Martin Manurung Dorong Reformasi Legislasi demi Kepentingan Rakyat

Jakarta — Di tengah dinamika politik yang kian kompleks, sosok Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Martin Manurung, tampil sebagai figur yang kerap

Martin Manurung Dorong Reformasi Legislasi demi Kepentingan Rakyat
Jakarta — Di tengah dinamika politik yang kian kompleks, sosok Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Martin Manurung, tampil sebagai figur yang kerap menjadi jembatan antara kepentingan pemerintah dan suara rakyat. Dengan pembawaannya yang tenang namun tegas, politisi senior ini perlahan mengukir peran penting dalam proses pembentukan undang-undang di Indonesia.

Ruang kerjanya di lantai 12 Gedung Nusantara I terlihat sederhana, hanya dihiasi tumpukan berkas dan beberapa pigura foto kegiatan parlemen. Pagi itu, Martin Manurung baru saja menyelesaikan rapat maraton yang membahas revisi Undang-Undang Pemilu. Meski raut kelelahan sedikit tampak, matanya tetap bersinar ketika berbicara tentang visinya membawa Baleg menjadi garda terdepan legislasi yang pro-rakyat. “Ini soal tanggung jawab moral,” ujarnya membuka percakapan, “setiap pasal yang kami sahkan akan mengikat hajat hidup jutaan orang.”

Dari Aktivis Hingga Jantung Legislasi

Perjalanan Martin Manurung menuju kursi Wakil Ketua Baleg bukanlah jalan pintas. Lahir di keluarga sederhana di Sumatera Utara, ia tumbuh sebagai aktivis mahasiswa yang vokal menyuarakan reformasi hukum. Kiprahnya di dunia advokasi membawanya masuk ke partai politik, hingga akhirnya dipercaya menjadi anggota DPR. Tak banyak yang tahu, ia pernah menolak tawaran jabatan menteri muda demi fokus membenahi sistem legislasi.

Baleg sendiri kerap dijuluki sebagai “dapur” undang-undang. Di sinilah semua rancangan peraturan perundang-undangan dimasak sebelum disajikan ke rapat paripurna. Martin memahami betul bahwa posisinya menuntut keseimbangan antara kecepatan dan kualitas. Selama tahun 2024, Baleg tercatat menuntaskan 37 Rancangan Undang-Undang (RUU) prioritas, angka yang belum pernah dicapai dalam satu dekade terakhir.

Reformasi Legislasi: Bukan Sekadar Angka

Di tengah sorotan publik yang kerap menilai DPR jalan di tempat, Martin justru menggulirkan sejumlah terobosan. Salah satunya adalah kebijakan open access terhadap naskah akademik dan draf RUU sejak tahap awal pembahasan. “Masyarakat berhak tahu dan terlibat sejak dini. Bukan sekadar formalitas uji publik,” tegasnya dalam sebuah forum diskusi kebijakan di kawasan Menteng.

“Kita tidak bisa lagi bekerja seperti era Orde Baru, di mana undang-undang disusun di balik pintu tertutup. Transparansi adalah napas demokrasi. Saya ingin Baleg menjadi rumah bersama, tempat setiap warga bisa menyampaikan aspirasi dan ketakutannya.”

Langkah itu menuai pujian dari banyak kalangan, termasuk akademisi dan pegiat antikorupsi. Namun, Martin mengakui masih banyak tantangan. Ia menyoroti maraknya praktik lobbying tertutup yang kadang menyandera substansi RUU demi kepentingan segelintir elite. “Godaan itu selalu ada. Tugas saya memastikan nurani lebih keras dari godaan itu,” katanya dengan nada rendah, nyaris berbisik.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Salah satu proyek ambisius yang kini digarap Martin adalah Undang-Undang Omnibus tentang Harmonisasi Regulasi. Jika disahkan, aturan ini akan memangkas ribuan peraturan tumpang-tindih yang selama ini menjadi sumber inefisiensi birokrasi. Bayangan tentang Indonesia yang bebas dari obesitas regulasi menjadi api penyemangat baginya.

Namun, ia juga sadar bahwa perjalanan masih panjang. “Kadang saya merasa seperti pendaki yang baru sampai di kaki gunung. Masih terlalu dini untuk berpuas diri,” ujarnya sambil memandangi peta Indonesia yang terpampang di dinding ruangannya.

“Saya ingin dikenang sebagai orang yang membuat birokrasi tunduk melayani, bukan minta dilayani. Kalau itu bisa saya tanamkan di sini (Baleg), maka ini bukan soal Martin Manurung lagi. Ini soal Indonesia yang lebih dewasa dalam bernegara.”

Komitmennya itu diakui oleh sejumlah kolega lintas fraksi. Seorang anggota Baleg dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), yang enggan disebutkan namanya, menyebut Martin sebagai “pendengar yang baik dan perumus yang cerdas”. Kondisi ini diyakini akan memperkuat sinergi kelembagaan dalam menghadapi tahun politik yang rawan polarisasi.

Di akhir perbincangan, Martin Manurung menitipkan pesan kepada generasi muda: “Jangan takut mengawasi kami. Justru kalau kalian diam, kami bisa tersesat.” Kalimat itu seolah menjadi ringkasan dari seluruh dedikasinya: seorang wakil rakyat yang berharap selalu diingatkan oleh rakyatnya sendiri.

--- FAQ Esensial [SOCIAL_TWEET]: “Jangan takut mengawasi kami. Justru kalau kalian diam, kami bisa tersesat.” – Wakil Ketua Baleg DPR RI, Martin Manurung, tegaskan komitmen transparansi legislasi. #IndonesiaBangkit #ReformasiLegislasi [SOCIAL_TG]: Berita Pagi | Legislasi: Martin Manurung beberkan cetak biru Baleg 2025: akses terbuka, partisipasi substantif, dan harmonisasi ribuan regulasi usang. Selengkapnya di tautan bio.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User