Semangat Ibu-Ibu Berbaju Adat Kalimantan di Senior Happy Run 5K
Gedung Sapta Pesona di Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026), tidak hanya dipenuhi pelari senior yang siap menempuh jarak 5 kilometer. Sejak pagi, area sekitar garis start berubah menjadi peragaan busana ...
Gedung Sapta Pesona di Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026), tidak hanya dipenuhi pelari senior yang siap menempuh jarak 5 kilometer. Sejak pagi, area sekitar garis start berubah menjadi peragaan busana adat yang meriah, saat puluhan ibu tampil anggun dengan balutan pakaian tradisional Kalimantan. Mereka adalah bagian dari ratusan peserta Senior Happy Run 5K 2026 yang tidak sekadar berlari, melainkan juga membawa misi menjaga warisan budaya.
Panggung Budaya di Tengah Aspal
Sorak-sorai penonton langsung terfokus pada kelompok ibu-ibu yang melangkah dengan kain tenun khas Dayak, selendang bermotif naga, serta hiasan kepala dari manik-manik dan bulu rangkong. Beberapa di antaranya adalah anggota komunitas arisan lintas suku yang sengaja memanfaatkan ajang lari lansia ini untuk memamerkan kekayaan budaya. "Kami ingin tunjukkan bahwa olahraga dan tradisi bisa berjalan beriringan. Lari sambil pakai baju adat itu menantang, tapi justru di situlah semangatnya," ujar Ibu Ratna, salah satu peserta asal Pontianak yang tinggal di Jakarta.
Total peserta yang memilih berlari dengan kostum daerah tercatat lebih dari 120 orang, dan mayoritas mengenakan busana adat dari Kalimantan, mulai dari Kutai, Banjar, hingga Dayak Kenyah. Panitia mencatat, dari 2.800 pelari yang terdaftar, sekitar 4 persen di antaranya mengenakan pakaian tradisional—sebuah peningkatan signifikan dibandingkan edisi sebelumnya yang hanya dihiasi segelintir kostum Jawa dan Bali.
Lari Sambil Menjaga Tradisi
Bukan perkara mudah menempuh lintasan 5 kilometer dengan pakaian berlapis dan aksesori yang cukup berat. Ibu Sari, 62 tahun, mengaku harus berlatih khusus agar tetap nyaman bergerak. "Saya pakai kebaya Kutai dengan kain panjang. Awalnya susah, tapi setelah dua minggu latihan di sekitar kompleks, sudah terbiasa. Yang penting tali sepatu kuat dan kain tidak tersangkut," katanya sambil tertawa. Para peserta senior ini tak hanya mengincar medali finis; mereka juga berkompetisi untuk mendapatkan perhatian juri khusus kategori kostum terbaik yang disediakan panitia.
Di sepanjang rute yang melewati kawasan perkantoran dan taman kota, teriakan penyemangat terus menggema. "Ayo ibu-ibu Kalimantan!" teriak seorang relawan dari pos air. Momen paling menghibur terjadi ketika rombongan ibu berbusana Bulang Burai melintas dengan formasi menari sambil berlari kecil, memicu tepuk tangan penonton. Tak sedikit peserta yang mengaku terinspirasi untuk ikut memakai pakaian adat pada tahun mendatang.
Olahraga untuk Semua Generasi
Senior Happy Run 5K 2026 memang dirancang untuk merangkul pelari berusia 50 tahun ke atas, namun semangat yang ditunjukkan para peserta berbaju adat justru menarik perhatian generasi lebih muda. Beberapa anak dan cucu turut hadir mendampingi, dan beberapa di antaranya juga mengenakan pakaian adat mini. "Ini cara yang paling asyik untuk mengenalkan budaya ke cucu," ujar Ibu Yohana, 67 tahun, yang membawa sang cucu perempuan berpakaian adat Banjar serba kuning.
Dari sisi kesehatan, para dokter yang bertugas menyebut kegiatan fisik dengan intensitas ringan seperti jalan cepat atau jogging dalam balutan pakaian adat tetap aman, asalkan peserta menjaga hidrasi dan tidak memaksakan diri. "Kami lihat ibu-ibu ini sangat siap. Mereka ceria, tekanan darah normal, dan rata-rata finis dalam waktu 45–60 menit," kata dr. Ari, koordinator medis acara. Total ada 12 pos kesehatan dan 5 ambulans yang disiagakan sepanjang lintasan.
Merajut Kebersamaan Lewat Keringat dan Tenun
Di garis finish, setiap pelari berbaju adat disambut dengan kalungan bunga serta sertifikat penghargaan budaya. Beberapa di antaranya langsung dikerubungi media dan fotografer. Panitia penyelenggara, Budi Santoso, mengatakan bahwa fenomena ini memang disambut positif. "Kami tidak menduga antusiasme sebesar ini. Acara lari lansia biasanya identik dengan kaos oblong, tapi hari ini kita lihat sendiri bagaimana baju adat membuat Senior Happy Run jadi lebih bermakna. Tahun depan, kami akan buka kategori resmi untuk pelari berkostum daerah," ujarnya.
Acara ditutup dengan foto bersama seluruh peserta berkostum di depan panggung utama, membentuk mozaik budaya yang diabadikan dari udara menggunakan drone. Para ibu berbusana Kalimantan pun menjadi bintang utama. Dengan keringat yang masih membasahi dahi, mereka membuktikan bahwa identitas budaya bukan penghalang untuk tetap bugar dan bersenang-senang di usia senja.
Baca juga:
Comments (0)