Oct 10, 2026
Olahraga

Messi Tutup 21 Tahun Karier Argentina di Monumental

Skor akhir 3-1 untuk Argentina atas Bolivia pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Estadio Monumental, Buenos Aires, Jumat dini hari WIB, bukan sekadar angka. Menit ke-90+2, peluit panjang berbunyi...

Messi Tutup 21 Tahun Karier Argentina di Monumental

Skor akhir 3-1 untuk Argentina atas Bolivia pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Estadio Monumental, Buenos Aires, Jumat dini hari WIB, bukan sekadar angka. Menit ke-90+2, peluit panjang berbunyi, dan Lionel Messi menutup 21 tahun perjalanan bersama timnas Argentina. Gelora 86.000 penonton pecah, tetapi tangis pemain 38 tahun itu yang paling nyaring terdengar di kamera.

La Pulga menanggalkan ban kapten, menyapukan tangan ke lambang AFA di dada kiri, lalu mengangkat tangan ke tribun. Statistik laga mencatat ia bermain 90 menit penuh dengan 1 gol, 1 assist, 6 tembakan (4 shots on target), dan akurasi umpan 88 persen. Bagi pemain yang sudah mencetak lebih dari 110 gol untuk Albiceleste, angka ini biasa saja. Malam ini, angkanya tak pernah soal angka.

Babak Pertama: Trofi, Umpan, dan Warisan di Menit ke-18

Argentina memakai starting XI formasi 4-3-3 dengan Messi sebagai false nine. Menit ke-18, ia melepas umpan terobosan terukur kepada Julian Alvarez yang tinggal berhadapan dengan kiper. Assist itu membuka skor menjadi 1-0, sekaligus penanda bahwa Messi masih membaca ruang lebih cepat dari pemain mana pun di lapangan.

Penguasaan bola babak pertama berakhir 65 persen untuk Argentina dengan 9 shots on target. Bolivia mencoba menekan tinggi lewat formasi 5-4-1, tetapi setiap kali garis pertahanan tamu naik, Messi bergerak ke ruang antara lini tengah dan belakang. VAR sempat memeriksa satu situasi offside pada menit ke-31, namun gol kedua Argentina tetap sah karena Messi menarik dua bek sebelum melepas bola ke sisi kanan.

Menit ke-44, Estadio Monumental bergemuruh. Messi menerima bola di tepi kotak penalti, menahan, lalu melepaskan tendangan kaki kiri yang bersarang ke sudut atas. Skor 2-0. Itu gol internasional ke-112-nya, dan cara selebrasi sesudahnya berbeda: ia tidak berlari ke sudut bendera, hanya menatap tribun sambil tersenyum tipis.

Babak Kedua: Kartu Kuning, Pergantian, dan Emosi yang Tak Bisa Ditahan

Bolivia memperkecil skor pada menit ke-58 lewat sepakan jarak jauh setelah kemelut di kotak penalti. Pelatih Argentina merespons dengan menarik dua pemain sayap dan menggeser Messi ke posisi nomor 10 murni. Statistik mencatat penguasaan bola Argentina turun menjadi 58 persen, tetapi jumlah peluang bersih tetap naik menjadi 7 di paruh kedua.

Menit ke-74, Messi mendapat kartu kuning—bukan karena pelanggaran keras, melainkan protes berlebihan kepada wasit soal pelanggaran yang tidak diberikan. Kartu itu justru memicu tepuk tangan tribun. Menit ke-82, gol ketiga Argentina lahir dari skema yang sudah dilatih bertahun-tahun: Messi menarik tiga pemain, melepas bola ke bek sayap, lalu umpan silang diselesaikan menjadi 3-1.

Di bangku cadangan, para pemain pengganti berdiri sepanjang sepuluh menit terakhir. Ketika wasit meniup peluit akhir, seluruh staf pelatih masuk ke lapangan. Messi menutup wajahnya dengan kedua tangan sebelum memeluk rekan-rekannya satu per satu. Clean sheet tidak tercatat, tetapi tak ada yang peduli.

Tangis di Pusat Lingkaran: Akhir Sebuah Era

Usai laga, Messi hanya duduk di pusat lingkaran lapangan selama beberapa menit. Kamera menangkap bahunya bergetar. 21 tahun sejak debut pada 2005, ia sudah menorehkan lebih dari 190 caps, 112 gol internasional, dan trofi Piala Dunia 2022, dua Copa America, serta satu Finalissima. Angka itu menempatkannya sebagai pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah sepak bola nasional.

"Malam ini bukan tentang saya," kata Messi dalam konferensi pers, dikutip dari ruang media Monumental. "Ini tentang anak-anak yang tumbuh ingin bermain untuk Argentina. Saya hanya salah satu dari mereka yang beruntung bisa melakukannya selama 21 tahun."

Pelatih Argentina menambahkan bahwa keputusan Messi sudah dibicarakan sejak akhir tahun lalu. "Dia ingin keluar dengan cara yang dia pilih sendiri, di depan orang-orangnya. Tidak banyak pemain yang mendapat hak istimewa itu," ujarnya.

Statistik Akhir dan Makna Sebuah Perpisahan

Secara keseluruhan, Argentina mencatat penguasaan bola 62 persen, 19 tembakan, 11 shots on target, 8 peluang bersih, dan 4 kartu kuning. Bolivia menutup laga dengan 4 tembakan tepat sasaran dan satu gol hiburan. Namun, yang paling sering diulang di layar stadion bukan statistik itu, melainkan tulisan sederhana: "Gracias, Leo."

Pergantian era akan segera datang. Alvarez, Enzo Fernandez, dan generasi baru sudah mengambil beban lebih besar dalam dua tahun terakhir. Tetapi malam di Monumental menjadi pengingat bahwa transisi dalam sepak bola jarang berjalan mulus. Argentina kehilangan nomor 10 yang selama dua dekade menjadi pusat gravitasi permainan mereka—dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam 21 tahun, mereka harus membayangkan hidup tanpanya.

Bagi Messi, karier internasional berakhir bukan dengan trofi, melainkan dengan tangis di lapangan yang sudah menjadi rumah keduanya. Dan seperti hampir semua hal dalam kariernya, ia melakukannya dengan cara yang tak bisa disalin pemain lain: tidak dramatis, tidak berlebihan, tetapi selalu tepat di momen yang paling berarti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User