UMKM Mandalika Panen Cuan di Gelaran MotoGP

Lapangan parkir timur Sirkuit Mandalika menjelma jadi pusat keramaian sejak pagi. Bukan karena parade pembalap, melainkan karena ratusan tenda pedagang UMKM yang menjajakan merchandise MotoGP. Minggu ...

Oct 14, 2026 - 18:23
0 0
UMKM Mandalika Panen Cuan di Gelaran MotoGP

Lapangan parkir timur Sirkuit Mandalika menjelma jadi pusat keramaian sejak pagi. Bukan karena parade pembalap, melainkan karena ratusan tenda pedagang UMKM yang menjajakan merchandise MotoGP. Minggu (11/10/2026) menjadi hari puncak bagi para pelaku usaha mikro yang mengadu peruntungan di balik gemerlap ajang balap kelas dunia tersebut.

Sepanjang jalan menuju gerbang utama, deretan kaos, topi, jaket, hingga gantungan kunci bertema MotoGP dipajang. Sorak penonton yang baru turun dari bus dan kendaraan pribadi langsung disambut tawaran dagangan. Dari jam 07.00 WITA, arus pembeli mulai deras. Tidak sedikit yang rela antre demi mendapatkan suvenir resmi maupun edisi tiruan dengan harga lebih ramah kantong.

"Alhamdulillah, dari pagi sudah ramai. Kaos paling laku, apalagi yang ada logo sirkuit," ujar salah seorang pedagang asal Praya, Lombok Tengah, sambil melayani pembeli. Ia mengaku menyiapkan 500 potong kaos dengan berbagai ukuran. Dalam hitungan jam, lebih dari separuhnya terjual.

Perputaran Uang Pedagang UMKM di Area Luar Sirkuit

Data yang dihimpun dari sejumlah pedagang menunjukkan lonjakan transaksi yang signifikan dibanding hari biasa. Rata-rata omzet harian pedagang merchandise di area luar sirkuit menembus Rp 8 juta hingga Rp 15 juta per lapak. Angka itu melesat jauh dibanding hari biasa yang hanya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.

Komposisi pembeli pun beragam. Selain penonton domestik, sejumlah turis asing terlihat memilih topi dan syal bertuliskan "Mandalika". Mereka datang dari Malaysia, Singapura, Australia, hingga Eropa. Transaksi pun tak jarang memakai kartu debit dan dompet digital, mengingat sebagian pedagang telah menyiapkan mesin EDC sederhana.

"Kalau pengunjung asing, biasanya beli dua sampai tiga item sekaligus. Mereka lebih suka desain minimalis, warna netral," kata pedagang lain yang menjual aksesori. Penguasaan pasar merchandise non-resmi memang menjadi ceruk tersendiri. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 75 ribu untuk kaos, Rp 50 ribu untuk topi, dan Rp 25 ribu untuk gantungan kunci.

Meski demikian, tidak semua pedagang meraup untung besar. Beberapa mengeluh karena persaingan ketat dan cuaca panas yang menyengat. "Saya bawa 200 topi, baru terjual 60. Tapi tetap syukur, daripada tidak sama sekali," ujar seorang pedagang asal Mataram.

Dampak Ekonomi Bergulir hingga Kuliner dan Parkir

Geliat UMKM tidak hanya terjadi di merchandise. Lapak kuliner, penyewaan kursi lipat, hingga jasa parkir ikut kecipratan rezeki. Seorang penjual air mineral mengaku mampu menjual 40 dus dalam sehari. Sementara itu, pendapatan tukang parkir di area informal bisa mencapai Rp 1,5 juta per orang.

Pemerintah daerah mencatat ada sekitar 1.200 pedagang yang berjualan di sekitar sirkuit selama rangkaian MotoGP. Mereka tersebar di zona A hingga zona D. Sebagian besar merupakan warga lokal yang telah mendapat pelatihan manajemen usaha dan kebersihan.

"Kami dorong UMKM naik kelas. Bukan hanya jualan, tapi juga menjaga kualitas produk dan pelayanan," ujar seorang petugas dinas koperasi dan UKM. Ia menambahkan, evaluasi akan dilakukan untuk memastikan tidak ada pedagang yang dirugikan akibat penataan zona.

"Event ini bukan cuma soal balapan. Ini tentang bagaimana masyarakat lokal bisa mengambil manfaat ekonomi sebesar-besarnya. Kami ingin dampaknya terasa hingga ke desa-desa," ujar seorang pejabat setempat.

Persaingan Merchandise Resmi vs Non-Resmi

Di sisi lain, penjualan merchandise resmi di dalam sirkuit juga mencatatkan angka positif. Booth resmi MotoGP melaporkan penjualan kaos edisi terbatas habis dalam waktu tiga jam sejak gerbang dibuka. Namun, harga yang mencapai Rp 450 ribu membuat sebagian penonton beralih ke pedagang luar.

Fenomena ini menciptakan dua kutub pasar. Merchandise resmi menyasar kolektor dan penggemar berat, sementara produk UMKM menyasar penonton kasual dengan anggaran terbatas. Keduanya saling melengkapi, bukan saling mematikan.

Seorang pengamat ekonomi pariwisata menilai, ajang MotoGP memberikan efek berganda yang nyata. Dengan lebih dari 100 ribu penonton yang hadir selama tiga hari, perputaran uang di sektor informal diperkirakan menembus Rp 50 miliar. Angka itu belum termasuk sektor akomodasi, transportasi, dan kuliner.

Menjelang sore, tenda-tenda mulai mengemas sisa dagangan. Wajah lelah bercampur senyum. Beberapa pedagang berencana menambah stok untuk musim balap berikutnya. "Kalau bisa setiap tahun seperti ini. Kami siap," pungkas seorang pedagang sambil melipat spanduk.

Bagi Lombok Tengah, Sirkuit Mandalika bukan sekadar trek balap. Ia telah menjadi panggung ekonomi bagi ribuan keluarga. Dari kaos hingga gantungan kunci, dari tenda hingga gerobak, semuanya berbicara tentang satu hal: peluang yang datang bersama deru motor balap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User