JAKARTA — PT Pertamina resmi membuka suara soal status perpanjangan hak penamaan (naming right) untuk gelaran MotoGP Indonesia 2027. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, manajemen perusahaan pelat merah itu menegaskan bahwa proses negosiasi masih berjalan dan belum ada keputusan final terkait kelanjutan kerja sama dengan Dorna Sports selaku pemegang lisensi MotoGP.
"Kami masih dalam tahap pembahasan intensif. Semua opsi terbuka, termasuk memperpanjang kontrak yang ada," ujar seorang petinggi Pertamina dalam sesi tanya jawab dengan awak media. Pernyataan ini sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang sejak beberapa pekan terakhir soal masa depan sirkuit Mandalika sebagai tuan rumah balapan kelas premier.
Jejak Kerja Sama Sejak 2021
Pertamina pertama kali menempelkan namanya pada ajang MotoGP Indonesia melalui kesepakatan yang diumumkan pada 2021. Sejak saat itu, gelaran di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dikenal dengan nama Pertamina Grand Prix of Indonesia. Kesepakatan awal mencakup periode tiga tahun, yang kemudian diperpanjang hingga musim 2026.
Selama periode tersebut, Pertamina tidak hanya berperan sebagai sponsor utama, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivasi pendukung, mulai dari pengembangan sirkuit, penyediaan fasilitas energi, hingga program CSR bagi masyarakat sekitar. Data internal menunjukkan kunjungan penonton ke Mandalika pada edisi 2024 menembus angka 102.000 orang selama tiga hari penyelenggaraan, dengan tingkat hunian hotel di kawasan Lombok meningkat 87 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi performa di lintasan, MotoGP Indonesia 2024 menyajikan balapan yang relatif bersih. Hanya tiga pembalap yang gagal finis akibat insiden, sementara penguasaan bola tidak relevan dalam konteks balapan motor. Namun, catatan menarik datang dari sektor kecepatan: Francesco Bagnaia mencatatkan lap tercepat dengan waktu 1 menit 30,539 detik saat sesi kualifikasi, sementara Jorge Martin memenangi balapan sprint dengan selisih 0,3 detik dari pembalap kedua.
Dampak Ekonomi dan Posisi Tawar
Bagi Pertamina, keberlanjutan naming right bukan sekadar soal eksposur merek. Gelaran MotoGP di Mandalika diklaim menyumbang Rp 4,5 triliun terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) NTB sepanjang 2023–2024. Angka ini menjadi salah satu argumen utama perusahaan untuk melanjutkan kemitraan, terutama di tengah tekanan global terhadap industri energi fosil yang kian menghadapi transisi hijau.
"Kami melihat MotoGP sebagai platform strategis untuk memperkenalkan lini energi baru dan kendaraan listrik. Ini bukan sekadar ajang balapan, tapi juga panggung transformasi bisnis," tambah sumber tersebut.
Namun, sejumlah pengamat menilai posisi tawar Pertamina justru menguat menjelang 2027. Pasalnya, Dorna Sports dikabarkan tengah membidik sejumlah sponsor global untuk memperluas pangsa pasar MotoGP di Asia Tenggara. Dengan basis penonton lebih dari 200 juta jiwa di kawasan ini, nama Pertamina dianggap masih aset berharga bagi penyelenggara.
"Kalau Pertamina mundur, Dorna harus mencari pengganti yang siap menggelontorkan dana besar. Tapi kalau Pertamina bertahan, keduanya bisa menikmati ekspansi pasar yang lebih agresif," ujar seorang analis olahraga kepada Beritainti.
Rivalitas Sponsor dan Agenda Selanjutnya
Di sisi lain, sejumlah merek otomotif dan energi global dikabarkan telah menyampaikan minat untuk masuk sebagai sponsor utama. Situasi ini membuat proses negosiasi berpotensi alot, terutama terkait nilai kontrak yang beredar di kisaran Rp 300–400 miliar per musim. Jika tercapai kesepakatan, durasi perpanjangan diprediksi menyentuh angka lima tahun, lebih panjang dari periode sebelumnya.
Yang jelas, status Pertamina sebagai title sponsor MotoGP Indonesia hingga 2026 masih sah. Artinya, masih ada waktu sekitar satu tahun bagi kedua pihak untuk mencapai kata sepakat sebelum musim 2027 bergulir. Jika tidak ada kesepakatan, sirkuit Mandalika tetap bisa menggelar balapan, hanya saja tanpa embel-embel nama Pertamina di judulnya.
Dalam konteks persaingan MotoGP yang kian ketat — dengan formasi tim yang terus berubah dan regulasi teknis baru pada 2027 — kepastian sponsor menjadi krusial. Tanpa dukungan finansial yang stabil, penyelenggaraan balapan di Mandalika berisiko kehilangan daya tarik, baik di mata pembalap maupun penonton.
Pertamina sendiri menegaskan akan mengumumkan keputusan final paling lambat kuartal pertama 2026. Sampai saat itu, publik Tanah Air tampaknya harus bersabar menanti apakah nama perusahaan energi plat merah itu masih akan terpampang di banner start-finish Sirkuit Mandalika pada MotoGP 2027.
Satu hal yang pasti: apapun keputusannya, Mandalika telah membuktikan diri sebagai salah satu sirkuit paling menantang di kalender MotoGP. Dengan karakter tikungan cepat dan trek lurus panjang, sirkuit ini kerap melahirkan pertarungan sengit hingga lap terakhir. Dan itu adalah nilai jual yang tak ternilai — terlepas dari siapa yang menempelkan namanya di sana.
Comments (0)