Oct 14, 2026
Olahraga

Infantino Diterpa Dugaan Dana Ilegal Rp32 Miliar, FIFA Kembali Guncang

LONDON — Gianni Infantino kembali menjadi sorotan tajam. Presiden FIFA itu diduga menerima aliran dana ilegal senilai sekitar Rp32 miliar, sebuah angka yang langsung memantik pertanyaan besar tentan...

Infantino Diterpa Dugaan Dana Ilegal Rp32 Miliar, FIFA Kembali Guncang

LONDON — Gianni Infantino kembali menjadi sorotan tajam. Presiden FIFA itu diduga menerima aliran dana ilegal senilai sekitar Rp32 miliar, sebuah angka yang langsung memantik pertanyaan besar tentang transparansi keuangan organisasi sepak bola paling berpengaruh di dunia.

Berdasarkan laporan investigasi yang mengungkap dua jalur pendapatan berbeda—satu resmi dan satu tidak resmi—nama Infantino kini berada di pusaran skandal yang menambah daftar panjang kontroversi selama masa kepemimpinannya. Skor reputasi FIFA, yang sempat dibersihkan setelah badai korupsi 2015, seakan kembali tertinggal di papan klasemen kredibilitas.

Menit ke-90 bagi pemerintahan Infantino? Belum tentu. Namun tekanan yang datang dari berbagai arah membuat posisinya bak pelatih yang kehilangan penguasaan bola di lini tengah—sulit keluar dari pressing.

Dua Jalur Pendapatan yang Dipertanyakan

Inti dari dugaan ini adalah keberadaan dua skema penerimaan dana. Jalur pertama tercatat secara resmi dalam pembukuan lembaga, sementara jalur kedua dideskripsikan sebagai tidak resmi—praktik yang dalam dunia olahraga profesional sering disebut off-the-book payment.

Perbedaan mencolok antara kedua sumber inilah yang memicu kecurigaan. Jika dana resmi memiliki jejak audit yang jelas, jalur tidak resmi tidak meninggalkan jejak pembukuan yang dapat diverifikasi. Dalam istilah olahraga, ini seperti statistik shots on target yang dilaporkan berbeda oleh dua pengamat pertandingan—angkanya tak sinkron, dan publik bertanya mana yang benar.

Besaran Rp32 miliar bukan angka kecil. Untuk konteks, dana sebesar itu setara dengan biaya operasional tahunan sejumlah federasi sepak bola nasional kelas menengah. Jika dugaan ini terbukti, dampaknya bisa jauh melampaui urusan pribadi Infantino.

Rekam Jejak Kontroversi di Kursi FIFA

Sejak mengambil alih kepemimpinan FIFA pada 2016, Infantino memang dikenal sebagai sosok yang gemar memperluas sayap kompetisi. Ia mencetuskan format baru Piala Dunia Antarklub, memperbesar jumlah peserta Piala Dunia, dan mendorong ekspansi pasar ke wilayah baru. Inovasi-inovasi itu di satu sisi menaikkan pendapatan komersial FIFA, tetapi di sisi lain memunculkan kritik soal tata kelola.

Kritik itu kini berbobot ulang. Sejumlah pengamat menilai pola kepemimpinan yang sentralistik membuat mekanisme pengawasan internal melemah. Dalam bahasa taktik, formasi yang dipakai terlalu menumpuk di satu sisi lapangan—kekuatan terpusat, tetapi rawan saat diserang balik.

Yang lebih mengkhawatirkan, skandal ini muncul di tengah upaya FIFA membangun citra sebagai lembaga bersih pasca era Sepp Blatter. Setiap tuduhan baru otomatis membuka kembali luka lama, dan kepercayaan sponsor serta federasi anggota bisa tergerus.

"Transparansi bukan opsional dalam organisasi sebesar FIFA. Setiap dana harus bisa dilacak dari titik masuk sampai titik keluar," ujar seorang pengamat tata kelola olahraga, tanpa menyebut nama, kepada media.

Tantangan Berat di Ruang Sidang dan Ruang Publik

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari FIFA yang merinci posisi Infantino secara detail. Namun tekanan publik terus meningkat. Model komunikasi yang pasif berisiko memperbesar dugaan, persis seperti tim yang memilih bertahan total tanpa melakukan serangan balik—pada akhirnya gawang sendiri yang terus digempur.

Secara hukum, pembuktian kasus ini akan bergantung pada jejak transaksi, dokumen keuangan, dan kesaksian pihak terkait. Prosesnya bisa panjang, berbelit, dan penuh perdebatan. Namun secara reputasi, kerusakan bisa berlangsung jauh lebih cepat daripada proses hukumnya sendiri.

Bagi Infantino, ini bukan pertandingan yang bisa diselesaikan lewat konferensi pers singkat. Dibutuhkan keterbukaan penuh, audit independen, dan kesediaan menjawab setiap pertanyaan tanpa menghindar. Dalam dunia yang menuntut akuntabilitas, clean sheet administratif adalah satu-satunya cara keluar dari tekanan.

Pertanyaannya kini sederhana namun berat: apakah FIFA mampu melewati babak ini tanpa kehilangan kepercayaan publik? Waktu akan menjadi wasitnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User