Sutradara Gonjiam Janji Syuting Horor di Indonesia, Ada Syaratnya
Aula utama bioskop CGV Grand Indonesia mendadak senyap. Ratusan pasang mata terpaku pada layar lebar yang menampilkan lorong gelap sebuah rumah sakit terbe
Aula utama bioskop CGV Grand Indonesia mendadak senyap. Ratusan pasang mata terpaku pada layar lebar yang menampilkan lorong gelap sebuah rumah sakit terbengkalai. Suara langkah kaki dan jeritan tertahan menghantui setiap sudut ruangan. Malam itu, film "402 Rumah Sakit Angker Korea" baru saja selesai diputar dalam sesi khusus yang dihadiri langsung oleh sang sutradara, Jung Bum-shik. Tepuk tangan membahana, namun sorot mata para penonton masih menyisakan sisa-sisa ketakutan yang sulit diusir. Di tengah kemeriahan itu, sutradara yang menggebrak horor Korea lewat "Gonjiam: Haunted Asylum" (2018) melemparkan sebuah pernyataan yang langsung mengundang decak kagum sekaligus rasa penasaran: ia berjanji akan segera memproduksi film horor di Indonesia.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. "402 Rumah Sakit Angker Korea" yang diproduseri oleh rumah produksi asal Negeri Ginseng itu ternyata meledak di pasaran Indonesia, mencatatkan angka penjualan tiket yang jauh melampaui ekspektasi. Jung Bum-shik pun melihat bahwa ada kedekatan rasa antara penonton Indonesia dengan horor khas Korea yang bertumpu pada atmosfer psikologis. Namun, seperti halnya setiap film horor yang dibangun dengan fondasi riset mendalam, ia tak mau sekadar mencomot latar tempat. Ada persyaratan khusus yang mesti dipenuhi sebelum ia benar-benar mengarahkan kameranya di bumi pertiwi.
Sukses Tak Terduga di Bumi Pertiwi
Sejak perdana dirilis pada awal Juli 2026, "402 Rumah Sakit Angker Korea" telah mengumpulkan lebih dari 1,8 juta penonton di Indonesia hanya dalam waktu dua pekan. Sebuah pencapaian yang tergolong langka untuk film horor impor, terutama dari Korea Selatan yang selama ini lebih dikenal lewat drama romantis atau thriller kriminal. Paduan kisah urban legend tentang rumah sakit era kolonial Jepang yang dihuni arwah pasien eksperimen medis—serta eksekusi teknis dengan sound design yang mencekam, membuat penonton Indonesia merasa terhubung secara emosional.
“Saya tidak menyangka sambutannya sehebat ini,” ujar Jung Bum-shik melalui penerjemah di sela acara. “Indonesia punya hubungan batin yang kuat dengan kisah-kisah mistis. Ini terlihat dari bagaimana penonton di sini menikmati setiap detil jumpscare sekaligus mencerna trauma karakternya.”
Rencana Syuting Horor di Tanah Air
Di hadapan awak media, Jung mengungkapkan bahwa kesuksesan film terbarunya membuka mata tentang potensi besar Indonesia sebagai lokasi produksi horor. Ia berencana membawa rumah produksinya untuk memulai proyek ambisius tersebut paling cepat pada pertengahan tahun depan. Bukan hanya sekadar latar eksotis, Indonesia dipandang memiliki energi alamiah yang sulit ditemui di tempat lain.
“Indonesia itu ibarat panggung raksasa yang belum tergarap maksimal untuk genre horor. Kalian punya ribuan legenda urban, bangunan tua, dan keyakinan masyarakat terhadap dunia gaib yang masih begitu kental. Saya ingin menangkap itu semua secara autentik,” katanya.
Meski belum mau membocorkan judul atau sinopsis pasti, bocoran yang beredar menyebutkan bahwa proyek ini akan mengambil set di salah satu rumah sakit tua di Pulau Jawa yang telah lama terbengkalai dan menjadi legenda setempat. Sang sutradara dikabarkan telah mengirim tim kecil untuk melakukan survei awal di tiga lokasi berbeda.
