UMKM Tembus Pasar China, Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat
Jakarta, Beritainti.com – Perekonomian Indonesia tengah diwarnai dua dinamika kontras. Di satu sisi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kian agresif m
Jakarta, Beritainti.com –
Perekonomian Indonesia tengah diwarnai dua dinamika kontras. Di satu sisi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kian agresif menembus pasar internasional, terutama China, berkat pendampingan dari platform penghubung bisnis. Namun di sisi lain, laporan terbaru memperkirakan jumlah orang super kaya atau high net worth individuals (HNWI) di Indonesia akan tumbuh paling cepat di dunia dalam lima tahun ke depan, sementara kelas menengah justru menyusut secara mengkhawatirkan.
Next Step Memperkuat Jembatan Dagang UMKM ke China
Platform Next Step terus memfasilitasi konektivitas bisnis antara pelaku UMKM Indonesia dengan pasar China. Melalui program pendampingan ekspor, perusahaan rintisan ini membantu UMKM mengatasi tantangan regulasi, logistik, hingga adaptasi budaya bisnis.
“Kami percaya UMKM Indonesia punya produk-produk unggulan yang bisa bersaing di China. Tugas kami adalah memberi jalan pintas agar mereka tidak tersesat di tengah kompleksitas birokrasi dan standar kualitas Negeri Tirai Bambu,” ujar Diana Kusuma, CEO Next Step, saat ditemui di sela-sela acara Indonesia-China Business Forum di Jakarta, Senin (25/12/2023).
Sejak diluncurkan awal 2023, Next Step telah mendampingi lebih dari 520 UMKM dari berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, kerajinan, fesyen muslim, hingga produk halal. Para pelaku usaha ini mendapat bimbingan mulai dari kurasi produk, sertifikasi (termasuk sertifikasi halal yang diakui otoritas China), negosiasi dengan buyer, hingga pengurusan dokumen ekspor.
China sendiri disebut sebagai pasar strategis. Dengan populasi muslim mencapai sekitar 28 juta jiwa serta meningkatnya kesadaran akan produk halal, permintaan terhadap barang-barang buatan Indonesia—terutama makanan ringan, rempah-rempah, dan busana muslim—terus melonjak. Dalam catatan Next Step, transaksi gabungan para UMKM binaannya ke China pada semester kedua 2023 telah menembus Rp 187 miliar.
- Pendampingan ekspor meliputi pelatihan branding, legalitas, dan promosi digital via platform e-commerce China.
- UMKM didorong mengikuti pameran dagang virtual maupun fisik di Shanghai dan Guangzhou.
- Model bisnis Next Step menggabungkan layanan berbayar dan komisi dari transaksi yang berhasil.
“Yang paling diminati saat ini adalah kopi spesialti, rendang kemasan, batik kontemporer, dan suplemen herbal. Kesadaran konsumen China akan produk alami dan premium membuka peluang besar,” tambah Diana.
Ledakan Populasi Super Kaya dan Anomali Kelas Menengah
Di tengah gairah ekspansi UMKM, Indonesia mencatat proyeksi pertumbuhan jumlah orang super kaya tertinggi di dunia. Menurut Knight Frank dalam Wealth Report 2024, populasi HNWI—individu dengan kekayaan bersih di atas US$1 juta (setara Rp15,6 miliar)—di Indonesia diperkirakan naik 7% per tahun hingga 2028. Angka ini melampaui negara-negara seperti India (6,5%), Vietnam (6,2%), dan bahkan China (5,8%).
Laporan tersebut menyebut terdapat sekitar 82.000 HNWI di Indonesia pada 2023, dan jumlah ini bisa menembus 115.000 jiwa pada 2028. Faktor pendorongnya antara lain kenaikan harga komoditas (batu bara, nikel, sawit) yang memberi keuntungan besar bagi para konglomerat energi dan tambang, serta geliat ekonomi digital yang menelurkan banyak unicorn dan pemodal ventura.
Namun, pertumbuhan super kaya ini berjalan tidak seiring dengan nasib kelas menengah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sekitar 9,5 juta jiwa dari kelompok pendapatan menengah turun kelas ke kelompok rentan miskin sepanjang 2019-2023. Penyebab utamanya adalah pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan inflasi pangan, kenaikan suku bunga, serta stagnasi upah riil.
- Pengeluaran kelas menengah untuk makanan naik 31% dalam tiga tahun terakhir, menggerus tabungan dan kemampuan investasi.
- PHK di sektor padat karya—tekstil, alas kaki, garmen—terus berlangsung akibat tekanan barang impor murah.
- Proporsi kelas menengah terhadap total penduduk turun dari 21,3% (2019) menjadi 17,8% (data awal 2024), sementara proporsi kelompok miskin dan rentan naik menjadi sekitar 44%.
Kesenjangan yang Membayangi Stabilitas Ekonomi
Kontras antara cerita sukses UMKM yang menaklukkan China dengan fenomena super kaya yang kian dominan telah memantik kekhawatiran di kalangan ekonom. Dr. Hendra Prasetya, ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), menilai situasi ini ibarat dua sisi mata uang yang bisa memicu ketimpangan sosial jika tidak dikelola dengan hati-hati.
“Peningkatan jumlah orang super kaya menandakan ada potensi investasi dan konsumsi kelas atas yang besar. Namun ketika kelas menengah terus tergerus, basis konsumsi domestik yang menjadi penopang 55% PDB akan melemah. Ini dapat memicu efek domino: rendahnya permintaan, kontraksi industri, hingga meningkatnya angka kemiskinan,” paparnya.
Hendra menyarankan pemerintah mempercepat program perlindungan sosial yang lebih terarah, seperti bantuan langsung tunai bersyarat, subsidi transportasi, serta insentif bagi industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Di saat yang sama, suksesnya platform seperti Next Step semestinya direplikasi ke lebih banyak sektor dan negara tujuan ekspor, agar UMKM menjadi katup pelepas tekanan (release valve) bagi penyempitan lapangan kerja formal di dalam negeri.
Adapun dari sisi kebijakan, beberapa kalangan DPR mendorong revisi Undang-Undang UMKM agar alokasi kredit usaha rakyat (KUR) diperluas hingga Rp100 juta per debitur dengan bunga lebih rendah, serta memudahkan koperasi dan UMKM bermitra dengan supply chain global. Jika momentum positif ekspor UMKM bisa terus digenjot dan dibarengi pengamanan kelas menengah, Indonesia berpeluang menciptakan pemulihan ekonomi yang lebih inklusif.
Di sinilah ironi tersembunyi: Indonesia mungkin akan mencetak lebih banyak miliarder baru, tetapi jika kelas menengah terus menyusut, fondasi konsumsi nasional justru rapuh. Keberhasilan ekspor UMKM diharapkan bukan hanya menjadi cerita segelintir pengusaha tangguh, melainkan pijakan awal bagi transformasi ekonomi yang adil.
Comments (0)