Skor akhir 0-0 di laga fase grup Piala Afrika 2023 antara Tanjung Verde dan Ghana menjadi panggung bagi kiper Vozinha. Menit ke-90+4, peluit panjang berbunyi, dan kamera menangkap momen luar biasa: air mata mengalir deras dari mata penjaga gawang berusia 37 tahun itu. Bukan karena hasil imbang, melainkan karena ibunya tak mampu menyaksikan aksinya secara langsung.
Vozinha, nama lengkap Josimar Dias, tampil gemilang dengan mencatatkan 5 penyelamatan dan clean sheet melawan tim sekuat Ghana. Sepanjang 90 menit, ia menjadi tembok tak tertembus di bawah mistar gawang Tanjung Verde. Penguasaan bola Ghana mencapai 60 persen, dengan 12 shots on target, namun tak satu pun berbuah gol. Vozinha menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam laga yang berlangsung di Stade Félix Houphouët-Boigny, Abidjan, Ivory Coast.
Penampilan Gemilang di Bawah Mistar
Sejak menit awal, Vozinha sudah menunjukkan kelasnya. Formasi 4-3-3 yang diterapkan pelatih Bubista menuntut kiper berperan aktif dalam distribusi bola. Menit ke-12, aksi penyelamatan gemilang dilakukan Vozinha saat menepis tendangan keras Jordan Ayew dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke pojok kanan bawah gawang, namun dengan refleks luar biasa, ia berhasil menepisnya keluar lapangan.
Menit ke-34, kembali Vozinha menjadi penyelamat. Kali ini, sundulan Inaki Williams dari jarak dekat mampu ia halau dengan kaki kirinya. Statistik mencatat, sepanjang babak pertama, ia sudah melakukan 3 penyelamatan penting dengan akurasi passing 78 persen. Tak heran, ia mendapat rating tertinggi dari berbagai platform statistik sepak bola dunia.
Babak kedua, tekanan Ghana semakin intens. Menit ke-67, Mohammed Kudus melepaskan tendangan voli dari dalam kotak penalti, namun Vozinha sigap menangkap bola. Menit ke-82, tendangan bebas Antoine Semenyo dari jarak 25 meter berhasil ia tepis. Hingga peluit akhir, gawang Tanjung Verde tetap suci. Ini adalah clean sheet ketiga bagi Vozinha dalam lima laga terakhir bersama timnas.
Alasan di Balik Tangis Haru
Usai pertandingan, Vozinha tak mampu menahan haru. Dalam wawancara dengan media, ia mengungkapkan bahwa ibunya tidak bisa hadir di stadion karena terkendala visa dan biaya perjalanan yang mahal. "Saya menangis karena ibu saya tidak bisa melihat saya bermain di sini. Dia sangat ingin datang, tetapi visa dan biaya menjadi penghalang. Ini untuk dia," ujar Vozinha dengan mata masih berkaca-kaca.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik gemilangnya aksi di lapangan, ada kisah personal yang menyentuh. Vozinha, yang telah mengoleksi 50 caps bersama Tanjung Verde, memang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan keluarga. Sepanjang kariernya, ia selalu mendedikasikan setiap penampilan untuk orang tuanya.
"Vozinha adalah contoh profesionalisme dan dedikasi. Apa yang dia lakukan malam ini luar biasa. Dia bermain dengan hati, dan itu terlihat dari setiap penyelamatan," kata pelatih Bubista dalam konferensi pers.
Dampak bagi Tanjung Verde di Fase Grup
Hasil imbang ini membuat Tanjung Verde mengoleksi 4 poin dari dua laga, setelah sebelumnya menang 2-1 atas Mozambique. Mereka kini berada di puncak klasemen Grup B, di atas Ghana yang baru mengumpulkan 1 poin. Dengan satu laga tersisa melawan Mesir, peluang Tanjung Verde untuk lolos ke babak 16 besar sangat terbuka lebar.
Statistik menunjukkan, Tanjung Verde memang bukan tim favorit. Namun, dengan pertahanan solid dan kiper sekelas Vozinha, mereka mampu mencuri perhatian. Dalam dua laga, mereka baru kebobolan satu gol, dengan 8 penyelamatan dari Vozinha. Kartu kuning yang diterima bek Roberto Lopes menambah catatan disiplin tim, namun secara keseluruhan, pertahanan mereka rapi.
Vozinha sendiri mencatatkan save percentage mencapai 88 persen di turnamen ini, angka yang sangat impresif. Ia juga tercatat sebagai kiper dengan penyelamatan terbanyak kedua di fase grup sejauh ini. Tak heran, namanya mulai dikaitkan dengan beberapa klub besar Eropa, meski usianya tak lagi muda.
Bagi Tanjung Verde, laga melawan Mesir akan menjadi ujian sesungguhnya. Namun, dengan mentalitas dan kualitas yang ditunjukkan Vozinha, bukan tidak mungkin mereka menciptakan kejutan. Seperti kata Vozinha, "Kami bermain untuk sejarah, untuk negara, dan untuk keluarga kami." Air mata haru yang jatuh malam itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti cinta dan dedikasi yang mengalir dari dalam lubuk hati seorang penjaga gawang.
Comments (0)