Pulang Bersejarah, Timnas Mesir Disambut Bak Raja
Rangkaian sirene dan nyanyian membahana di Bandara New Alamein, Mesir, Jumat (10/7) sore. Timnas Mesir akhirnya pulang setelah menorehkan sejarah terhebat dalam partisipasi mereka di Piala Dunia. Buka...
Rangkaian sirene dan nyanyian membahana di Bandara New Alamein, Mesir, Jumat (10/7) sore. Timnas Mesir akhirnya pulang setelah menorehkan sejarah terhebat dalam partisipasi mereka di Piala Dunia. Bukan sekadar lolos dari fase grup, Mohamed Salah dan kawan-kawan sukses membawa pulang medali perunggu — pencapaian pertama bagi negara Arab dan Afrika Utara di turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat. Ribuan suporter yang telah menanti sejak subuh langsung menyerbu apron bandara begitu pintu pesawat charter EgyptAir terbuka, mengubah area kedatangan menjadi lautan merah, putih, dan hitam.
Perjalanan Epik: Dari Underdog Hingga Podium
Mesir memulai kampanye di Grup E yang dijuluki “Grup Neraka” bersama Jerman, Brasil, dan Jepang. Pada laga pembuka, strategi low-block racikan pelatih Rui Vitória sukses meredam Jerman. Menit ke-34, Mohamed Salah melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut kiri gawang Manuel Neuer — satu-satunya gol di laga itu. Mesir menang 1-0 meski hanya menguasai 29% penguasaan bola dan mencatat 3 tembakan tepat sasaran berbanding 7 milik Jerman. Hasil tersebut langsung mengguncang peta persaingan.
Pertandingan kedua menghadapi Brasil berakhir dramatis. Sempat tertinggal 0-2 lewat gol Vinícius Júnior di menit 12 dan 27, Mesir bangkit. Trezeguet memperkecil skor di menit ke-55, lalu Mostafa Mohamed menyamakan kedudukan di menit ke-77 memanfaatkan assist ciamik Salah. Skor akhir 2-2. Statistik mencatat Mesir hanya melepaskan 6 tembakan dengan 4 tepat sasaran, menunjukkan efisiensi mematikan. Kekalahan tipis 0-1 dari Jepang di laga terakhir — lewat eksekusi penalti Takefusa Kubo menit ke-81 — tak menghalangi langkah The Pharaohs ke babak gugur sebagai runner-up grup dengan 4 poin.
Babak 16 besar mempertemukan Mesir dengan Portugal. Pertandingan berjalan ketat selama 90 menit tanpa gol. Di babak perpanjangan waktu, keajaiban terjadi: Salah mencatatkan brace. Ia mencetak gol di menit ke-105 lewat sundulan hasil umpan silang Ahmed Sayed, lalu menit ke-119 ia menusuk dari sisi kanan dan melepaskan tembakan rendah yang tak mampu dihalau Diogo Costa. Portugal sempat membalas via João Félix di menit 112, namun skor 2-1 untuk Mesir bertahan hingga peluit panjang. Penguasaan bola Mesir hanya 35%, tetapi jumlah tembakan tepat sasaran mereka mencapai 7 dari total 12 percobaan — bukti klinisnya lini depan tim arahan Vitória.
Perempat final mempertemukan juara bertahan Argentina. Lionel Messi membuka skor di menit ke-23 melalui tendangan bebas indah. Mesir kembali menyamakan kedudukan lewat sundulan Ahmed Hegazi pada menit ke-67 memanfaatkan situasi sepak pojok. Skor 1-1 bertahan hingga 120 menit. Dalam drama adu penalti, kiper Mohamed El-Shenawy menjadi pahlawan dengan menepis dua eksekusi pemain Argentina. Eksekutor kelima Mesir, Omar Marmoush, menuntaskan tugasnya dengan dingin. Mesir menang 5-4 di babak tos-tosan, menyingkirkan La Albiceleste dan memastikan tiket semifinal untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Sayangnya, perjalanan dihentikan Spanyol di semifinal. Dua gol cepat dari Pedri (menit ke-15) dan Álvaro Morata (menit ke-28) membuat Mesir tak mampu mengejar. Meski Salah dkk. mendominasi babak kedua dengan 5 tembakan tepat sasaran, solidnya pertahanan Unai Simón membuat skor 2-0 tak berubah. Namun, panggung belum usai.
