasi terhadap motor dan ban berjalan ke arah positif.

Formasi Tim dan Peran Starting Grid

Pembahasan tak berhenti di level individu. Keduanya menyoroti pentingnya struktur tim, mulai dari kepala mekanik, analis data, sampai fisioterapis. Dalam pendekatan yang mirip starting XI di sepak bola, susunan kru yang tepat menentukan bagaimana race plan dieksekusi. Veda menegaskan bahwa peran analis data kini nyaris setara dengan instruksi dari pit wall, terutama saat menentukan pilihan kompon ban dan strategi masuk pit.

"Kalau data bilang ban belakang mulai turun di lap ke-12, kami tidak bisa mengabaikannya. Itu bukan opini, itu angka," katanya.

Dari sisi Mario, hal serupa berlaku untuk persiapan sebelum balapan. Ia menyebut bahwa sesi free practice bukan lagi ajang mencari waktu terbaik semata, melainkan laboratorium untuk menguji setup dan simulasi balapan penuh. Ia bahkan menyebut pernah menempuh simulasi lebih dari 20 lap berturut-turut hanya untuk memastikan degradasi ban tetap terkendali.

Target Realistis, Mentalitas Juara

Ketika ditanya soal target, keduanya kompak menghindari klaim berlebihan. Veda menyebut target podium di setiap seri sebagai ukuran minimal, sementara Mario berbicara soal clean sheet dalam artian menyelesaikan balapan tanpa kesalahan fatal. Angka menjadi acuan: finis tanpa jatuh, tanpa penalti, dan tanpa kehilangan posisi akibat kesalahan sendiri.

"Balapan bukan soal siapa paling cepat di satu lap. Balapan soal siapa paling sedikit membuat kesalahan," ujar Mario.

Pernyataan itu sejalan dengan data. Pada seri-seri di mana ia finis, rata-rata posisinya berada di delapan besar. Sebaliknya, pada balapan yang diwarnai insiden, posisinya melorot jauh di luar sepuluh besar. Pola serupa juga terlihat pada Veda, yang rajin mencetak fastest lap namun belum selalu mulus mengonversinya menjadi hasil akhir.

Adaptasi Teknis dan Regulasi Musim Depan

Isu teknis menjadi bagian paling teknis dalam diskusi. Keduanya menyoroti perubahan regulasi yang menuntut penyesuaian gaya berkendara, terutama pada sektor pengereman dan keluar tikungan. Veda mengaku tengah melatih trail braking lebih dalam untuk mempertahankan kecepatan di apex, sedangkan Mario fokus pada throttle control untuk menjaga traksi ban belakang.

Keduanya juga menyinggung soal pentingnya kebugaran. Latihan beban, kardio, dan simulasi panas menjadi menu harian. Veda menyebut dirinya menjalani sesi latihan enam hari seminggu, sementara Mario menambahkan latihan visualisasi sebelum tidur untuk mempertajam memori lintasan.

Kolaborasi dan Kompetisi Internal

Meski bersaing di kelas yang berbeda, keduanya mengaku saling bertukar catatan. Kolaborasi semacam ini bukan hal baru, tetapi tetap menarik karena keduanya sama-sama berada di fase karier yang menentukan. Veda menyebut Mario sebagai sosok yang membantu saat ia kesulitan membaca karakter sirkuit tertentu, begitu pula sebaliknya.

"Kami berbagi informasi, tapi di lintasan tetap lawan. Tidak ada yang mau kalah," kata Veda.

Dengan agenda yang makin padat dan kompetisi yang makin ketat, sesi di Menteng itu menjadi penanda bahwa keduanya siap menghadapi musim depan. Bukan dengan klaim besar, melainkan dengan data, disiplin, dan rencana yang terukur. Publik boleh berharap, tetapi bagi Veda dan Mario, ekspektasi hanya bernilai bila diterjemahkan menjadi hasil di garis finis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User