Iran — Khamenei Kutip Pidato Soekarno Serukan Persatuan Lintas Agama
Teheran — Rakyat Iran masih diselimuti duka mendalam setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Juni 2026. Di tengah prosesi pemaka
Teheran — Rakyat Iran masih diselimuti duka mendalam setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Juni 2026. Di tengah prosesi pemakaman kenegaraan yang digelar pada Minggu (6/7), sejumlah pesan mendiang semasa hidup kembali mencuat ke permukaan. Salah satunya adalah kutipan pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menekankan betapa pentingnya persatuan di tengah perbedaan agama dan ideologi.
Kutipan tersebut pertama kali diungkapkan Khamenei dalam sebuah forum pertemuan pemimpin agama dan tokoh masyarakat di Teheran beberapa tahun silam. Saat itu, ia merujuk pada pidato bersejarah Bung Karno di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato yang merumuskan dasar negara Pancasila itu, Soekarno menyerukan persatuan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus bersatu, yang kita semua harus merasa satu, yang kita semua harus bersatu padu,”
Demikian penggalan pidato Soekarno yang diulangi Khamenei dengan penuh penghayatan. Bagi mendiang, semangat serupa harus dihidupkan pula di Iran, negara dengan keragaman etnis, bahasa, dan mazhab keagamaan yang tak kalah kompleks.
Pesan Universal dari Jakarta ke Teheran
Dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, Soekarno merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa. Gagasan itu lahir dari realitas Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam agama. Khamenei, yang dikenal sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik, melihat adanya kesamaan tantangan di Iran. Meski mayoritas penduduknya menganut Islam Syiah, Iran juga dihuni oleh komunitas Sunni, Kristen, Yahudi, dan Zoroaster, serta beragam suku seperti Persia, Azeri, Kurdi, dan Arab.
“Persatuan nasional bukanlah soal menyamakan keyakinan, melainkan membangun kesadaran bersama untuk hidup berdampingan,” ujar Khamenei dalam pidatonya, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA. “Presiden Soekarno mengajarkan kita bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dijaga, bukan alasan perpecahan.”
Pernyataan itu diyakini menjadi salah satu fondasi kebijakan Khamenei dalam merangkul kelompok minoritas dan menekan ekstremisme sektarian di kawasan Timur Tengah. Di masa kepemimpinannya, Khamenei kerap mengeluarkan fatwa yang melarang penghinaan terhadap simbol-simbol Sunni, termasuk istri-istri Nabi Muhammad, demi menjaga harmoni internal umat Islam.
Hubungan Diplomatik Indonesia-Iran yang Erat
Kutipan pidato Soekarno oleh Khamenei juga mencerminkan kedekatan historis kedua negara. Indonesia dan Iran telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1950. Soekarno sendiri pernah bertukar kunjungan kenegaraan dengan Shah Iran pada era 1950-an. Setelah Revolusi Islam 1979, hubungan tetap hangat, terutama dalam forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok.
Pada 2015, Khamenei menerima kunjungan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas penguatan kerja sama ekonomi, budaya, dan dialog antaragama. Khamenei kembali menyinggung pentingnya persatuan negara-negara Muslim yang kerap diadu domba oleh kekuatan asing.
“Kita harus belajar dari Indonesia. Di sana, umat Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha hidup rukun dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Khamenei saat itu. Pernyataan tersebut diamini oleh Presiden Jokowi yang menyampaikan komitmen Indonesia untuk menjadi jembatan perdamaian antarmazhab Islam di Timur Tengah.
Warisan Persatuan bagi Iran Pasca-Khamenei
Wafatnya Khamenei memunculkan pertanyaan besar tentang arah politik Iran ke depan. Namun, pesan persatuan yang ia sampaikan melalui kutipan Soekarno diharapkan tetap menjadi pedoman bagi para penerusnya. Para analis menilai, stabilitas Iran di masa transisi sangat bergantung pada kemampuan elite politik merangkul semua kelompok, baik konservatif maupun reformis, serta menjaga hak-hak minoritas.
Di sisi lain, rakyat Indonesia juga merasakan kehilangan. Duta Besar RI untuk Iran, Octavino Alimuddin, menyampaikan belasungkawa resmi atas nama pemerintah. “Mendiang Ayatollah Khamenei adalah sahabat Indonesia. Kecintaannya pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika selalu ia sampaikan dalam berbagai pertemuan dengan delegasi kami,” ujarnya.
Prosesi pemakaman Khamenei sendiri berlangsung dengan pengamanan ketat. Jutaan pelayat dari seluruh penjuru negeri memadati jalanan Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah tokoh internasional turut hadir, termasuk perwakilan dari Indonesia yang membawa karangan bunga bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika—Unity in Diversity”, sebagai simbol persatuan abadi yang diwariskan oleh Soekarno dan digaungkan oleh Khamenei.
Dengan begitu, meski jasad sang pemimpin telah dimakamkan, kata-kata Soekarno yang pernah dikutipnya terus hidup, menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan anugerah yang harus dirawat bersama.
FAQ
[TAGS]: Khamenei, Soekarno, Iran, Indonesia, persatuan
[SOCIAL_TWEET]: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei wafat, warisannya: kutipan pidato Bung Karno tentang persatuan. Di tengah duka, pesan Bhinneka Tunggal Ika menggema dari Teheran. #Khamenei #Soekarno #Persatuan
[SOCIAL_FB]: Rakyat Iran berduka, tapi pesan persatuan mendiang Khamenei tetap hidup. Dulu ia pernah mengutip pidato Presiden pertama RI Soekarno: “Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus bersatu…” Kini, semangat itu jadi warisan untuk Iran yang beragam. #BhinnekaTunggalIka
[SOCIAL_TG]: Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, mengingatkan kita pada salah satu pidatonya yang mengutip Bung Karno. Persatuan di tengah perbedaan, itulah kunci. Dari Jakarta ke Teheran, semangat yang sama. #Iran #Indonesia
[SOCIAL_THREADS]: Saat Ayatollah Khamenei mengutip Soekarno, ia bukan sekadar menyampaikan pidato. Ia menitipkan harapan agar Iran tetap bersatu di tengah perbedaan. Kini, warisan itu terus hidup, melampaui kematian. #Persatuan #Khamenei #Soekarno
Comments (0)