EAST RUTHERFORD — Peluit panjang berbunyi di MetLife Stadium, Senin (2/7/2026) dini hari WIB. Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dalam laga final yang berjalan dramatis. Namun momen paling mengharukan justru terjadi setelah pertandingan usai: Lamine Yamal, wonderkid Spanyol berusia 19 tahun, berpelukan erat dengan Lionel Messi, ikon Argentina bernomor punggung 10.
Duel dua generasi berbeda itu tersaji penuh intensitas selama 120 menit. Spanyol tampil dengan formasi 4-3-3 andalan pelatihnya, mengandalkan penguasaan bola mencapai 58 persen sepanjang laga. Argentina di bawah komando Messi lebih sabar, menunggu momentum lewat serangan balik cepat dengan skema 4-4-2 yang sesekali berubah menjadi 3-5-2 saat menguasai bola.
Jalannya Pertandingan: Babak Pertama Penuh Taktik
Menit ke-11, Yamal melepaskan tendangan pertama yang mengarah ke gawang. Sepakan kaki kirinya dari sisi kanan kotak penalti masih bisa ditepis kiper Argentina. Starting XI Spanyol memang menempatkan Yamal sebagai winger kanan, bebas bergerak ke tengah untuk menciptakan ruang.
Argentina membalas lewat skema serangan balik. Menit ke-23, Messi menerima bola di ruang antara lini tengah dan pertahanan Spanyol, lalu melepaskan umpan terobosan tajam. Sayang, penyelesaian akhir rekannya masih melenceng tipis di sisi kiri gawang. Statistik babak pertama mencatat shots on target Spanyol 3 berbanding 2 milik Argentina, dengan total peluang tercipta 7-5.
Menit ke-38, Spanyol akhirnya memecah kebuntuan. Berawal dari pergerakan Yamal yang menarik dua pemain bertahan ke sisi kanan, bola diumpan silang ke tiang jauh. Sundulan keras pemain tengah Spanyol menghujam gawang Argentina. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum. Tidak ada kartu kuning di paruh pertama, pertanda laga berjalan sportif meski tensinya tinggi.
Babak Kedua: Argentina Bangkit, VAR dan Drama Menegangkan
Argentina keluar dengan intensitas berbeda setelah jeda. Menit ke-54, Messi nyaris menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas dari jarak 25 meter. Bola melengkung tipis di atas mistar. Penguasaan bola Argentina naik signifikan menjadi 47 persen di babak kedua, dari sebelumnya hanya 42 persen di paruh pertama.
Menit ke-67, drama terjadi. Argentina mencetak gol lewat sundulan, namun wasit menganulirnya setelah VAR mendeteksi posisi offside salah satu pemain di fase penyerangan. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan Argentina, dan seorang pemain pengganti menerima kartu kuning akibat keberatan berlebihan.
Menit ke-78, Spanyol justru menggandakan keunggulan. Serangan cepat tiga sentuhan berakhir dengan penyelesaian dingin di dalam kotak penalti. Assist datang dari Yamal, mencatatkan namanya di papan statistik sebagai top assist turnamen dengan total 6 assist sepanjang Piala Dunia 2026. Skor 2-0 membuat Argentina harus bekerja ekstra keras.
Menit ke-89, Argentina memperkecil kedudukan lewat eksekusi penalti setelah pelanggaran di kotak terlarang. Messi yang mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan peluang. Skor berubah 2-1, dan laga berlanjut dengan enam menit tambahan waktu yang terasa seperti selamanya bagi para penggemar Spanyol.
Analisis: Yamal, Messi, dan Estafet Generasi
Statistik menempatkan Yamal sebagai pemain paling menonjol di laga ini. Ia mencatatkan 4 shots on target, 1 assist, dan tingkat keberhasilan dribel mencapai 71 persen. Sebaliknya, Messi meski berusia 39 tahun tetap menjadi motor serangan Argentina dengan 3 peluang kunci tercipta dan 1 gol penalti. Kontribusi keduanya menjadi simbol estafet antara generasi emas lama dan generasi baru sepak bola dunia.
Pelatih Spanyol dalam konferensi pers usai laga menyebut kemenangan ini sebagai buah kerja kolektif jangka panjang.
"Kami tidak menang karena satu pemain. Kami menang karena setiap pemain tahu perannya. Lamine luar biasa, tapi clean sheet di babak gugur adalah fondasi kami," ujar sang pelatih.
Sementara itu, pelatih Argentina mengakui timnya kalah dalam efisiensi penyelesaian akhir. "Kami punya peluang, kami punya penguasaan bola yang cukup, tapi sepak bola dihitung dari gol. Malam ini Spanyol lebih efektif," katanya.
Dengan hasil ini, Spanyol menutup turnamen dengan catatan 5 clean sheet dari 7 pertandingan dan rata-rata penguasaan bola 60,4 persen. Argentina harus puas sebagai runner-up meski Messi menutup Piala Dunia terakhirnya dengan 4 gol dan 3 assist. Pelukan Yamal dan Messi di tengah lapangan bukan sekadar selebrasi, melainkan penghormatan dua ikon lintas generasi yang menandai babak baru sepak bola dunia menuju Piala Dunia 2030.
Comments (0)