Fenomena Embun Upas Landa Dieng, Suhu Capai Minus 6 Derajat
Dataran tinggi Dieng kembali diselimuti fenomena embun upas. Suhu udara di kawasan wisata andalan Jawa Tengah itu anjlok hingga -6 derajat Celsius, menjadi
Dataran tinggi Dieng kembali diselimuti fenomena embun upas. Suhu udara di kawasan wisata andalan Jawa Tengah itu anjlok hingga -6 derajat Celsius, menjadi rekor terendah sepanjang tahun ini. Lapisan es tipis yang menyelimuti daun-daun tanaman dan rerumputan menciptakan pemandangan eksotis, namun di balik keindahannya tersimpan ancaman serius bagi sektor pertanian, terutama tanaman kentang yang menjadi andalan ekonomi warga.
Berdasarkan data pemantauan Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, suhu ekstrem ini tercatat pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Petugas teknis dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Pariwisata Dieng menyebut fenomena kali ini merupakan yang paling parah dibandingkan dua musim kemarau sebelumnya. “Ini suhu terendah yang pernah kami catat tahun ini. Biasanya minus 2 atau minus 3, sekarang tembus minus 6,” ujar salah satu petugas saat dihubungi.
Apa Itu Embun Upas?
Secara meteorologis, embun upas adalah embun beku (frost) yang muncul akibat pendinginan radiasi di malam hari saat langit cerah dan angin tenang. Proses ini sangat intens di dataran tinggi seperti Dieng yang berada pada elevasi sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Uap air di udara langsung mengkristal menjadi lapisan es tanpa melalui fase cair terlebih dahulu; fenomena ini disebut desublimasi. Dinamakan “upas” karena diibaratkan seperti racun mematikan bagi tanaman jika terpapar terlalu lama. Tanaman yang membeku akan mengalami kerusakan sel sehingga layu dan mati.
Dampak Langsung pada Sektor Pertanian
Tanaman kentang adalah korban paling rentan. Lahan pertanian di sekitar Desa Dieng Kulon, Desa Sikunang, dan Batur yang menjadi sentra kentang terpantau mulai menguning dan layu. Petani setempat, Suwarno (45), mengaku panik saat mendapati daun-daun kentangnya mengeras seperti kaca.
“Saya sudah 20 tahun bertani di sini. Suhu sedingin ini jarang sekali terjadi. Kalau berlanjut, bisa gagal panen total. Satu hektar bisa rugi sampai Rp60 juta,” kata Suwarno dengan nada cemas.
Tidak hanya kentang, tanaman sayuran lain seperti kubis, wortel, dan carica yang tumbuh di ladang terbuka juga terancam. Beberapa petani terpaksa menggelar plastik mulsa atau mengalirkan air untuk menciptakan termal air sebagai pelindung darurat, namun skala luas masih sulit dilakukan.
Penjelasan Ilmiah: Mengapa Suhu Anjlok?
Kondisi ini dipicu oleh dominasi musim kemarau yang sangat kering. Langit bebas awan memungkinkan pelepasan radiasi gelombang panjang bumi ke atmosfer secara maksimal pada malam hari, sehingga suhu permukaan turun drastis. Selain itu, angin gradient yang lemah menyebabkan tidak terjadi pencampuran udara sehingga kantong udara dingin terkumpul di dekat permukaan. Menurut data BMKG, indeks kelembaban udara di Dieng juga sangat rendah, mempercepat penurunan suhu minimum harian.
| Tanggal | Suhu Minimum (°C) | Fenomena |
|---|---|---|
| 12 Juli 2025 | -6,0 | Embun upas parah |
| 11 Juli 2025 | -3,5 | Embun beku ringan |
| 10 Juli 2025 | -2,0 | Normal |
| 9 Juli 2025 | 0,5 | Tanpa embun |
“Pendinginan radiasi yang ekstrem karena keringnya atmosfer adalah kombinasi ideal terbentuknya frost. Ini masih akan terjadi hingga beberapa hari ke depan jika kondisi langit cerah bertahan,” jelas Ika Dewi, prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang.
Respon Petani dan Upaya Mitigasi
Menghadapi ancaman gagal panen, petani di Dieng melakukan berbagai cara. Selain menutup tanaman dengan plastik, mereka melakukan penyiraman tambahan di pagi buta untuk mencairkan kristal es yang menempel sebelum sinar matahari menyebabkan kerusakan lebih parah melalui efek luka bakar. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Banjarnegara pun sigap menurunkan petugas penyuluh untuk membantu mitigasi. Bantuan benih varietas tahan dingin seperti kentang Granola dan Traktor mulai disalurkan ke kelompok tani.
Kepala UPT Pengelola Pariwisata Dieng, Ahmad Fauzi, menambahkan bahwa fenomena ini justru menjadi daya tarik wisatawan. “Banyak pengunjung yang sengaja datang subuh-subuh demi melihat embun es. Namun kami tetap mengimbau mereka berpakaian tebal dan berhati-hati karena jalan licin,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan prioritas tetap pada perlindungan tanaman pertanian karena menyangkut hajat hidup warga.
Fenomena embun upas di Dieng adalah peringatan alam tentang rapuhnya ketahanan pangan di dataran tinggi saat musim kemarau ekstrem. Kolaborasi pemerintah, ahli cuaca, dan petani menjadi kunci menghadapi ancaman yang kian sering terjadi akibat variabilitas iklim.
[SOCIAL_TWEET]: Suhu Dieng sentuh -6°C, embun upas kembali selimuti dataran tinggi. Petani kentang cemas gagal panen, wisatawan tetap antusias. Fenomena alam ini jadi yang terdingin tahun ini. #Dieng #EmbunUpas #CuacaEkstrem[SOCIAL_TG]: ❄️ Suhu Dieng tadi subuh capai -6°C, embun es selimuti lahan kentang. Petani was-was gagal panen. Berita lengkap ada di link.
Comments (0)