Syarat Khusus dari Sang Sutradara
Namun, janji tersebut tidak datang tanpa prasyarat. Dengan tegas Jung menyatakan bahwa ia akan memproduksi film di Indonesia hanya jika ada kolaborasi setara dengan sineas lokal—baik dari sisi pendanaan, perizinan, hingga kru teknis. Selain itu, ia mensyaratkan agar lokasi syuting benar-benar merupakan tempat yang tidak direkayasa alias bangunan asli yang menyimpan sejarah kelam. Menurutnya, aura autentik dari tembok yang benar-benar pernah menjadi saksi penderitaan adalah elemen krusial yang tidak bisa digantikan oleh set buatan.
“Saya tidak mau hanya berpura-pura. Jika saya syuting di Indonesia, rumah sakitnya harus rumah sakit beneran yang punya cerita. Saya mau kru lokal yang paham aturan adat sekitar, yang bisa membimbing kami saat ada ritual atau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan logika,” tegasnya seraya menambahkan bahwa pendekatan ini penting untuk menghormati kepercayaan masyarakat setempat.
Syarat lainnya adalah dukungan penuh dari pemerintah daerah untuk akses lokasi serta insentif fiskal yang memadai. Jung menyadari bahwa produksi film horor seringkali memakan waktu lebih lama karena harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan faktor tak terduga di lapangan. Oleh karena itu, kemudahan perizinan dan dukungan logistik menjadi harga mati agar proyek ini bisa berjalan.
Menanti Kolaborasi Horor Indonesia-Korea
Kalangan sineas Indonesia menyambut antusias rencana ini. Sejumlah produser muda bahkan sudah menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi, termasuk menawarkan script orisinal hasil adaptasi mitos lokal seperti “Rumah Sakit Angker Lawang Sewu” atau kisah wingit dari rumah sakit era kolonial di Jawa Tengah. Jika terealisasi, kolaborasi ini akan menjadi jembatan baru bagi kebangkitan film horor nasional yang belakangan makin diterima di tingkat global.
Sementara itu, pengamat film dari Universitas Indonesia, Dina Larasati, menilai bahwa kehadiran sutradara sekaliber Jung Bum-shik bisa menjadi katalis bagi peningkatan standar produksi horor dalam negeri, baik dari segi narasi visual maupun teknik bercerita. “Kita seringkali kaya ide tapi miskin eksekusi. Kolaborasi ini bisa jadi model bagaimana cerita lokal dikemas dengan standar internasional tanpa kehilangan rohnya,” ujarnya.
Dengan kesuksesan “402 Rumah Sakit Angker Korea” sebagai pijakan, serta janji sutradara yang terikat syarat yang cukup menantang namun bukan mustahil, publik kini menunggu langkah konkret selanjutnya. Satu hal yang pasti: jika proyek ini benar-benar terwujud, Indonesia akan menjadi saksi lahirnya film horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga sarat akan penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas lokal. Seperti yang berulang kali ditekankan Jung, “Horor bukan sekadar menakut-nakuti, tapi tentang memahami apa yang kita takuti.”
[SOCIAL_FB]: Sutradara Gonjiam: Haunted Asylum akhirnya buka suara! Jung Bum-shik ingin menjadikan Indonesia sebagai lokasi syuting horor terbarunya. Setelah "402 Rumah Sakit Angker Korea" tembus 1,8 juta penonton, ia melihat ada ikatan magis antara cerita hantu kita. Namun, ia memberi syarat tegas: kolaborasi penuh dengan sineas lokal dan syuting di rumah sakit asli yang benar-benar angker. Apakah proyek ambisius ini bakal terwujud? Baca selengkapnya di Beritainti.com. Setelah sukses besar dengan "402 Rumah Sakit Angker Korea", Jung Bum-shik siap membawa terornya ke Tanah Air dengan syarat yang cukup menantang. Mulai dari lokasi asli hingga kerja sama kru lokal. Penasaran? Simak berita eksklusifnya sekarang! [TAGS]: Gonjiam Haunted Asylum, 402 Rumah Sakit Angker Korea, Jung Bum-shik, horor Indonesia, kolaborasi film Korea Indonesia
Comments (0)