Oct 21, 2026
Olahraga

Scaloni Tertunduk Usai Argentina Takluk di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 0-0 setelah 120 menit, namun Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menang 4-3 dalam adu penalti atas Argentina di Stadion MetLife, New York/New Jersey, East Rutherford, Ming...

Scaloni Tertunduk Usai Argentina Takluk di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 0-0 setelah 120 menit, namun Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menang 4-3 dalam adu penalti atas Argentina di Stadion MetLife, New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026). Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Lionel Scaloni, pelatih kepala Timnas Argentina, yang terlihat terdiam di pinggir lapangan saat peluit panjang ditiup. Wajahnya kosong, tatapannya menerawang ke arah tribun yang masih bergemuruh merayakan euforia Spanyol. Momen itu terekam jelas kamera: seorang pelatih yang baru saja kehilangan gelar paling bergengsi di dunia sepak bola.

Jalannya Pertandingan: Duel Taktis Tanpa Gol

Sejak menit pertama, kedua tim menampilkan pendekatan berbeda. Scaloni menurunkan formasi 4-3-3 dengan starting XI yang mengandalkan kecepatan di sisi sayap serta kontrol lini tengah. Spanyol, di bawah asuhan Luis de la Fuente, merespons dengan 4-2-3-1 yang menekankan penguasaan bola dan pressing terstruktur. Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola Spanyol mencapai 58 persen berbanding 42 persen milik Argentina. Meski demikian, Argentina menciptakan peluang lebih berbahaya melalui serangan balik cepat. Menit ke-23, sebuah umpan terobosan dari lini tengah Argentina hampir berbuah gol, namun tendangan penyerang mereka masih membentur tiang gawang. Hingga menit ke-45, shots on target Argentina tercatat 2, sedangkan Spanyol 1.

Babak kedua berjalan lebih intens. Spanyol meningkatkan tempo, memaksa Argentina bertahan lebih dalam. Menit ke-67, kiper Argentina melakukan penyelamatan krusial dengan kaki setelah sundulan tajam dari dalam kotak penalti. Scaloni kemudian melakukan rotasi: memasukkan dua pemain segar untuk menambah daya gedor. Namun, rapatnya pertahanan Spanyol membuat peluang tercipta sulit. Sepanjang 90 menit, total tembakan Argentina 9 dengan 3 on target, sementara Spanyol 12 tembakan dengan 4 on target. Tidak ada kartu merah, hanya 3 kartu kuning untuk Argentina dan 2 untuk Spanyol. VAR beberapa kali memeriksa potensi penalti, namun tidak ada keputusan yang mengubah skor.

Perpanjangan Waktu dan Drama Adu Penalti

Memasuki extra time, kelelahan mulai terlihat. Spanyol mendominasi penguasaan bola hingga 61 persen di babak tambahan, tetapi Argentina bertahan disiplin. Peluang emas didapat Spanyol menit ke-105 melalui tendangan bebas, namun membentur mistar. Scaloni terlihat memberi instruksi intens dari pinggir lapangan, mengatur barisan pertahanan agar tetap kompak. Hingga 120 menit, skor tetap 0-0. Adu penalti pun menjadi penentu. Argentina mengonversi tiga dari empat eksekusi, sementara Spanyol sempurna dengan empat gol. Kiper Spanyol menjadi pahlawan setelah menepis satu tendangan Argentina. Skor akhir adu penalti: 4-3 untuk Spanyol.

"Kami kehilangan konsentrasi di momen krusial. Para pemain sudah memberikan segalanya, tetapi sepak bola terkadang kejam. Saya bertanggung jawab atas hasil ini," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai pertandingan, dikutip dari keterangan resmi federasi.

Analisis: Celah Takti dan Masa Depan Scaloni

Secara statistik, Argentina tidak kalah jauh. Mereka mencatat 47 persen penguasaan bola secara keseluruhan, 11 shots dengan 4 on target, serta akurasi umpan 82 persen. Namun, ketajaman di depan gawang menjadi pembeda. Spanyol lebih efektif memanfaatkan ruang, dengan 6 peluang besar berbanding 3 milik Argentina. Formasi 4-3-3 Scaloni sejatinya mampu menyeimbangkan lini, tetapi keputusan menunda pergantian pemain hingga menit ke-75 dianggap sebagian pengamat mengurangi momentum. Bek tengah Argentina juga tercatat melakukan 14 clearance, tanda tekanan Spanyol begitu tinggi sepanjang laga.

Kekalahan ini menambah catatan pahit bagi Scaloni, yang sebelumnya membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022. Kontraknya akan dievaluasi dalam beberapa pekan ke depan. Nama-nama pelatih top mulai dikaitkan dengan kursi kepelatihan, meski publik Argentina masih memberi dukungan. Yang jelas, malam di East Rutherford menjadi momen refleksi: sebuah tim yang datang dengan ambisi besar harus mengakui keunggulan lawan melalui drama penalti yang mendebarkan. Bagi Spanyol, gelar ini melengkapi dominasi mereka di sepak bola internasional. Bagi Argentina dan Scaloni, ini adalah luka yang butuh waktu untuk sembuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User