Menganalisis permintaan, perlu menulis ulang berita ini dalam Bahasa Indonesia dengan panjang
Judul harus mengikuti aturan ketat: maksimal 12 kata, berupa kalimat berita utuh dengan subjek dan predikat, tidak boleh paragraf panjang. Format harus men
untuk narasi,
untuk bagian analisis,
| Edisi | Jumlah Tim | Total Pertandingan | Durasi (Hari) | Sistem |
|---|---|---|---|---|
| 1930 (Uruguay) | 13 | 18 | 18 | Grup + Gugur |
| 1982 (Spanyol) | 24 | 52 | 29 | Dua Fase Grup |
| 1998 (Prancis) | 32 | 64 | 32 | Grup + 16 Besar |
| 2026 (USA-Canada-Mexico) | 48 | 104 | 39 | Grup 3 Tim + 32 Besar |
| Usulan 2030/2034 | 64 | 128-136 | 45-50 | Grup 4 Tim + 32 Besar |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa setiap ekspansi selalu diiringi oleh perpanjangan durasi turnamen yang signifikan. Piala Dunia 64 tim diproyeksikan akan berlangsung selama 45 hingga 50 hari, hampir dua pekan lebih lama dibanding format 48 tim yang belum sekalipun diuji coba. Ini menimbulkan gesekan serius dengan kalender liga domestik yang sudah sangat padat. "Turnamen sepanjang hampir dua bulan akan menyebabkan kelelahan luar biasa dan meningkatkan risiko cedera secara eksponensial. Para pemain top saat ini sudah memainkan 60-70 pertandingan per musim," keluh Javier Tebas, Presiden LaLiga Spanyol, melalui akun media sosialnya.
Fragmentasi Hak Siar dan Risiko Komersial
Dari perspektif bisnis, ekspansi ke 64 tim membawa paradoks tersendiri. Di satu sisi, lebih banyak negara peserta berarti perluasan basis pemirsa global dan potensi pendapatan hak siar yang lebih tinggi. Negara-negara dengan populasi besar yang selama ini jarang lolos—seperti India, Indonesia, atau Nigeria—bisa menjadi mesin pertumbuhan baru bagi ekosistem komersial FIFA. Data dari World Football Report 2025 memperkirakan bahwa partisipasi India saja dapat menyumbang tambahan pendapatan hak siar hingga USD 350 juta untuk kawasan Asia Selatan. Namun, di sisi lain, penambahan jumlah pertandingan yang tidak semuanya kompetitif berpotensi menciptakan fenomena kejenuhan penonton atau yang disebut para pakar pemasaran sebagai "oversaturation point".
Masalah ini diperparah dengan keharusan menambah jumlah kota penyelenggara. Untuk turnamen 64 tim, diperkirakan dibutuhkan setidaknya 20-24 kota tuan rumah, naik dari 16 kota yang sudah ditetapkan untuk edisi 2026. Ini meningkatkan beban investasi infrastruktur yang harus ditanggung oleh negara tuan rumah, yang dalam beberapa kasus sudah menuai kontroversi terkait pembengkakan biaya dan praktik korupsi. "Risiko white elephant stadium semakin besar. Kita berbicara tentang stadion-stadion berkapasitas 40.000+ yang mungkin hanya digunakan untuk dua hingga tiga pertandingan selama turnamen, lalu terbengkalai," kritik Prof. Stefan Szymanski, ekonom olahraga dari University of Michigan, dalam kolomnya di Financial Times.
Peta Jalan Menuju Keputusan 2030
Lalu, bagaimana peta jalan menuju keputusan akhir? Menurut dokumen internal FIFA yang bocor ke media, ada tiga skenario yang akan dikaji oleh satuan tugas khusus pasca-Piala Dunia 2026. Skenario pertama adalah mempertahankan format 48 tim yang sudah dirancang. Skenario kedua adalah mengadopsi format 64 tim penuh mulai edisi 2034 yang akan digelar di Arab Saudi—sebuah negara yang memiliki kapasitas finansial untuk membangun infrastruktur yang diperlukan. Skenario ketiga adalah jalur tengah dengan format 56 tim sebagai kompromi, di mana beberapa tempat tambahan diberikan melalui jalur kualifikasi interkontinental.
Yang menarik, proposal Uruguay sebenarnya tidak muncul dalam ruang hampa. Pada tahun 2022 lalu, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) dan Asosiasi Sepak Bola Brasil (CBF) tercatat pernah melontarkan ide serupa dalam kapasitas informal, meskipun saat itu ditolak mentah-mentah oleh Komite Eksekutif FIFA. Perubahan sikap Infantino—yang pada 2023 menyebut format 48 tim sebagai "batas optimal"—menunjukkan adanya pergeseran politik internal di tubuh FIFA. Beberapa pengamat menduga bahwa konsesi kepada negara-negara berkembang ini adalah bagian dari strategi Infantino untuk mengamankan dukungan bagi pencalonan dirinya pada periode kepemimpinan selanjutnya, meskipun ia telah membantah spekulasi tersebut.
Di tengah pro dan kontra yang berlangsung sengit, satu hal yang pasti: Piala Dunia 2026 di Amerika Utara akan menjadi laboratorium raksasa yang menguji sejauh mana ekspansi format bisa berjalan mulus. Dengan 48 tim untuk pertama kalinya dalam sejarah, turnamen ini akan menjadi indikator paling kredibel apakah dunia sepak bola siap melangkah lebih jauh. Jika roda logistik berputar tanpa hambatan berarti dan antusiasme global tetap terjaga, jalan menuju Piala Dunia 64 tim pada dekade mendatang mungkin bukan lagi sekadar wacana yang menghebohkan, melainkan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan.
Comments (0)