Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, De la Fuente: Ini Semangat 2010

Skor akhir 2-0 atas Prancis mengantarkan Spanyol ke partai puncak Piala Dunia 2026. Gol yang lahir pada menit ke-34 dan ke-78 itu mengakhiri dahaga 16 tahun La Roja untuk kembali merasakan atmosfer fi...

Jul 16, 2026 - 23:52
0 1
Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, De la Fuente: Ini Semangat 2010

Skor akhir 2-0 atas Prancis mengantarkan Spanyol ke partai puncak Piala Dunia 2026. Gol yang lahir pada menit ke-34 dan ke-78 itu mengakhiri dahaga 16 tahun La Roja untuk kembali merasakan atmosfer final turnamen sepak bola paling bergengsi di planet ini. Terakhir kali Spanyol mencapai babak pamungkas adalah pada edisi 2010 di Afrika Selatan—dan malam itu, di hadapan 80 ribu penonton yang memadati MetLife Stadium, spirit juara tersebut hidup kembali.

Pertandingan berjalan dalam tempo tinggi sejak peluit pertama dibunyikan. Pelatih Luis de la Fuente langsung menurunkan susunan pemain inti dengan formasi 4-3-3 ofensif: Unai Simón di bawah mistar; empat bek sejajar diisi oleh Alejandro Balde, Pau Cubarsí, Robin Le Normand, dan Pedro Porro; trio gelandang Pedri, Gavi, dan Martín Zubimendi mengisi lini tengah; sementara trisula depan diisi oleh Lamine Yamal, Ferran Torres, dan Nico Williams. Prancis merespons dengan blok rendah 4-2-3-1 yang mengandalkan serangan balik cepat.

Dominasi Sejak Awal: Gol Pembuka Menit ke-34

Spanyol langsung mengambil inisiatif. Penguasaan bola mencapai 62 persen dalam 15 menit pertama, menghasilkan dua sepak pojok dan satu peluang emas yang masih bisa dimentahkan kiper Mike Maignan. Pergerakan Nico Williams dari sisi kiri berkali-kali merepotkan Jules Koundé. Namun momen kunci terjadi pada menit ke-34. Sebuah umpan terobosan brilian dari Pedri—yang malam itu mencatat akurasi operan 91 persen—berhasil dimanfaatkan oleh Ferran Torres. Dengan satu sentuhan dingin, Torres melepaskan tembakan mendatar ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau Maignan. Gol tersebut tercipta dari skema build-up 11 operan, yang menjadi ciri khas tiki-taka modern Spanyol.

Statistik babak pertama menegaskan ketimpangan: shots on target 5 berbanding 1, total percobaan 9-3, dan penguasaan bola 58%-42%. Prancis nyaris tanpa ancaman serius, karena duet Cubarsí dan Le Normand tampil disiplin meredam pergerakan Kylian Mbappé. Hanya satu tusukan Ousmane Dembélé yang menghasilkan penyelamatan Unai Simón pada menit ke-41.

Babak Kedua: VAR, Kartu, dan Gol Penentu Menit ke-78

Selepas turun minum, Prancis mencoba mengubah ritme. Pelatih Didier Deschamps memasukkan Randal Kolo Muani untuk menambah daya gedor, dan tekanan sempat meningkat. Menit ke-55, insiden kontroversial terjadi saat Eduardo Camavinga dijatuhkan di kotak penalti, namun tinjauan VAR memutuskan tidak ada pelanggaran. Hanya berselang dua menit, gelandang Prancis mendapat kartu kuning karena protes berlebihan.

Spanyol tak kehilangan kendali. Masuknya Mikel Merino pada menit ke-65 menambah soliditas lini tengah. Serangan balik cepat akhirnya membuahkan gol kedua pada menit ke-78. Skema dimulai dari sapuan Balde di area pertahanan sendiri, bola mengalir cepat ke kaki Lamine Yamal yang berlari di sayap kanan. Dengan akselerasi eksplosif, Yamal melewati Lucas Hernández, menusuk ke kotak penalti, lalu melepaskan tembakan melengkung yang bersarang di sudut atas gawang. Sebuah gol kelas dunia yang memastikan langkah ke final. Assist tercipta dari operan pendek Gavi yang jeli melihat ruang kosong.

Setelah gol kedua, ritme pertandingan sedikit menurun. Spanyol mengunci pertahanan dengan rapat, mencatatkan 8 clearance dan 3 intersep krusial di 15 menit terakhir. Prancis hanya mampu menambah satu tembakan tepat sasaran, yang kembali diamankan Simón. Clean sheet tersebut menjadi yang keempat bagi kiper Athletic Bilbao itu di turnamen ini.

Statistik Akhir: Pantas Melaju

Angka akhir memperlihatkan keunggulan komprehensif Spanyol: penguasaan bola 57%-43%, total tembakan 16-7, shots on target 7-2, akurasi operan 89%-82%, dan pelanggaran 10-14. Dua gol, clean sheet, dan hanya satu kartu kuning yang diterima Gavi pada menit ke-72 menjadi bukti disiplin tinggi pasukan De la Fuente.

"Saya melihat semangat 2010 kembali malam ini. Bukan hanya dalam taktik, tapi dalam mentalitas dan kebersamaan. Anak-anak ini menulis sejarah mereka sendiri, tapi jiwa juara yang pernah dibawa Xavi, Iniesta, dan Casillas kini hadir dalam generasi baru," ujar De la Fuente dalam konferensi pers pasca-pertandingan.

Kutipan tersebut langsung menggema di seluruh penjuru Spanyol. Dua belas tahun setelah trofi 2010, dan enam belas tahun setelah final tersebut, La Roja kini bersiap menghadapi laga pamungkas melawan Argentina—sebuah ulangan semifinal 2010 yang juga berakhir untuk La Furia Roja. Beban sejarah mungkin berat, namun dengan semangat yang terpancar malam itu, Spanyol membawa keyakinan tinggi.

Dari data hingga tontonan, pertandingan ini adalah pernyataan: Spanyol bukan sekadar tim penguasa bola, melainkan unit yang efisien, tajam, dan lapar kemenangan. Final Piala Dunia 2026 sudah di depan mata, dan malam itu di New Jersey, spirit 2010 benar-benar telah kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User