Jakarta — KH Zulfa Mustofa Tanggapi Usulan Pencalonan Ketua Umum PBNU

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akhirnya memberikan jawaban terkait usulan namanya yang masuk dalam bur

Jakarta — KH Zulfa Mustofa Tanggapi Usulan Pencalonan Ketua Umum PBNU

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akhirnya memberikan jawaban terkait usulan namanya yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU. Dengan rendah hati, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, ini menyatakan bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan ladang pengabdian.

Spekulasi mengenai kandidat pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia itu memang mengemuka dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah tokoh dan badan otonom di lingkungan NU disebut-sebut mendorong Kiai Zulfa yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik dari Jawa Timur untuk turut serta dalam kontestasi lima tahunan tersebut.

Respons Santun dan Penuh Tawadhu

Menanggapi hal itu, KH Zulfa Mustofa tidak menunjukkan ambisi berlebihan. Dalam perbincangan dengan awak media di Jakarta, beliau menyampaikan pandangannya secara hati-hati.

"Saya ini hanya santri yang kebetulan dipercaya membantu di PBNU. Untuk urusan Ketua Umum, itu sepenuhnya hak dan kewenangan para kiai sepuh dan mekanisme musyawarah di muktamar. Saya tidak pernah mengejar jabatan, apalagi sampai berkampanye,"

ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan karakter tawadhu yang selama ini melekat pada diri mantan Ketua PWNU Jawa Timur itu. Kendati namanya kerap disebut dalam beberapa forum diskusi internal nahdliyin, Kiai Zulfa justru mengajak semua pihak untuk fokus menyukseskan gelaran muktamar yang akan menjadi ajang konsolidasi dan penentuan arah NU ke depan.

Profil Singkat KH Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa bukanlah wajah baru di lingkungan PBNU. Ia telah malang melintang dalam berbagai posisi kepengurusan, baik di tingkat wilayah maupun pusat. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Mojo, Kediri, ia memiliki basis masa yang kuat, khususnya di kalangan alumni pesantren dan warga nahdliyin di Jawa Timur.

Dengan latar belakang sebagai ahli fikih dan ushul fikih, Kiai Zulfa dikenal memiliki pandangan keagamaan yang moderat dan berimbang. Di tengah dinamika sosial politik yang kerap melibatkan tokoh agama, ia kerap menekankan pentingnya menjaga kemandirian ulama dan konsistensi NU sebagai shalih likulli zaman wa makan.

Dinamika Bursa Calon Ketua Umum PBNU

Muktamar Ke-35 NU yang rencananya akan diselenggarakan dalam waktu dekat menjadi sorotan publik karena akan memilih pemimpin baru setelah periode sebelumnya. Sejauh ini, sejumlah nama telah beredar, termasuk petahana KH Yahya Cholil Staquf yang masih memiliki peluang untuk kembali dicalonkan.

Meski begitu, dorongan agar muncul regenerasi dan penyegaran kepemimpinan juga cukup kuat. KH Zulfa Mustofa dinilai sebagai figur yang dapat menjadi jembatan antara generasi tua dan muda, serta memiliki jejaring luas di pesantren.

Seorang kiai sepuh yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sosok Zulfa Mustofa memiliki kapasitas yang mumpuni.

"Beliau itu alim, rendah hati, dan punya komitmen tinggi terhadap jam'iyah. Kalau nanti para kiai memberikan mandat, saya kira beliau siap dan mampu,"

tuturnya saat dihubungi di Solo, Jawa Tengah.

Muktamar sebagai Pesta Demokrasi Ala Pesantren

Muktamar NU bukan sekadar ajang pemilihan pemimpin, melainkan forum permusyawaratan tertinggi yang mencerminkan tradisi demokrasi ala pesantren. Setiap keputusan diambil melalui mekanisme ra'su siyasah, yaitu musyawarah yang melibatkan para kiai sepuh dan perwakilan wilayah serta cabang.

Oleh karena itu, munculnya nama-nama seperti KH Zulfa Mustofa adalah hal yang wajar. Hal ini justru menunjukkan bahwa proses demokrasi internal NU berjalan sehat. Setiap peserta muktamar memiliki hak yang sama untuk mengusulkan tokoh yang dianggap pantas memimpin.

Dalam sejarah NU, dinamika pencalonan sering kali menghangat menjelang muktamar. Namun, berkat kearifan para ulama, suasana selalu dapat dikendalikan, dan keputusan akhir diterima dengan penuh kelapangan dada.

Pandangan Pengamat dan Azas Manfaat

Pengamat Islam dan politik dari Universitas Indonesia, Ahmad Syafii, menilai bahwa pencalonan Kiai Zulfa dapat menjadi angin segar bagi regenerasi di tubuh NU. Menurutnya, ormas besar seperti NU memerlukan pemimpin yang memiliki integritas moral dan keilmuan yang mumpuni.

"Khittah NU sebagai organisasi keagamaan harus tetap terjaga. Siapa pun yang terpilih nanti, yang terpenting adalah komitmennya untuk membawa NU tetap pada garis perjuangan: menjaga Islam damai dan keindonesiaan,"

ujar Syafii.

Ia menambahkan, Kiai Zulfa adalah representasi kiai pesantren yang otoritatif sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman. Dengan reputasi tersebut, ia dianggap mampu melanjutkan misi besar NU dalam merawat Islam Nusantara di kancah global.

KH Zulfa Mustofa Fokus pada Pengabdian

Terlepas dari berbagai spekulasi, KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan berbagai program kerja PBNU yang sedang berjalan, terutama di bidang pendidikan dan pengembangan ekonomi pesantren. Ia enggan terlalu memikirkan hal-hal yang bersifat spekulatif.

"Saya lebih suka bekerja nyata daripada bicara jabatan. Biarkan nanti muktamar yang menentukan," tandasnya.

Sikap tersebut senada dengan prinsip yang dipegang para kiai NU, yaitu al-muhafadzah ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Prinsip ini bukan hanya relevan dalam kontestasi politik, melainkan juga menjadi pedoman dalam setiap langkah pengabdian.

Sementara itu, generasi muda NU yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) juga menyuarakan harapan mereka. Seorang aktivis Ansor, Muhammad Fikri, mengatakan bahwa sosok pemimpin masa depan NU harus mampu merangkul transformasi digital tanpa meninggalkan akar tradisi. “Kami butuh pemimpin yang paham teknologi tetapi juga kuat ngaji,” ujarnya. Terlepas dari siapa yang terpilih, regenerasi yang sehat merupakan keniscayaan organisasi yang telah berusia hampir seabad.

Kini mata publik tertuju pada pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan segera digelar. Siapakah yang akan ditetapkan sebagai nahkoda baru PBNU? Semua kembali pada mekanisme musyawarah para kiai, sesuai dengan tagar yang telah melegenda: #NahdlatulUlamaBukanPartaiPolitik.

[SOCIAL_TWEET]: KH Zulfa Mustofa tanggapi usulan pencalonan Ketum PBNU dengan rendah hati. “Saya hanya santri yang dipercaya membantu,” ujarnya. Ia serahkan sepenuhnya pada mekanisme musyawarah Muktamar ke-35 NU. #PBNU #MuktamarNU [SOCIAL_TG]: 🔵 PBNU: KH Zulfa Mustofa merespons santun usulan pencalonan Ketum PBNU. “Saya tidak pernah mengejar jabatan,” tegasnya. Proses pemilihan sepenuhnya diserahkan pada mekanisme musyawarah Muktamar NU ke-35. Baca selengkapnya: [link]

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User