LIMA — Presiden Argentina, Javier Milei, menginjakkan kaki di Bandara Internasional Jorge Chávez, Lima, pada Senin, 28 Juli 2026, untuk menghadiri pelantikan Presiden terpilih Peru, Keiko Fujimori. Kehadiran Milei bukan sekadar protokol diplomatik biasa; ini menandai babak baru poros kanan di Amerika Latin yang tengah mencari titik temu di tengah gejolak ekonomi kawasan. Dalam lanskap politik yang bergerak cepat, langkah Milei ini menjadi sinyal kuat bahwa Buenos Aires dan Lima tengah menyusun starting XI diplomasi yang solid menghadapi tekanan global.
Simbolisme Kedatangan: Lebih dari Sekadar Seremonial
Milei tiba dengan pesawat kepresidenan sekitar pukul 09.15 waktu setempat. Ia disambut oleh pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Peru dan pengawal kehormatan. Momen ini mengingatkan pada assist politik yang jarang terjadi: dua pemimpin dengan agenda pasar bebas berusaha menyatukan visi di kawasan yang selama dua dekade didominasi gelombang kiri. Fujimori, yang memenangkan pemilu dengan selisih tipis, mengundang Milei secara personal sebagai bentuk dukungan ideologis. Bagi Milei, ini adalah clean sheet diplomatik — kehadirannya menegaskan bahwa Argentina di bawah kepemimpinannya tidak ragu menjalin aliansi strategis dengan pemerintahan yang sealiran.
Penguasaan bola opini publik di Peru sendiri terbelah. Sebagian melihat kedatangan Milei sebagai angin segar investasi, sebagian lagi waspada terhadap gaya retorikanya yang keras. Namun, data menunjukkan hubungan dagang Argentina-Peru dalam lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 6,8 persen per tahun, dengan nilai perdagangan bilateral menembus USD 3,4 miliar pada 2025. Angka ini menjadi dasar kuat bagi kedua negara untuk memperdalam kerja sama energi dan pangan.
“Kawasan ini butuh keberanian untuk keluar dari jebakan populisme. Peru dan Argentina punya peluang emas,” ujar Milei singkat kepada media sebelum meninggalkan bandara, dikutip dari keterangan pers istana kepresidenan.
Analisis Babak Pertama: Agenda Tersembunyi di Balik Pelantikan
Menit ke-1 diplomasi dimulai ketika Milei dijadwalkan bertemu Fujimori secara bilateral usai upacara pelantikan di Kongres Peru. Sumber di lingkungan istana Peru menyebut ada tiga agenda utama: percepatan perjanjian perdagangan bebas, kerja sama lithium, dan koordinasi keamanan perbatasan. Jika terwujud, ini bisa menjadi hat-trick kebijakan luar negeri dalam satu kunjungan.
Dari sisi formasi politik, Milei memainkan peran gelandang serang — menghubungkan blok kanan di Amerika Selatan yang kini mencakup Peru, Argentina, dan beberapa negara lain. Sementara Fujimori, dalam starting XI pemerintahannya, butuh legitimasi internasional cepat pasca pemilu yang polaris. Kehadiran Milei memberi assist kredibilitas yang tidak kecil.
Namun, statistik politik tidak selalu linier. Tingkat approval Fujimori saat pelantikan berada di angka 41 persen, sementara Milei 47 persen di Argentina. Keduanya menghadapi kartu kuning dari oposisi domestik: Milei dituding terlalu agresif dalam reformasi ekonomi, Fujimori dihantui bayang-bayang warisan politik ayahnya. Maka, kunjungan ini juga berfungsi sebagai VAR politik — memeriksa apakah aliansi mereka sah dan menguntungkan secara elektoral.
Dampak Regional dan Proyeksi ke Depan
Kehadiran Milei di Lima memicu reaksi berantai. Brasil dan Chile, dua raksasa ekonomi kawasan, memantau ketat pergeseran poros ini. Jika Argentina dan Peru benar-benar mengikat diri dalam pakta ekonomi, penguasaan bola pengaruh di Amerika Latin bisa bergeser dari aliansi kiri ke poros kanan-pasar bebas. Bagi investor, ini adalah sinyal shots on target: stabilitas kebijakan dan keterbukaan pasar.
Di sisi lain, kelompok sipil di Peru menggelar aksi kecil menolak kehadiran Milei. Mereka membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap kebijakan pemotongan subsidi. Aksi ini tidak mengganggu jalannya upacara, tetapi menjadi catatan bahwa offside politik masih mungkin terjadi bila agenda ekonomi tidak inklusif.
Usai pelantikan, Milei dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan di Palacio de Gobierno sebelum kembali ke Buenos Aires pada 29 Juli. Dalam jamuan itu, diperkirakan akan ada diskusi tertutup soal investasi tambang dan infrastruktur. Skor akhir kunjungan ini belum bisa ditentukan, tetapi satu hal jelas: Milei telah melepaskan tendangan pertama dalam babak baru diplomasi kawasan. Menit-menit berikutnya akan menentukan apakah bola masuk ke gawang kerja sama atau melenceng ke tiang politik identitas.
Yang pasti, publik Amerika Latin kini menunggu apakah aliansi Argentina-Peru ini menghasilkan clean sheet kesejahteraan atau justru kartu merah bagi stabilitas regional. Statistik akan berbicara, dan lapangan diplomasi tidak pernah memberi waktu istirahat.
Comments (0)