Pertandingan Perebutan Tempat Ketiga: Hat-trick Salah Bungkam Inggris
Laga perebutan medali perunggu melawan Inggris menjadi panggung keabadian Mohamed Salah. Mesir tampil menyerang dengan formasi 4-3-3 cair. Pada menit ke-16, Salah menuntaskan umpan terobosan Marmoush dengan chip cerdas melewati Jordan Pickford. 1-0. Inggris membalas lewat Jude Bellingham di menit ke-39. Skor 1-1 saat turun minum.
Babak kedua baru berjalan dua menit, Salah kembali menjebol gawang Inggris lewat tendangan first-time dari dalam kotak penalti. Di menit ke-68, ia melengkapi hat-trick melalui titik putih setelah Marmoush dijatuhkan di area terlarang. Inggris memperkecil ketertinggalan via Bukayo Saka di menit ke-82, tetapi Mesir bertahan dengan gagah hingga skor akhir 3-2. Statistik mencatat Mesir unggul penguasaan bola 46%, dengan total 9 tembakan tepat sasaran. Hat-trick itu membuat Salah menutup turnamen sebagai pencetak gol terbanyak kedua dengan 7 gol, hanya kalah satu gol dari Kylian Mbappé.
Podium ketiga ini adalah pencapaian tertinggi tim asal Afrika di Piala Dunia, melampaui capaian Kamerun (perempat final 1990), Senegal (perempat final 2002), dan Ghana (perempat final 2010). Lebih dari itu, ini menjadi medal pertama bagi negara Arab.
Sambutan Hangat di Bandara New Alamein dan Euforia Nasional
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, tangis haru dan gemuruh takbir langsung pecah. Ribuan suporter yang memadati terminal VIP tak sabar ingin memeluk pahlawan mereka. Mohamed Salah, yang turun dengan medali perunggu tergantung di leher, menjadi pusat perhatian. Ia mengangkat trofi individu “Silver Ball” sebagai pemain terbaik kedua turnamen — pencapaian yang belum pernah diraih pemain Afrika sebelumnya.
“Ini bukan sekadar kemenangan saya. Ini kemenangan seluruh rakyat Mesir, seluruh dunia Arab, dan seluruh Afrika. Saya hanya menunaikan janji yang pernah saya ucapkan kepada ibu saya: membawa pulang medali Piala Dunia,” ujar Salah dengan suara bergetar.
Pelatih Rui Vitória yang sempat diragukan awal turnamen pun mendapat sambutan bak pahlawan.
“Saya katakan kepada pemain sebelum turnamen: kita bisa menulis sejarah, bukan hanya berpartisipasi. Mereka percaya, dan mereka melakukannya. Pencapaian ini akan mengubah persepsi sepak bola Mesir selamanya,” kata Vitória.
Presiden Mesir yang turut hadir di bandara langsung memutuskan memberikan bonus negara sebesar 1 juta pound Mesir untuk setiap pemain serta membangunkan stadion baru di Alexandria sebagai simbol “Generasi Perunggu”. Pawai dari bandara menuju ibu kota Kairo berubah menjadi pesta rakyat yang membentang puluhan kilometer. Bendera nasional berkibar di setiap sudut, anak-anak berlarian dengan kaus replika Salah, dan mural-mural pemain tergambar di gedung-gedung tinggi.
Tak hanya euforia sesaat, keberhasilan ini memicu lonjakan pendaftaran akademi sepak bola di seluruh negeri. Federasi Sepak Bola Mesir melaporkan peningkatan pendaftar hingga 300% dalam sepekan pasca pencapaian bersejarah itu. Analis menyebut efek ini sebagai “Salahmania 2.0” yang akan menyuburkan bakat-bakat baru di Lembah Nil.
Dengan skuad yang diisi kombinasi pemain veteran dan talenta muda seperti Marmoush (25 tahun), Ibrahim Adel (23 tahun), serta bek tangguh Hegazi yang masih berusia 32 tahun, Mesir optimis menghadapi Piala Afrika mendatang dan kualifikasi Piala Dunia edisi berikutnya. Momen di bandara bukan sekadar sambutan pulang; ia menandai lahirnya kekuatan besar sepak bola dunia yang selama ini tidur di balik piramida.
Baca juga:
Comments (0)