Momen kunci dari pernyataan terbaru Lionel Messi bukanlah sebuah gol atau trofi, melainkan sebuah pengakuan jujur: ia belum sepenuhnya menyadari besarnya pencapaiannya bersama tim nasional Argentina. Dalam sebuah wawancara, kapten Tim Tango itu menyatakan bahwa semua yang ia raih bersama La Albiceleste—mulai dari gelar Copa America 2021, Finalissima 2022, hingga Piala Dunia 2022—masih terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia cerna. "Saya masih belum sadar sepenuhnya apa yang telah kami capai," ujarnya, dikutip dari pernyataannya. Pernyataan ini menjadi pembuka babak baru dalam narasi karier Messi, yang kini berada di ambang pensiun dari sepak bola internasional.
Rekam Jejak Statistik yang Mengejutkan
Jika berbicara data, pencapaian Messi bersama Argentina memang luar biasa. Sepanjang kariernya di level internasional, ia telah mencatatkan lebih dari 180 penampilan dan mencetak lebih dari 100 gol—sebuah angka yang jarang disentuh pemain mana pun. Ia juga menorehkan puluhan assist, menjadikannya sebagai salah satu playmaker paling produktif dalam sejarah tim nasional. Di Piala Dunia 2022, Messi tampil dalam 7 pertandingan dengan total 7 gol dan 3 assist, serta memenangkan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Penguasaan bola Argentina di laga final melawan Prancis mencapai 54 persen, dengan 8 shots on target dari 18 percobaan—sebuah pertunjukan yang dipimpin langsung oleh Messi.
Namun, di balik angka-angka itu, Messi mengaku bahwa tekanan dan ekspektasi selama bertahun-tahun membuatnya sulit menikmati momen. "Saya selalu fokus pada pertandingan berikutnya, pada trofi berikutnya. Sekarang, ketika saya melihat ke belakang, baru terasa betapa berat perjalanan ini," tambahnya. Sejak debutnya pada 2005, Messi telah melewati empat final besar yang berakhir dengan kekalahan—Copa America 2007, 2015, 2016, dan Piala Dunia 2014—sebelum akhirnya memecah kutukan pada 2021.
Dari Kutukan Final ke Puncak Dunia
Perjalanan Argentina di bawah kapten Messi memang penuh drama. Formasi 4-3-3 yang diterapkan Lionel Scaloni memberikan kebebasan bagi Messi untuk bergerak di antara lini, sering kali turun ke tengah untuk mengatur serangan. Di Copa America 2021, Argentina mengalahkan Brasil 1-0 di final, dengan gol semata wayang Angel Di Maria pada menit ke-22. Penguasaan bola Argentina saat itu hanya 46 persen, tetapi mereka unggul dalam efisiensi dengan 5 shots on target berbanding 2 milik Brasil. Kemenangan itu menjadi titik balik mental bagi seluruh skuad.
Setahun kemudian, di Finalissima 2022 melawan Italia, Argentina tampil dominan dengan skor 3-0. Messi menyumbang dua assist dalam laga itu, sementara Lautaro Martinez dan Di Maria mencetak gol. Data menunjukkan Argentina memiliki 58 persen penguasaan bola dan 7 shots on target. Kemenangan ini semakin mengukuhkan status Messi sebagai pemimpin sejati, bukan hanya sebagai pemain bintang.
Puncaknya tentu saja Piala Dunia 2022 di Qatar. Final melawan Prancis menjadi salah satu laga terbaik dalam sejarah turnamen. Argentina unggul 2-0 hingga menit ke-80, sebelum Kylian Mbappe mencetak dua gol dalam rentang 97 detik. Laga berlanjut ke perpanjangan waktu, di mana Messi mencetak gol pada menit ke-108. Mbappe kembali menyamakan kedudukan melalui penalti, memaksa adu penalti. Dalam drama itu, kiper Emiliano Martinez menjadi pahlawan dengan dua penyelamatan, dan Argentina menang 4-2.
Warisan dan Masa Depan Tanpa Messi
Messi mengaku bahwa trofi Piala Dunia 2022 adalah puncak dari segalanya. "Setelah itu, saya merasa tidak ada lagi yang perlu saya buktikan. Tapi anehnya, saya masih merasa ada yang kurang—mungkin karena saya belum benar-benar merenung," katanya. Pelatih Scaloni pun angkat bicara. "Leo adalah pemimpin yang tenang. Dia tidak pernah bicara banyak, tapi semua orang mendengarkan. Apa yang dia capai bersama tim ini tidak akan terulang dalam waktu dekat," ujar Scaloni dalam konferensi pers terpisah.
Dengan usia yang kini menginjak 37 tahun, spekulasi tentang pensiun Messi dari tim nasional semakin kuat. Namun, ia belum memberikan keputusan final. Yang jelas, warisannya bersama Argentina sudah terukir dalam sejarah: 1 Piala Dunia, 1 Copa America, 1 Finalissima, dan 1 medali emas Olimpiade (2008). Ia juga menjadi top skor sepanjang masa Argentina dengan lebih dari 100 gol, serta pemegang rekor penampilan terbanyak.
Bagi penggemar sepak bola, pernyataan Messi ini menjadi pengingat bahwa bahkan seorang jenius pun bisa merasa belum selesai. Namun, data dan trofi sudah berbicara lebih lantang dari kata-kata. Ketika Messi akhirnya memutuskan untuk pensiun, ia akan meninggalkan lapangan sebagai salah satu pemain terbesar yang pernah ada—dengan koleksi pencapaian yang mungkin baru akan ia sadari sepenuhnya beberapa tahun kemudian. Sementara itu, Argentina harus bersiap memasuki era baru tanpa ikon yang telah mendefinisikan satu generasi. Akankah mereka mampu mempertahankan dominasi? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: tidak akan ada lagi Lionel Messi.
Comments (0)