Oct 15, 2026
Olahraga

Infantino Pamer Trofi Piala Dunia 2026 di Depan Para Walikota AS

Washington, DC — Momen itu terasa seperti pembukaan sebuah turnamen besar, bukan sekadar pidato konferensi. Berdiri tepat di samping Trofi Piala Dunia yang berkilau, Presiden FIFA Gianni Infantino t...

Infantino Pamer Trofi Piala Dunia 2026 di Depan Para Walikota AS

Washington, DC — Momen itu terasa seperti pembukaan sebuah turnamen besar, bukan sekadar pidato konferensi. Berdiri tepat di samping Trofi Piala Dunia yang berkilau, Presiden FIFA Gianni Infantino tampil sebagai pembicara utama pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota Amerika Serikat, Kamis, 29 Januari 2026, di Washington, DC. Dalam agenda yang berlangsung sekitar 40 menit, ia memaparkan peta jalan Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Trofi sebagai Alat Diplomasi Kota

Kehadiran trofi asli di atas podium bukan tanpa alasan. Sepanjang sesi tersebut, Infantino berulang kali mengaitkan simbol kejuaraan dunia itu dengan potensi ekonomi kota-kota tuan rumah. Ia menyebut ada 16 kota penyelenggara yang tersebar di tiga negara, dengan 11 di antaranya berada di wilayah Amerika Serikat, termasuk venue-venue besar berkapasitas di atas 60 ribu penonton.

Menurut paparannya, turnamen edisi 2026 akan memakai format baru: 48 tim nasional yang terbagi dalam 12 grup, dengan total 104 pertandingan — lonjakan signifikan dibanding 64 laga pada edisi-edisi sebelumnya. Format ini menuntut kesiapan infrastruktur, transportasi, dan akomodasi yang jauh lebih besar, dan di sinilah peran pemerintah kota menjadi krusial.

"Ini bukan hanya soal sepak bola. Ini tentang warisan yang tertinggal setelah peluit akhir dibunyikan," ujar Infantino di hadapan para walikota, dikutip dari sesi tersebut.

Dampak Ekonomi dan Infrastruktur

Dalam pemaparannya, Infantino menyoroti sejumlah proyeksi manfaat bagi komunitas lokal. Ia menyebut potensi lonjakan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, hingga belanja konsumen di sektor ritel dan kuliner selama periode turnamen yang diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan penuh. Kota-kota tuan rumah disebut akan menerima limpahan aktivitas ekonomi dari basis penggemar yang datang dari berbagai benua.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada fasilitas olahraga akar rumput. Menurutnya, program pengembangan sepak bola usia muda yang menyertai perhelatan ini menjadi kunci agar gaung turnamen tidak berhenti di level elite. Beberapa kota disebut telah mengajukan rencana pembangunan lapangan komunitas dan akademi regional sebagai bagian dari komitmen pasca-turnamen.

Aspek kompetisi juga menjadi sorotan. Dengan 48 peserta, fase grup akan memakai skema di mana dua tim teratas tiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik melaju ke babak gugur. Sistem ini memberi peluang lebih besar bagi negara-negara debutan, sekaligus memperpanjang jumlah pertandingan yang harus dikawal secara logistik oleh kota tuan rumah.

Tantangan Logistik dan Sorotan Publik

Tak hanya bicara peluang, Infantino juga menyinggung tantangan. Ia mengakui koordinasi lintas negara antara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membutuhkan sinkronisasi jadwal, regulasi visa, serta protokol keamanan yang ketat. Perjalanan antar-venue yang membentang ribuan kilometer menjadi ujian tersendiri, terutama bagi tim yang harus berpindah zona waktu di tengah jadwal padat.

Dari sisi keamanan, ia menegaskan bahwa FIFA bekerja sama dengan otoritas federal dan lokal untuk menyusun standar pengamanan stadion, termasuk pengawasan ketat terhadap tiket, akses area mixed zone, dan antisipasi kerumunan di sekitar venue. Teknologi pendukung wasit seperti VAR dan sistem garis gawang tetap menjadi standar wajib di seluruh laga.

Di akhir sesi, Infantino mengajak para walikota memandang turnamen ini sebagai katalis perubahan sosial. Ia menyebut sepak bola mampu menyatukan komunitas lintas latar belakang, dan kota-kota tuan rumah memiliki panggung besar untuk menunjukkannya kepada dunia.

Dengan trofi yang tetap berdiri di sampingnya hingga acara berakhir, pesan utamanya jelas: Piala Dunia 2026 bukan sekadar perhelatan olahraga, melainkan proyek kolaborasi kota, negara, dan komunitas yang akan diuji mulai pertandingan pembuka hingga laga final.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User