JAKARTA — Sebuah momen langka terjadi di jagat sepak bola nasional. Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, secara terbuka melontarkan pujian setinggi langit kepada juru taktik Timnas Indonesia, John Herdman. Bukan soal taktik atau formasi, melainkan soal karakter: kerendahan hati seorang pelatih yang telah malang melintang di pentas internasional.
Souto, yang dikenal sebagai sosok perfeksionis dalam meracik strategi futsal, mengaku terkesan dengan cara Herdman memimpin skuad Garuda. Menurutnya, seorang pelatih dengan reputasi sebesar Herdman — yang pernah membawa Timnas Kanada tampil di Piala Dunia 2022 — tetap menunjukkan sikap membumi, mudah berdiskusi, dan terbuka terhadap masukan dari cabang olahraga lain.
Respek Lintas Cabang: Futsal dan Sepak Bola Besar
Dalam sejumlah kesempatan, Souto menyaksikan langsung bagaimana Herdman berinteraksi dengan staf pelatih dan pemain. Tidak ada sekat antara pelatih kepala dan anggota tim. Ia menyebut pendekatan itu sebagai man-management kelas atas, sesuatu yang jarang ditemui di level elite.
"Kerendahan hati dia luar biasa. Dia tidak merasa paling tahu segalanya, padahal rekam jejaknya sudah bicara sendiri," ujar Souto, menggambarkan sosok Herdman yang kerap meminta pendapat sebelum mengambil keputusan besar.
Menariknya, pujian ini datang dari cabang berbeda. Futsal dan sepak bola lapangan besar memiliki karakter permainan yang kontras — futsal menuntut transisi cepat di lapangan sempit, sementara sepak bola besar menekankan penguasaan ruang. Namun, Souto menilai prinsip kepemimpinan Herdman bisa menjadi contoh universal, termasuk soal bagaimana menempatkan egosamping demi kepentingan tim.
Kepemimpinan Rendah Hati yang Berdampak pada Performa
Statistik di lapangan memang kerap menjadi cerminan budaya internal tim. Di bawah kendali Herdman, Timnas Indonesia menunjukkan tren positif dalam hal penguasaan bola dan intensitas pressing pada laga-laga terakhir. Penguasaan bola rata-rata menembus angka 55 persen, sementara shots on target naik signifikan dibanding periode sebelumnya.
Bagi Souto, angka-angka itu bukan kebetulan. Ia menilai pemain bermain lebih lepas karena merasa didengar, bukan hanya diinstruksikan. Formasi apa pun yang dipilih — entah itu 4-3-3 atau 3-5-2 — hanya akan berjalan jika ada rasa saling percaya antara pelatih dan pemain.
"Pelatih besar bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling mau mendengar. Herdman menunjukkan itu," tegas Souto.
Komunikasi, Kunci di Ruang Ganti
Souto lantas membandingkan pengalamannya melatih skuad futsal. Di cabang yang menuntut komunikasi konstan antar pemain, seorang pelatih wajib mampu menyatukan beragam ego. Ia melihat Herdman melakukan hal serupa di Timnas Indonesia, meski dengan skala dan tekanan yang jauh lebih besar.
Herdman sendiri belum lama menangani skuad Garuda. Namun, jejaknya mulai terasa dalam cara pemain merespons instruksi dari pinggir lapangan. Tidak ada gestur arogan, tidak ada perdebatan terbuka yang mengganggu konsentrasi. Yang ada justru dialog dua arah dan kepercayaan yang terbangun perlahan.
Pujian dari Souto menjadi sinyal bahwa sepak bola Indonesia tengah membangun ekosistem yang saling menghargai antarcabang. Futsal, yang sering dianggap sekadar pelengkap, justru punya pelatih dengan wawasan kepemimpinan tajam. Sebaliknya, sepak bola besar mendapat cermin dari sosok yang tak segan merendahkan hati di tengah ekspektasi tinggi.
Jika Herdman mampu menjaga kerendahan hati itu sembari terus memperbaiki taktik, bukan tidak mungkin performa Timnas Indonesia semakin solid di laga-laga mendatang. Sebab, sebagaimana ditegaskan Souto, karakter pelatih sering kali tercermin dalam cara tim bermain — dan itu berlaku baik di lapangan futsal maupun lapangan rumput.
Comments (0)