Souto Puji Kerendahan Hati Herdman di Kursi Pelatih Indonesia
JAKARTA — Dunia kepelatihan Indonesia kembali mencuri perhatian. Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, melontarkan pujian terbuka kepada juru taktik Timnas Indonesia, John Herdman, dalam se...
JAKARTA — Dunia kepelatihan Indonesia kembali mencuri perhatian. Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, melontarkan pujian terbuka kepada juru taktik Timnas Indonesia, John Herdman, dalam sebuah sesi diskusi lintas disiplin yang berlangsung pekan ini. Pujian itu bukan soal taktik atau formasi, melainkan soal karakter: kerendahan hati seorang pelatih yang telah menangani tim nasional di tiga benua berbeda. Bagi Souto, sikap itu menjadi "modal tak terlihat" yang jarang dimiliki pelatih elite.
Pertemuan Dua Dunia: Futsal dan Sepak Bola Lapangan Besar
Momen itu terjadi ketika Souto dan Herdman berbicara dalam forum internal persiapan program tim nasional. Souto, yang dikenal sebagai arsitek serangan cepat Timnas Futsal Indonesia, mengaku terkesan pada cara Herdman memperlakukan staf, pemain, dan pelatih dari cabang lain. "Dia tidak datang membawa ego. Dia datang membawa pertanyaan," ujar Souto menggambarkan suasana pertemuan, dikutip dari pernyataan resmi federasi. Dalam dunia yang sering kali diwarnai hierarki kaku antara sepak bola lapangan besar dan futsal, sikap semacam itu menjadi pemandangan yang menyegarkan.
Herdman memang bukan nama baru. Ia pernah membawa Timnas Wanita Kanada meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, lalu membawa Timnas Pria Kanada menembus Piala Dunia 2022. Rekam jejak itu membuat ekspektasi publik terhadapnya tinggi, terutama setelah ia dipercaya menangani Timnas Indonesia. Namun menurut Souto, yang menarik bukan hanya catatan kemenangan, melainkan bagaimana Herdman tetap bersedia belajar dari cabang olahraga lain. "Pelatih besar itu yang mau mendengar. Yang merasa sudah tahu segalanya, itu pelatih yang berhenti tumbuh," tegas Souto.
Statistik Kepemimpinan: Rekam Jejak dan Pola Kerja Herdman
Secara statistik, karier kepelatihan Herdman menunjukkan pola yang konsisten. Bersama Timnas Wanita Kanada, ia mencatat penguasaan bola rata-rata 57 persen pada Olimpiade Tokyo 2020 dan hanya kebobolan tiga gol sepanjang turnamen. Bersama Timnas Pria Kanada di Kualifikasi Piala Dunia zona CONCACAF, ia membawa tim mencatat clean sheet dalam 6 dari 14 pertandingan. Angka-angka itu lahir dari pendekatan yang menekankan disiplin blok pertahanan serta transisi cepat.
Di sisi lain, Souto membawa Timnas Futsal Indonesia dengan gaya berbeda. Pada beberapa laga terakhir, ia menerapkan formasi 3-1 dengan rotasi pemain agresif, menghasilkan rata-rata 4,2 gol per pertandingan dan shots on target mencapai 61 persen. Perbedaan pendekatan ini justru menjadi alasan Souto menilai Herdman sebagai sosok yang bisa diajak bertukar gagasan. "Futsal menuntut keputusan dalam hitungan detik. Sepak bola lapangan besar menuntut kesabaran dalam 90 menit. Kalau kedua dunia ini bertemu, pemain Indonesia yang menang," jelasnya.
Menariknya, Souto juga menyoroti bagaimana Herdman menghadapi tekanan publik. Setiap keputusan taktis, mulai dari pemilihan starting XI, pergantian pemain, hingga respons terhadap keputusan VAR, selalu menjadi sorotan. Namun Herdman, menurut Souto, tetap menempatkan pemain di depan ego pribadi. "Kalau ada keputusan yang salah, dia yang ambil tanggung jawab. Kalau menang, dia sebut nama pemain," kata Souto.
"Dia tidak datang membawa ego. Dia datang membawa pertanyaan. Pelatih besar itu yang mau mendengar, bukan yang merasa sudah tahu segalanya." — Hector Souto
Dampak pada Budaya Kepelatihan di Indonesia
Pujian Souto ini bukan sekadar basa-basi diplomatis. Dalam ekosistem olahraga nasional yang kerap terfragmentasi antar cabang, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci peningkatan performa. Jika pola kerja Herdman menular ke pelatih lain, bukan tidak mungkin muncul generasi pelatih Indonesia dengan pendekatan lebih inklusif. Souto menegaskan, dirinya siap berbagi data dan metode latihan futsal demi memperkaya persiapan tim nasional lapangan besar, khususnya dalam aspek penyelesaian akhir dan permainan ruang sempit.
Sementara itu, di lapangan, pekerjaan Herdman masih panjang. Dengan jadwal kualifikasi dan turnamen yang menanti, setiap keputusan akan diuji. Namun pesan Souto memberi sudut pandang baru: sebelum menilai taktik, lihat dulu cara pelatih memperlakukan orang di sekitarnya. Kerendahan hati, dalam pandangan Souto, bukan kelemahan taktis — melainkan fondasi sebuah tim yang solid. "Skor akhir bisa berubah setiap pertandingan. Tapi karakter seorang pelatih, itu yang membangun budaya juara jangka panjang," pungkasnya.
Comments (0)