Jakarta — Panggilan telepon dari Amsterdam itu datang hanya beberapa jam setelah peluit akhir berbunyi. Maarten Paes, kiper Timnas Indonesia, mengangkat telepon dari sosok yang sangat ia kagumi: Edwin van der Sar, legenda hidup sepak bola Belanda dan mantan penjaga gawang Manchester United serta Ajax Amsterdam. Momen tersebut terungkap setelah Indonesia memastikan gelar FIFA ASEAN Cup 2026, sebuah trofi yang mengakhiri puasa panjang sepak bola nasional di panggung regional.
Kiper 27 Tahun dan Sosok Panutan Sejak di Belanda
Paes dan Van der Sar memang memiliki akar yang sama: keduanya lahir dan tumbuh besar di Belanda, menimba ilmu di sistem pembinaan negara yang terkenal disiplin dalam melahirkan penjaga gawang kelas dunia. Paes mengawali karier profesionalnya di FC Utrecht, lalu menjalani karier di MLS bersama FC Dallas sebelum akhirnya memilih membela Tim Garuda lewat jalur naturalisasi.
Sepanjang turnamen, Paes tampil sebagai tembok terakhir dengan statistik yang tidak bisa dibantah. Ia mencatat lima clean sheet dari tujuh pertandingan yang ia mainkan, dengan rasio penyelamatan mencapai 81 persen. Di partai puncak, ia mencatatkan empat penyelamatan krusial, termasuk sebuah refleks cepat di menit ke-78 yang menggagalkan peluang emas lawan dari jarak dekat. Penguasaan bola Indonesia di laga final memang hanya 47 persen, tetapi Indonesia unggul telak dalam efektivitas: enam shots on target berbanding dua milik lawan.
Panggilan Van der Sar bukan sekadar ucapan selamat biasa. Menurut pengakuan Paes, pria berusia 55 tahun itu menyempatkan diri membahas detail teknis: cara Paes membaca arah bola pada situasi one-on-one, posisi tubuh saat menghadapi eksekusi penalti, hingga mentalitas yang dibutuhkan kiper ketika bermain di depan puluhan ribu suporter yang menuntut kemenangan.
Van der Sar Apresiasi Perkembangan Sepak Bola Indonesia
Yang membuat panggilan itu istimewa adalah nada apresiasi terhadap sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Van der Sar dikabarkan menyebut peningkatan kompetisi domestik dan pembinaan usia muda Indonesia sebagai salah satu perkembangan paling menarik di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai keberanian federasi menggaet pemain diaspora berkualitas justru mempercepat kurva belajar tim nasional.
"Dia bilang ini baru awal. Jangan berhenti di satu trofi," kata Paes menirukan pesan Van der Sar seusai laga. "Dia melihat sepak bola Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar."
Perjalanan Indonesia menuju juara memang tidak mulus. Di fase grup, starting XI racikan pelatih sempat diragukan setelah hanya meraih satu kemenangan dan dua imbang. Formasi 4-3-3 yang dipakai cenderung berubah menjadi 4-2-3-1 saat bertahan, dengan kedua winger turun membantu lini tengah. Perubahan itu terbukti menekan ruang lawan dan membuat Paes lebih jarang menghadapi tekanan langsung.
Di babak semifinal, Indonesia menang 2-0. Gol pembuka lahir pada menit ke-34 lewat sepakan kaki kanan dari tepi kotak penalti, sementara gol kedua datang pada menit ke-81 melalui serangan balik cepat yang diawali assist dari sisi kiri. Sepanjang turnamen, Indonesia mengoleksi 14 gol dan hanya kebobolan tiga, angka yang menegaskan keseimbangan antara lini serang dan pertahanan.
Yang menarik, peran Paes tidak berhenti sebagai penjaga gawang. Ia tercatat sebagai salah satu kiper dengan akurasi distribusi panjang tertinggi, mencapai 68 persen. Kemampuannya memulai serangan dari bawah membuat Indonesia sering melewati pressing lawan hanya dengan dua hingga tiga umpan. Dalam beberapa situasi, ia bahkan berperan layaknya sweeper keeper, keluar dari sarangnya untuk menyapu bola di belakang garis pertahanan.
Jejak Van der Sar dan Masa Depan Tim Garuda
Apresiasi dari Van der Sar terasa istimewa karena rekam jejaknya berbicara sendiri: empat gelar Liga Champions, dua trofi Liga Europa, serta lebih dari 130 penampilan bersama Timnas Belanda. Ia dikenal sebagai salah satu kiper paling tenang dalam menghadapi tekanan, dan justru kualitas itulah yang sedang dipelajari Paes.
Kemenangan di FIFA ASEAN Cup 2026 memberi Indonesia tiket ke kompetisi yang lebih bergengsi sekaligus modal kepercayaan diri menghadapi kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia. Tantangan berikutnya jauh lebih berat: lawan-lawan dari Asia Timur dan Timur Tengah yang memiliki kedalaman skuad dan jam terbang lebih tinggi.
Namun untuk malam itu, sebuah panggilan telepon dari Amsterdam menjadi penutup sempurna bagi perjalanan panjang Tim Garuda. Bagi Paes, pesan Van der Sar sederhana tetapi menusuk: kiper hebat bukan hanya yang bisa menyelamatkan gawang, melainkan yang mampu membuat seluruh tim percaya bahwa mereka tidak akan kalah. Dengan trofi di tangan dan telepon dari idolanya, kiper 27 tahun itu kini tahu persis apa yang harus ia kejar berikutnya.
Comments (0)