Inggris Lolos ke Semifinal, Tuchel Murka Soal Mentalitas
Stadion MetLife, New Jersey, 11 Juli 2026 – Inggris mengamankan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 lewat kemenangan dramatis 2-1 atas Norwegia di babak perempat final. Gol telat Jude Bellingham pad...
Stadion MetLife, New Jersey, 11 Juli 2026 – Inggris mengamankan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 lewat kemenangan dramatis 2-1 atas Norwegia di babak perempat final. Gol telat Jude Bellingham pada menit ke-118 menjadi pembeda setelah laga sengit berlangsung hingga perpanjangan waktu. Namun, di balik kelolosan itu, pelatih Thomas Tuchel justru menunjukkan kemarahan ketika disinggung soal mentalitas skuadnya.
Babak Pertama: Gempuran Norwegia Tanpa Hasil
Norwegia yang tampil dengan formasi 4-2-3-1 langsung mengambil inisiatif sejak peluit dibunyikan. Duet Martin Ødegaard dan Erling Haaland menjadi momok bagi barisan belakang Inggris. Pada menit ke-12, Haaland nyaris membuka skor lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Antonio Nusa, tetapi bola membentur tiang gawang Jordan Pickford. Sepuluh menit berselang, Ødegaard melepaskan tendangan mendatar dari luar kotak penalti yang masih bisa ditepis Pickford.
Inggris yang mengandalkan formasi 4-3-3 justru kesulitan mengembangkan permainan. Tercatat hingga menit ke-30, penguasaan bola Inggris hanya 38%, sementara Norwegia mendominasi dengan 62%. Hingga turun minum, statistik shots on target menunjukkan kesenjangan: Norwegia 4, Inggris 1. Tekanan tinggi yang diterapkan Norwegia membuat lini tengah Inggris yang dikomandoi Declan Rice kerap kehilangan bola. Meski demikian, pertahanan Inggris yang dikawal John Stones dan Marc Guéhi mampu bertahan dengan skor 0-0.
Babak Kedua dan Babak Tambahan: Drama Gol dan Intervensi VAR
Memasuki babak kedua, Norwegia akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-67. Berawal dari serangan balik cepat, Ødegaard mengirim umpan terobosan kepada Haaland yang lolos dari jebakan offside. Dengan tenang, penyerang Manchester City itu menaklukkan Pickford lewat tembakan kaki kiri. Skor berubah 1-0 untuk Norwegia, dan tekanan semakin deras.
Inggris baru bisa menyamakan kedudukan setelah mendapatkan hadiah penalti kontroversial pada menit ke-82. Wasit Ramon Abatti dari Brasil menunjuk titik putih setelah Harry Kane dijatuhkan oleh Leo Østigård di kotak terlarang. Keputusan itu dikuatkan VAR meskipun ada protes keras dari pemain Norwegia. Kane yang menjadi eksekutor sukses menuntaskan tugasnya, mengubah skor menjadi 1-1.
Skor imbang memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Di sinilah Bellingham menjadi pahlawan. Pada menit ke-118, tepatnya dari sepak pojok yang dieksekusi Bukayo Saka, Bellingham melompat paling tinggi dan menyundul bola ke pojok kanan gawang Ørjan Nyland. Gol tersebut memicu selebrasi liar, dan Inggris memastikan kemenangan 2-1 hingga peluit akhir dibunyikan.
Secara keseluruhan, statistik pertandingan menunjukkan dominasi Norwegia: penguasaan bola 58% – 42%, total shots 19 – 9, shots on target 7 – 4, corner 8 – 3. Inggris hanya unggul dalam efisiensi penyelesaian.
Reaksi Tuchel: "Kami Beruntung, Bukan Soal Mentalitas"
Dalam konferensi pers usai laga, Tuchel tampak tidak sepenuhnya puas dengan performa timnya. Ketika seorang jurnalis menyebut kemenangan ini sebagai bukti ketangguhan mental Inggris, sang pelatih langsung merespons dengan nada tinggi.
"Mentalitas? Anda salah besar. Malam ini kami beruntung, itu saja. Norwegia bermain lebih baik di hampir semua aspek. Jika bukan karena pengalaman dan sedikit keberuntungan, kami sudah tersingkir. Jangan romantisasi kemenangan ini dengan kata-kata kosong soal mental," ujar Tuchel tegas.
Tuchel juga menyoroti lemahnya transisi dan buruknya pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan. Ia menekankan bahwa Inggris harus segera berbenah jika ingin bersaing di babak berikutnya, di mana mereka akan menghadapi pemenang antara Brasil dan Kroasia.
Kekesalan Tuchel ini mencerminkan sikap realistis terhadap performa tim yang tertatih-tatih. Dengan jadwal padat dan tekanan tinggi, The Three Lions wajib meningkatkan kualitas permainan agar tidak terus bergantung pada momen-momen individu. Kemenangan ini memang membawa Inggris selangkah lebih dekat ke final, tetapi Tuchel sepertinya tidak ingin euforia menutupi kelemahan fundamental yang terpampang jelas malam itu.
Baca juga:
Comments (0)