Infantino dan Era Baru FIFA: 48 Tim, Hadiah Besar, Rekor Baru

Skor akhir belum berbunyi, tetapi papan skor era Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA sudah memajang angka-angka yang membuat pengamat sepak bola dunia terkesiap: 48 tim di Piala Dunia 2026, hadiah ...

Infantino dan Era Baru FIFA: 48 Tim, Hadiah Besar, Rekor Baru

Skor akhir belum berbunyi, tetapi papan skor era Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA sudah memajang angka-angka yang membuat pengamat sepak bola dunia terkesiap: 48 tim di Piala Dunia 2026, hadiah total 1,1 miliar dolar AS, dan 211 asosiasi anggota yang kini ikut menikmati distribusi pendapatan terbesar dalam sejarah induk organisasi sepak bola dunia. Wajah Infantino kembali menghiasi pemberitaan global — dan kali ini bukan sekadar ilustrasi belaka.

Sejak memenangi Kongres Luar Biasa FIFA di Zurich pada Februari 2016, pria berkebangsaan Swiss itu mengubah peta permainan. Jika dulu FIFA terperosok dalam skandal korupsi, kini lembaga itu tampil dengan formasi menyerang: ekspansi turnamen, kenaikan hadiah, dan teknologi yang ikut berlari di lapangan. Penguasaan bola kini dipegang penuh oleh kantor pusat FIFA — dan angka-angka di belakangnya berbicara lantang.

Babak Pertama: Perebutan Kursi di Menit-Menit Awal

Momen krusial itu terjadi pada 26 Februari 2016. Di tengah kongres yang digelar pascakepergian Sepp Blatter, Infantino hadir sebagai kandidat yang sempat dianggap underdog. Starting XI kepengurusan barunya langsung berbenah: reformasi tata kelola, pembatasan masa jabatan, dan transparansi keuangan menjadi janji kampanye utama. Menit ke-90, saat hasil pemungutan suara diumumkan, namanya keluar sebagai pemenang dan tonggak baru pun dimulai.

Hitung mundur berjalan cepat. Pada Juni 2019 ia kembali terpilih, dan pada Maret 2023 ia melenggang tanpa lawan — semacam clean sheet politik yang nyaris sempurna. Dalam kongres di Kigali, Rwanda, ia disahkan secara aklamasi untuk masa jabatan hingga 2027. Mandat penuh itu langsung ia pakai untuk menggulirkan kebijakan yang mengubah wajah turnamen global.

Babak Kedua: Formasi 48 Tim dan Ledakan Hadiah

Keputusan paling berdampak datang menjelang Piala Dunia 2026: format diperlebar menjadi 48 tim, bertambah 16 slot dari edisi Qatar 2022 yang masih memakai 32 peserta. Tuan rumah pun diperbanyak. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berbagi peran sebagai tuan rumah bersama — format tiga negara yang belum pernah terjadi sejak Korea Selatan dan Jepang berbagi panggung pada 2002.

Angka hadiah ikut meroket layaknya skor akhir derbi. Untuk edisi 2026, FIFA mengumumkan total hadiah 1,1 miliar dolar AS, melonjak dari 440 juta dolar AS pada Qatar 2022. Di sektor wanita, Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru menggenggam hadiah 152 juta dolar AS — hampir lima kali lipat dari edisi 2019 di Prancis yang "hanya" 30 juta dolar AS. Belum lagi Piala Dunia Antarklub 2025 yang memakai format baru 32 tim dengan dana hadiah hingga 1 miliar dolar AS.

Pemain Kunci di Lini Tengah: Teknologi dan Rekor Gol

Teknologi menjadi assist terbesar era Infantino. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, VAR dipadukan dengan semi-automated offside technology, yang memangkas waktu peninjauan offside menjadi rata-rata di bawah 25 detik per keputusan. Hasilnya terlihat di papan skor: 172 gol tercipta dalam 64 pertandingan, rekor gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Di final, Kylian Mbappé mencetak hat-trick — yang pertama sejak Geoff Hurst pada 1966 — meski Argentina akhirnya menang 3-3 lewat adu penalti 4-2.

Statistik lain ikut menguatkan: 64 laga tersaji di Qatar 2022, dan kualitas permainan dinilai naik berkat lima pergantian pemain serta waktu tambahan yang lebih panjang. Infantino menyebut turnamen itu sebagai bukti bahwa sepak bola mampu menyatukan dunia — klaim yang langsung mendapat sorotan tajam dari para kritikus.

Babak Penentu: Kartu Kuning, Kartu Merah, dan Ujian 2030

Tidak semua berjalan mulus. Kalender yang kian padat memancing kartu kuning dari klub-klub Eropa; jadwal Piala Dunia Antarklub 2025 memicu protes soal beban pemain, bahkan ancaman boikot dari sejumlah bintang. Menuju 2030, turnamen akan dibagi di tiga negara — Spanyol, Portugal, dan Maroko — plus tiga laga perayaan seratus tahun di Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Pada 2034, Arab Saudi resmi ditunjuk sebagai tuan rumah, keputusan yang memancing perdebatan sengit soal hak asasi manusia dan kelayakan infrastruktur.

"Ini akan menjadi Piala Dunia terbesar dan terbaik yang pernah ada. Sepak bola menyatukan dunia, dan kami akan membuktikannya," ujar Infantino dalam berbagai kesempatan menjelang turnamen Amerika Utara.

Shots on target dari para pengkritik terus bertambah: tudingan greenwashing, komersialisasi berlebihan, hingga pengabaian suara pemain. Namun di sisi lain, pendapatan FIFA menembus rekor 7,5 miliar dolar AS pada siklus 2023-2026 — angka yang sulit dibantah oleh siapa pun.

Analisis: Skor Akhir Sementara

Jika pertandingan ini dihentikan sekarang, skor akhir sementara era Infantino cukup meyakinkan: ekspansi luar biasa, pendapatan memecahkan rekor, dan jangkauan global yang kian luas. Namun kartu merah bagi reputasi sepak bola dunia masih menggantung di udara, dan peluit panjang baru akan berbunyi setelah Piala Dunia 2026 usai. Hingga saat itu, bola tetap bergulir — dan Infantino masih memegang kendali permainan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User