Spanduk Politik Lo Celso Warnai Kemenangan Argentina atas Inggris
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Namun malam di stadion itu bukan hanya milik para pencetak gol. Menit ke-90+4, saat peluit panjang berbunyi, Giova...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Namun malam di stadion itu bukan hanya milik para pencetak gol. Menit ke-90+4, saat peluit panjang berbunyi, Giovani Lo Celso — gelandang yang baru masuk sebagai pemain pengganti — berjalan ke arah tribun dan menunjukkan spanduk bernuansa politik yang langsung memicu perdebatan di seluruh penjuru dunia. Foto AFP yang diabadikan Thomas Coex memperlihatkan sang gelandang Argentina memegang spanduk itu di depan ribuan suporter Albiceleste. Momen kontroversial itu menutup laga yang sesungguhnya luar biasa dari sisi taktik, kualitas, dan intensitas.
Babak Pertama: Inggris Unggul Lebih Dulu, Argentina Merespons Cepat
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menurunkan formasi 4-3-3 dengan starting XI berisi Emi Martínez di bawah mistar, sementara Inggris menjawab dengan 4-2-3-1 yang mengandalkan Jude Bellingham sebagai playmaker di belakang penyerang tunggal. Inggris justru mencetak gol lebih dulu di menit ke-19 melalui sundulan Declan Rice memanfaatkan assist dari sepak pojok. Penguasaan bola pada 20 menit pertama memang milik Argentina (62 persen), tetapi Inggris memilih menunggu dan menyerang balik dengan kecepatan luar biasa.
Keunggulan itu hanya bertahan empat menit. Menit ke-23, Julián Álvarez melepaskan tendangan first-time dari umpang terobosan Lionel Messi yang menusuk celah antara bek tengah Inggris. Gol itu menyamakan kedudukan dan mengubah irama laga total. Sejak saat itu, Argentina meningkatkan tekanan dan menutup babak pertama dengan penguasaan bola 58 persen serta empat shots on target, berbanding dua milik Inggris. Satu gol Inggris sempat dianulir VAR karena offside tipis — keputusan yang memicu protes panjang para pemain Three Lions.
Babak Kedua: Gol Penentu dan Peran Lo Celso dari Bangku Cadangan
Babak kedua berjalan lebih ketat. Inggris menaikkan garis pertahanan dan mulai berani menekan, tercermin dari dua tembakan membentur tiang pada menit ke-58 dan ke-64. Namun Argentina kembali menunjukkan kematangan taktiknya. Menit ke-81, Lautaro Martínez mencetak gol penentu lewat assist cerdas Enzo Fernández yang melepaskan umpan terobosan di antara dua bek Inggris. Skor akhir 2-1 pun bertahan hingga peluit panjang, dengan Argentina mencatat total tujuh shots on target dari 15 percobaan, sementara Inggris hanya empat dari sebelas.
Lo Celso baru dimasukkan di menit ke-78 menggantikan Alexis Mac Allister. Ia sempat mencatatkan akurasi umpan 91 persen dalam waktu singkatnya di lapangan dan ikut membantu Argentina mengunci lini tengah pada sepuluh menit terakhir. Justru di luar lapangan ia mencuri perhatian: spanduk yang ia angkat setelah laga ramai dibahas, mulai dari media sosial hingga konferensi pers resmi FIFA. Sikapnya menimbulkan pertanyaan besar soal batas antara sepak bola dan ekspresi politik di panggung sebesar Piala Dunia.
Reaksi Pelatih dan Dampak Menuju Final
Scaloni membela anak asuhnya dalam sesi jumpa pers usai laga. Ia menilai publik seharusnya lebih dulu menyoroti penampilan timnya yang bermain dengan disiplin tinggi. "Lo Celso adalah pemain yang selalu memberi segalanya. Apa yang ia lakukan setelah pertandingan adalah ekspresi pribadi, dan saya tidak akan menilainya di sini. Yang jelas, kami ke final karena kerja keras seluruh skuad, bukan karena satu momen," ujarnya. Pernyataan itu kontras dengan pelatih Inggris yang mengkritik keras insiden tersebut dan meminta badan pengatur sepak bola dunia meninjau regulasi terkait gestur bernuansa politik.
Terlepas dari kontroversi, catatan statistik Argentina musim ini berbicara sendiri: mereka memenangkan laga dengan clean sheet yang nyaris terwujud, dua kartu kuning untuk Inggris dan satu untuk Argentina, serta hanya satu kali terjebak offside berbanding tiga untuk lawan. Tuan rumah turnamen harus menunggu hasil pertandingan semifinal lain untuk mengetahui lawan di partai puncak. Namun satu hal sudah pasti: malam itu, Lo Celso tidak hanya tercatat sebagai pemain pengganti yang masuk di menit ke-78, melainkan nama yang akan terus diperbincangkan jauh setelah skor akhir dilupakan.
Menuju final, Argentina membawa modal penguasaan bola rata-rata 57 persen dan 18 tembakan per laga. Inggris, sebaliknya, harus menerima kenyataan pahit bahwa turnamen mereka berakhir di tangan lawan yang lebih tenang dalam memanfaatkan peluang. Bagi Lo Celso, pertanyaan terbesar kini bukan lagi soal formasi atau starting XI, melainkan apakah FIFA akan menjatuhkan sanksi atas spanduk yang ia bawa — dan apakah momen politik itu akan membayangi persiapan timnas Argentina menjelang laga pamungkas Piala Dunia 2026.
Comments (0)