Kericuhan Mengguncang Final Piala Dunia 2026, Paredes Jadi Biang Keladi
Skor akhir 3-2 untuk Argentina usai perpanjangan waktu, namun apa yang terjadi setelah wasit meniup peluit panjang di final Piala Dunia 2026 justru mencuri perhatian lebih besar dari gol-gol dramatis ...
Skor akhir 3-2 untuk Argentina usai perpanjangan waktu, namun apa yang terjadi setelah wasit meniup peluit panjang di final Piala Dunia 2026 justru mencuri perhatian lebih besar dari gol-gol dramatis yang tercipta selama 120 menit. Leandro Paredes, gelandang bertahan yang masuk dari bangku cadangan pada menit ke-78, berubah dari pemain pengganti menjadi biang kerok kericuhan besar-besaran yang melibatkan pemain dari kedua starting XI, official tim, hingga merusak momen pengangkatan trofi di tengah lapangan. Laga yang seharusnya menjadi penutup manis bagi generasi emas La Albiceleste ini malah meninggalkan noda hitam dalam catatan sejarah turnamen.
Duel Sengit di Bawah Tekanan Final
Sejak kick-off pertama, tensi tinggi sudah terasa. Tim Tango memilih formasi 4-3-3 dengan Emiliano Martinez di belakang, sementara Les Blues membalas dengan 4-2-3-1 yang fleksibel. Menit ke-18, Angel Di Maria melepaskan tendangan kaki kiri melengkung dari luar kotak penalti setelah menerima assist manis dari Lionel Messi, membuka keunggulan 1-0. Penguasaan bola sempat berpihak pada Prancis dengan 54 persen penguasaan bola pada 30 menit pertama, namun Argentina lebih tajam dengan 4 shots on target dari 6 percobaan.
Prancis bangkit menit ke-41. Sebuah kontak dalam kotak penalti membuat wasit menunjuk titik putih setelah konsultasi VAR. Kylian Mbappe yang menjadi algojo tak menyia-nyiakan kesempatan. Skor imbang 1-1 bertahan hingga jeda. Babak kedua berjalan lebih terbuka. Menit ke-73, Julian Alvarez membobol gawang setelah serangan balik kilat yang diassist Enzo Fernandez, membawa Argentina unggul 2-1. Namun, menit ke-89, Mbappe kembali menunjukkan kelasnya dengan sundulan mematikan memanfaatkan umpan silang dari sayap kanan, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu dengan skor 2-2.
Perpanjangan Waktu yang Membara
Extra time dimulai dengan tempo menggila. Argentina yang kehabisan tenaga di lini tengah memasukkan Leandro Paredes untuk menggantikan Alexis Mac Allister di menit ke-78. Keputusan taktis ini awalnya terlihat tepat untuk mengamankan zona tengah, namun justru menjadi pemicu petaka. Menit ke-104, Lionel Messi mencetak gol emas yang seolah menjadi penentu kemenangan 3-2 setelah menerima assist dari Lautaro Martinez. Stadion meledak. Namun sisa waktu yang ada dihabiskan dengan tekanan brutal Prancis dan serangkaian pelanggaran keras.
Menit ke-118, Paredes melakukan tackle berbahaya dari belakang terhadap Eduardo Camavinga yang baru masuk. Wasit langsung mengangkat kartu kuning, namun protes sengit dari bangku cadangan Prancis membuat suasana memanas. VAR sempat meninjau insiden tersebut, meski akhirnya tidak meningkatkan hukuman menjadi kartu merah. Wasit akhirnya meniup peluit panjang usai 120 menit penuh drama dengan total 28 fouls dan 7 kartu kuning yang dibagikan sepanjang pertandingan. Tak ada clean sheet bagi kedua kiper yang masing-masing melakukan 5 dan 4 penyelamatan penting.
Amukan Paredes dan Rusaknya Malam Pesta
Ini adalah momen di mana logika sepak bola terlupakan. Beberapa detik setelah peluit panjang, Paredes terlihat sengaja menendang bola ke arah pemain Prancis yang sedang merayakan di dekat garis samping. Reaksi berantai tak terhindari. Antoine Griezmann yang berada di dekatnya langsung mendorong dada Paredes, dan dalam sekejap, puluhan pemain dari kedua tim bercampur aduk di tengah lapangan. Pukulan terbang, tarikan kaus, dan teriakan terdengar jelas di siaran global. Official keamanan harus turun tangan memisahkan kerumunan yang melibatkan hampir seluruh anggota starting XI kedua tim.
Dalam kacaunya malam itu, Paredes terus terlihat provokatif. Ia sempat melepas tendangan ke arah peralatan kamera di pinggir laporan sebelum akhirnya ditarik mundur oleh staf keamanan federasi. Akibatnya, upacara pengangkatan trofi tertunda hampir 45 menit. Beberapa pemain Prancis menolak naik podium dan memilih langsung masuk tunnel. Insiden ini membuat FIFA harus berkoordinasi ekstra untuk memastikan trofi tetap diserahkan dalam suasana yang aman, meski suasana perayaan sudah terlanjur rusak.
"Kami memenangkan trofi, tapi malam ini tidak ada yang benar-benar menang. Perilaku di lapangan setelah pertandingan tidak bisa diterima, dan kami akan mengevaluasi semua pihak yang terlibat, termasuk Leandro," ujar juru bicara tim yang hadir di mixed zone usai laga.
Data dan Catatan Sejarah yang Tercemar
Dari sisi statistik, final ini tercatat sebagai salah satu laga terbuka dalam dua dekade terakhir. Argentina menutup laga dengan 48 persen penguasaan bola namun unggul signifikan dalam ketajaman dengan 8 shots on target dari total 14 tembakan. Prancis membalas dengan 6 shots on target dari 11 upaya. Kedua tim sama-sama gagal meraih clean sheet di laga puncak, mengonfirmasi intensitas serangan yang tidak pernah padam. Tidak ada hat-trick yang tercipta, meski Mbappe sempat menyentuh ambang brace yang membuat jantung penonton berdegup kencang.
Namun, semua angka itu terasa hampa. Sejarah akan mencatat Argentina sebagai juara Piala Dunia 2026, tapi paragrafnya akan selalu disertai dengan catatan kericuhan pasca-laga. Paredes, yang seharusnya merayakan gelar dunia kedelapannya bersama timnas, kini berpotensi menghadapi sanksi berat dari FIFA. Kartu merah pasca-pertandingan sudah digantungkan padanya, dan investigasi terkait insiden pelemparan benda ke aram lawan masih berlangsung. Sebuah malam yang dimulai dengan impian, berakhir dengan amukan yang tak perlu.
Comments (0)