Oct 23, 2026
Olahraga

Lima Pelatih Bergaji Fantastis yang Pulang Cepat dari Piala Dunia 2022

DOHA — Piala Dunia 2022 di Qatar meninggalkan luka mendalam bagi sejumlah federasi sepak bola nasional. Bukan karena kekalahan dramatis di partai puncak, melainkan karena investasi besar yang berakh...

Lima Pelatih Bergaji Fantastis yang Pulang Cepat dari Piala Dunia 2022

DOHA — Piala Dunia 2022 di Qatar meninggalkan luka mendalam bagi sejumlah federasi sepak bola nasional. Bukan karena kekalahan dramatis di partai puncak, melainkan karena investasi besar yang berakhir sia-sia. Lima pelatih dengan bayaran tertinggi di turnamen empat tahunan itu harus menyaksikan tim asuhannya angkat koper sebelum babak 16 besar dimulai.

Puncak kekecewaan datang dari kubu Timnas Jerman. Hansi Flick, arsitek yang digaji 5 juta poundsterling atau setara Rp94 miliar per tahun, gagal membawa Der Panzer melewati fase grup. Jerman finis di peringkat ketiga klasemen Grup E dengan koleksi 4 poin, kalah selisih gol dari Spanyol yang mendampingi Jepang ke fase gugur. Ini menjadi kali kedua berturut-turut Jerman tersingkir di putaran pertama, sebuah noda yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia sejak 1954.

Hansi Flick dan Defisit Taktik di Grup E

Menit ke-33 laga perdana melawan Jepang, Ilkay Gundogan membuka keunggulan lewat penalti dan seolah menegaskan dominasi Jerman. Statistik penguasaan bola pada laga itu mencapai 74 persen untuk Jerman, dengan 11 shots on target dari total 26 percobaan. Namun, formasi 4-2-3-1 yang diusung Flick justru meninggalkan celah besar di lini belakang. Dua gol balasan Jepang pada menit ke-75 dan menit ke-83 lahir dari transisi cepat yang tak mampu diantisipasi bek sayap Jerman.

Kekalahan 1-2 itu menjadi preseden buruk. Flick terpaksa mengubah pendekatan pada laga kedua melawan Spanyol, memainkan tiga bek tengah dalam skema 3-4-3. Hasilnya hanya imbang 1-1 lewat gol telat Niclas Fullkrug pada menit ke-83. Peluang Jerman akhirnya tertutup setelah mengalahkan Kosta Rika 4-2 di laga terakhir, karena Jepang secara mengejutkan menumbangkan Spanyol 2-1 dan mengunci tiket ke babak 16 besar.

"Kami memiliki kualitas, tetapi tidak memiliki efisiensi. Sepak bola tidak memberi hadiah kepada tim yang hanya menguasai bola," ujar Flick dalam konferensi pers pascalaga, dikutip dari laporan media internasional.

Deretan Nama Elite dengan Nasib Serupa

Flick bukan satu-satunya pelatih bergaji tinggi yang gagal. Roberto Martinez, yang memimpin Belgia dengan bayaran sekitar 3,5 juta poundsterling per tahun, juga harus mengakhiri perjalanan di fase grup. Generasi emas Belgia — Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku — tersingkir setelah finis ketiga Grup F dengan 4 poin, hanya mencetak satu gol dari tiga pertandingan. Penguasaan bola Belgia rata-rata 58 persen, tetapi akurasi penyelesaian akhir mereka menjadi polemik setelah Lukaku melewatkan empat peluang emas di laga krusial melawan Kroasia.

Di Grup H, Luis Enrique dari Spanyol juga harus menerima kenyataan pahit meski gajinya tidak sebesar Flick. Spanyol tersingkir di babak 16 besar setelah kalah adu penalti dari Maroko. Namun, ekspektasi tinggi dengan skema tiki-taka dan dominasi penguasaan bola 77 persen di laga itu tidak cukup membawa La Roja lebih jauh. Luis Enrique akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.

Dua nama lain yang melengkapi daftar adalah Carlos Queiroz (Iran) dan Gerardo Martino (Meksiko). Queiroz, yang dikenal sebagai pelatih veteran dengan bayaran tinggi di kawasan Asia, membawa Iran finis ketiga Grup B di bawah Inggris dan Amerika Serikat. Sementara Martino, yang menangani Meksiko dengan kontrak bernilai jutaan dolar, gagal membawa El Tri melewati fase grup untuk pertama kali sejak 1978 setelah finis ketiga Grup C di bawah Argentina dan Polandia.

Pelajaran dari Investasi yang Tak Sebanding

Data menunjukkan bahwa tingginya gaji pelatih tidak berkorelasi langsung dengan keberhasilan di turnamen besar. Dari lima pelatih bergaji tertinggi yang tersingkir di fase grup, rata-rata penguasaan bola tim mereka mencapai 61 persen, tetapi konversi menjadi gol hanya 0,8 gol per pertandingan. Bandingkan dengan Maroko yang melaju ke semifinal dengan rata-rata penguasaan bola hanya 38 persen, namun memiliki clean sheet terbanyak di turnamen.

Federasi-federasi besar kini dihadapkan pada pertanyaan sulit: apakah nilai kontrak pelatih sebanding dengan hasil di lapangan? Piala Dunia 2022 menjadi bukti bahwa taktik adaptif, efisiensi transisi, dan mentalitas pemain di momen krusial jauh lebih menentukan dibandingkan nama besar di bangku cadangan. Bagi Flick dan kolega, Qatar akan dikenang sebagai turnamen di mana reputasi gemilang tidak menyelamatkan mereka dari kepulangan dini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User