Tawa Suporter Norwegia Berubah Duka di Perempat Final
Langit Oslo sore itu dihiasi senyum ribuan wajah. Di seantero negeri, dari Frognerparken hingga layar raksasa di Bergen, para suporter timnas Norwegia berkumpul untuk nonton bareng laga perempat final...
Langit Oslo sore itu dihiasi senyum ribuan wajah. Di seantero negeri, dari Frognerparken hingga layar raksasa di Bergen, para suporter timnas Norwegia berkumpul untuk nonton bareng laga perempat final Piala Dunia. Mereka datang dengan kostum merah-biru, bendera, dan keyakinan bahwa sejarah baru akan tercipta. Siapa sangka, tawa yang meledak di menit ke-12 berubah menjadi air mata saat peluit panjang berbunyi: Norwegia takluk 2-1 dari Brasil dalam drama yang mematahkan hati.
Pertandingan yang digelar Minggu (12/7) waktu setempat itu diawali dengan intensitas tinggi. Drillos, julukan tim asuhan Lars Lagerbäck muda, tampil tanpa beban. Menit ke-12, sebuah serangan balik cepat yang dibangun Martin Ødegaard dari lini tengah berujung umpan terobosan ke Erling Haaland. Striker Manchester City itu melewati dua bek lalu melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangkau kiper. Skor 1-0. Stadion di MetLife, New Jersey, bergemuruh, namun yang lebih memekakkan telinga adalah jeritan histeris dari ribuan titik nobar di Norwegia. "Kami pikir ini akan menjadi malam ajaib," kenang seorang suporter di Oslo.
Kebangkitan Brasil dan Kartu Merah yang Mematikan
Namun, sepak bola punya skenario kejam. Brasil, dengan pengalaman lima gelar juara dunia, perlahan mengambil alih kendali. Menit ke-37, Vinícius Júnior menusuk dari sisi kiri, melewati Julian Ryerson, dan melepaskan umpan silang yang ditanduk Rodrygo ke sudut gawang. Kiper Ørjan Nyland hanya terpaku. Skor imbang 1-1, suasana nobar mendadak senyap.
Babak kedua berjalan lebih keras. Norwegia mencoba menekan, tetapi petaka datang di menit ke-68. Kapten Ødegaard, yang sudah mengantongi kartu kuning, melakukan tekel terlambat pada Bruno Guimarães. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua, lalu kartu merah. Norwegia harus bermain dengan sepuluh orang. Ribuan suporter di berbagai kota tertunduk, sebagian menutup muka dengan syal.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Brasil untuk mendikte permainan. Menit ke-79, umpan terukur Lucas Paquetá menemukan Endrick di kotak penalti. Pemain muda Real Madrid itu memutar badan dan melepaskan tendangan melengkung ke pojok atas gawang. Gol. 2-1 untuk Brasil. Layar besar di Frognerparken menampilkan wajah-wajah putus asa. Tangis anak-anak pecah, orang dewasa saling berpelukan dalam diam.
Statistik Bicara: Keunggulan yang Tak Cukup
Secara angka, Norwegia sejatinya tidak terlalu inferior. Penguasaan bola mereka 42% berbanding 58% milik Brasil. Tembakan tepat sasaran Norwegia mencatat 4, sementara Brasil melepaskan 7. Haaland sendiri mencatat 3 tembakan, 2 tepat sasaran, dan satu gol. Umpan kunci Ødegaard mencapai 3 sebelum ia terusir. Disiplin taktik Lagerbäck yang mengandalkan formasi 4-4-2 bertahan sebenarnya mampu meredam trio samba di babak pertama. Namun, kartu merah adalah titik balik. Setelah insiden itu, Brasil menciptakan 5 peluang emas dan nyaris menambah gol lewat tendangan bebas Vinícius yang membentur mistar.
Di sisi lain, penguasaan bola Brasil yang dominan di babak kedua—mencapai 67%—menekan Norwegia hingga hanya mampu mencatat satu tembakan setelah menit ke-68. Solidnya lini belakang yang dikawal Éder Militão dan Marquinhos membuat Haaland terisolasi. Kiper Alisson Becker hanya perlu melakukan satu penyelamatan krusial dari sundulan Alexander Sørloth di menit akhir.
Reaksi Pelatih dan Gelombang Kekecewaan
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Lagerbäck tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
"Kami memulai dengan sangat baik, skema berjalan sempurna sampai kartu merah itu. Martin sudah bermain brilian, tapi satu momen mengubah segalanya. Saya bangga pada para pemain, mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Tapi rasa sakit ini akan membekas,"ujarnya dengan suara bergetar. Pelatih asal Swedia itu juga menyoroti penampilan Haaland: "Erling adalah monster, dia selalu memberikan ancaman. Sayang, kami tak bisa memberinya lebih banyak dukungan."
Sementara itu, di berbagai sudut Norwegia, reaksi publik campur aduk antara bangga dan patah hati. Media sosial dibanjiri tagar #StolteAvNorge (Bangga pada Norwegia) dan #ViKommerTilbake (Kami Akan Kembali). Sebuah unggahan viral memperlihatkan seorang ayah yang menggendong anaknya yang menangis setelah gol kedua Brasil. Di Trondheim, sekelompok suporter tetap bernyanyi "Ja, vi elsker dette landet" hingga pertandingan usai, meski air mata mengalir.
Kekalahan ini mengakhiri perjalanan terbaik Norwegia di Piala Dunia sejak 1998. Sebelumnya, mereka sukses menyingkirkan Kroasia di babak 16 besar lewat adu penalti dramatis. Kegagalan di perempat final menjadi tamparan yang menyadarkan bahwa jalan menuju elite sepak bola dunia masih panjang. Namun, dengan skuad muda bertabur bintang seperti Haaland (24 tahun), Ødegaard (27), dan Antonio Nusa (21), masa depan tim nasional ini tetap bersinar.
Di Nobar pusat Oslo, setelah layar mati dan lampu menyala, ribuan suporter pulang dengan langkah gontai. Seorang pria paruh baya bernama Ole menggambarkan perasaannya: "Tawa di menit 12 terasa seperti keabadian. Tapi inilah sepak bola. Ia memberi, lalu mengambil. Kami akan bangun pagi besok dan tetap mencintai tim ini." Kalimat itu mungkin mewakili seluruh Norwegia: gembira yang berujung kecewa, namun dengan janji untuk kembali bersorak di lain waktu.
Baca juga:
Comments (0)