Lionel Messi menutup babak karier internasionalnya dengan catatan yang nyaris mustahil diulang: 194 penampilan, 112 gol, dan tiga trofi mayor bersama Timnas Argentina. Namun di balik deretan angka itu, sang kapten mengaku belum sepenuhnya mampu mencerna besarnya pencapaian yang ia torehkan sepanjang lebih dari satu dekade membela La Albiceleste. Pernyataan itu muncul ketika ia berbicara tentang masa pensiun dan warisan yang ia tinggalkan di sepak bola internasional.
"Saya belum benar-benar menyadari semua yang terjadi," ujar Messi, dikutip dari wawancara eksklusifnya. "Semuanya berjalan begitu cepat. Satu momen berganti momen lain, dan tiba-tiba Anda sudah berada di titik ini."
Jejak Angka yang Sulit Ditandingi
Mari kita bedah datanya. Dengan 194 caps, Messi adalah pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah Argentina, melampaui Javier Mascherano yang mengoleksi 147 caps. Dari jumlah itu, ia mencetak 112 gol — sebuah rekor yang membuatnya menjadi top skorer sepanjang masa negaranya, jauh di atas Gabriel Batistuta (54 gol) dan Sergio Agüero (42 gol).
Di level turnamen, Messi mencatatkan 13 gol di Piala Dunia FIFA, menjadikannya pencetak gol terbanyak Argentina di ajang tersebut. Ia juga menyumbang 8 assist di putaran final Piala Dunia, angka yang menempatkannya di jajaran elite playmaker global. Di Copa América, ia mengoleksi 14 gol dan menjadi bagian dari dua gelar juara edisi 2021 dan 2024.
Puncaknya tentu saja Piala Dunia 2022 di Qatar. Messi tampil dalam 7 pertandingan, menyumbang 7 gol dan 3 assist, dengan penguasaan bola Argentina rata-rata 54 persen sepanjang turnamen. Ia menyelesaikan turnamen dengan shots on target terbanyak di antara seluruh pemain dan meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik. Di final melawan Prancis, ia mencetak dua gol dalam drama 3-3 yang berlanjut ke adu penalti, sebelum Emiliano Martínez menjadi pahlawan lewat dua penyelamatan.
Dari Kutukan Final ke Puncak Dunia
Perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu mulus. Ada periode panjang di mana ia dianggap gagal di level internasional, terutama setelah kekalahan di final Copa América 2015 dan 2016 serta final Piala Dunia 2014. Pada 2016, ia bahkan sempat mengumumkan pengunduran diri dari timnas, sebelum akhirnya kembali.
"Saya melewati masa-masa sulit yang membuat saya meragukan segalanya," kenangnya. "Tapi sekarang, ketika saya melihat kembali, semua pengorbanan itu terasa sepadan."
Perubahan mulai terasa ketika Lionel Scaloni mengambil alih kursi pelatih pada 2018. Dengan formasi 4-3-3 yang fleksibel, Scaloni membangun tim yang tidak bergantung penuh pada Messi. Pemain seperti Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, dan Julián Álvarez muncul sebagai penopang, sementara Messi tetap menjadi poros kreativitas di lini serang.
Hasilnya: gelar Copa América 2021 di Brasil, Finalissima 2022 melawan Italia, dan puncaknya Piala Dunia 2022. Pada Copa América 2024 di Amerika Serikat, Messi kembali membawa Argentina juara meski sempat cedera di final melawan Kolombia.
Warisan dan Masa Depan
Di usia 37 tahun, Messi kini bermain untuk Inter Miami di MLS. Namun spekulasi soal masa depannya di timnas masih menjadi perbincangan hangat. Pelatih Scaloni beberapa kali menyatakan pintu timnas selalu terbuka, meski ia menegaskan regenerasi sedang berjalan.
"Dia adalah pemain terbaik dalam sejarah, dan apa yang ia lakukan untuk Argentina tidak akan pernah terlupakan," ujar Scaloni dalam sesi pers terpisah.
Dari sisi statistik, warisan Messi sulit didekati pemain mana pun saat ini. Dengan rata-rata 0,58 gol per pertandingan di level internasional, ia menempati peringkat teratas di antara pemain dengan minimal 100 caps. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya pemain yang memenangkan Ballon d'Or, Piala Dunia, Copa América, Liga Champions, dan Golden Boot dalam satu dekade karier yang sama.
Messi sendiri mengaku kini lebih menikmati setiap momen ketimbang mengejar rekor. "Saya tidak lagi bermain untuk angka," tegasnya. "Saya bermain karena saya mencintai sepak bola dan ingin terus merasakan momen itu bersama rekan-rekan saya."
Bagi penggemar Argentina, pernyataan itu mungkin terasa pahit manis. Di satu sisi, mereka tahu akhir era Messi semakin dekat. Di sisi lain, angka-angka dan trofi yang ia tinggalkan akan menjadi tolok ukur yang harus dikejar generasi berikutnya — sebuah standar yang, setidaknya untuk saat ini, masih tampak tak terjangkau.
Comments (0)