Festival Remo Yosakoi Surabaya Tampilkan Kolaborasi Budaya Indonesia-Jepang
Minggu siang di kota Surabaya, langit cerah menyaksikan geliat budaya yang tak biasa. Di pelataran Taman Bungkul yang ikonik, ratusan pasang mata tertuju p
Minggu siang di kota Surabaya, langit cerah menyaksikan geliat budaya yang tak biasa. Di pelataran Taman Bungkul yang ikonik, ratusan pasang mata tertuju pada para penari yang menunggu giliran. Mereka bukan penari biasa; kostum mereka memadukan busana tradisional Jawa Timur dengan aksesori ala festival Jepang. Inilah Festival Remo Yosakoi, perhelatan tahunan yang telah menjadi simbol persahabatan dua bangsa.
‘Para penari menunggu giliran untuk menampilkan tarian Yosakoi saat kegiatan Festival Remo-Yosakoi di Surabaya, Minggu, 12 Juli 2026,’ demikian potret yang diabadikan oleh fotografer AFP, Juni Kriswanto. Namun di balik momen tunggu yang tampak tenang, tersimpan semangat dan energi luar biasa yang siap meledak dalam tiap gerakan.
Ketika Remo Bertemu Yosakoi: Lebih dari Sekadar Tarian
Remo merupakan tari tradisional khas Jawa Timur yang menggambarkan kegagahan prajurit dengan gerakan dinamis dan ritme gamelan yang kuat. Sementara Yosakoi adalah tarian kontemporer Jepang yang lahir di Prefektur Kochi pada 1954, menggabungkan unsur tarian rakyat dengan musik modern. Di Surabaya, kedua jenis tarian ini bertemu dalam sebuah koreografi hibrida yang spektakuler.
Setiap grup menampilkan ratusan penari yang bergerak kompak. Mereka membawa naruko—alat musik kayu tradisional Jepang yang menghasilkan bunyi klik-kritik khas—sekaligus mempertahankan langkah-langkah gagah ala remo. Musik pengiring pun hasil fusi: kendang dan bonang bertemu synthesizer dan drum elektrik. Hasilnya adalah perpaduan yang memukau, menyatukan filosofi gerak dari dua peradaban.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang. Justru lewat tari, kami menemukan bahasa universal untuk saling menghargai,” ujar Rina Suryani, koordinator acara dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya.
Peserta dari Berbagai Kalangan dan Generasi
Festival ini bukan milik profesional semata. Ratusan peserta berasal dari pelajar SD hingga komunitas lansia. Sekolah-sekolah di Surabaya telah memasukkan workshop Remo Yosakoi ke dalam kurikulum ekstrakurikuler sebagai bagian dari pendidikan multikultural. Sementara itu, kelompok ibu-ibu PKK dari berbagai kecamatan turut memeriahkan dengan formasi segar.
- Kategori pelajar: 45 tim dari SMP dan SMA se-Surabaya.
- Kategori umum: 32 komunitas tari, sanggar, dan grup independen.
- Kategori lintas generasi: 8 grup campuran usia 15–70 tahun.
Setiap penampilan dinilai oleh dewan juri gabungan, termasuk master tari Remo dari Sanggar Tari Beskalan Malang dan koreografer Yosakoi asal Jepang yang secara khusus diundang. Tak heran, nuansa persaingan sehat berbaur dengan kemeriahan kostum penuh warna.
Warna-warni Kostum dan Aksesori
Dari segi visual, festival ini adalah pesta mata. Penari mengenakan kain batik khas Jawa Timur sebagai bawahan, dipadukan dengan happi—jaket tradisional Jepang—yang dihias motif mangga dan bambu, simbol Surabaya. Riasan wajah pun menonjolkan garis tegas, mengingatkan pada karakter topeng Jawa, sementara topi khas Yosakoi bertengger di kepala lengkap dengan hiasan bunga tropis.
Tak ketinggalan, properti tari menjadi pusat perhatian. Naruko dicat dengan ukiran ornamen surya Majapahit, sebuah adaptasi yang mendapat apresiasi dari tamu Jepang. “Ini pertama kalinya saya melihat naruko dengan sentuhan budaya Indonesia. Sangat kreatif,” kata Hiroshi Takeda, salah satu juri dari Kochi Yosakoi Association.
Membangun Jembatan Budaya Sejak 2018
Festival Remo Yosakoi pertama kali digelar pada 2018 sebagai bagian dari perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Inisiatif ini lahir dari kunjungan seniman tari asal Surabaya ke Kochi, yang kemudian terinspirasi untuk mencampurkan dua tradisi. Sejak saat itu, acara ini berkembang pesat dan menjadi salah satu ikon wisata kota Pahlawan.
Pada tahun ini, jumlah penonton diperkirakan mencapai 12.000 orang, termasuk wisatawan mancanegara. Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh dengan menyediakan panggung megah, zona kuliner, dan pameran kerajinan tangan yang menampilkan produk-produk artisan hasil kolaborasi Indonesia-Jepang.
Selain pertunjukan, diadakan pula diskusi budaya yang mengeksplorasi kemungkinan fusi tari lainnya. Para akademisi dari Universitas Airlangga mengemukakan bahwa fenomena Remo Yosakoi adalah contoh konkret dari hybrid culture yang memperkaya khazanah lokal tanpa menghilangkan akar tradisi.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, panitia berencana membawa festival ini ke tingkat internasional, dengan mengundang peserta dari negara-negara lain yang memiliki tarian tradisional serupa. Rencana kolaborasi dengan Festival Yosakoi di Vietnam dan India mulai dibahas. Bagi Surabaya, Remo Yosakoi bukan hanya hiburan, melainkan juga pernyataan identitas: kota yang terbuka, inklusif, dan terus bergerak.
“Kami ingin anak-anak muda bangga pada budaya sendiri, sambil tetap bisa berdialog dengan budaya global. Remo Yosakoi adalah buktinya,” tutup Rina.
Di ujung acara, saat matahari mulai condong ke barat, ribuan penari berkumpul dalam flash mob kolosal yang mengguncang pelataran taman. Bunyi naruko bergemuruh bersahut-sahutan, menciptakan simfoni persatuan yang akan terus dikenang.
[SOCIAL_TWEET]: Ratusan penari padukan gagahnya Remo & enerjiknya Yosakoi dalam Festival Remo Yosakoi Surabaya 2026. Kolaborasi budaya Indonesia-Jepang yang makin mempererat persahabatan. 🇮🇩🇯🇵 #FestivalRemoYosakoi #Surabaya #BudayaDunia[SOCIAL_TG]: 🎌 Selamat siang Sobat Budaya! Ada kabar ceria dari Surabaya. Festival Remo Yosakoi sukses gelar kolaborasi unik Indonesia-Jepang. Penasaran seperti apa keseruannya? Baca selengkapnya di tautan ini ya! ⬇️
Comments (0)