Kericuhan Warnai Final Piala Dunia 2026: Paredes Biang Kerok

Piala Dunia 2026 resmi menjadi milik Argentina. Skor akhir 3-3 setelah 120 menit dramatis di MetLife Stadium, New Jersey, dan Argentina menang 4-3 lewat adu penalti. Namun pesta juara yang seharusnya ...

Kericuhan Warnai Final Piala Dunia 2026: Paredes Biang Kerok

Piala Dunia 2026 resmi menjadi milik Argentina. Skor akhir 3-3 setelah 120 menit dramatis di MetLife Stadium, New Jersey, dan Argentina menang 4-3 lewat adu penalti. Namun pesta juara yang seharusnya menjadi malam termanis justru tercoreng kericuhan besar di tengah lapangan setelah peluit panjang berbunyi — dan nama Leandro Paredes berada di pusat badai itu.

Kericuhan di Tengah Pesta Juara

Kejadian bermula hanya beberapa detik setelah wasit meniup peluit panjang. Alih-alih bergabung dalam selebrasi rekan setimnya, Paredes berlari menuju arah pemain Spanyol dengan wajah memerah. Gelandang bertahan berusia 32 tahun itu terlihat mendorong Pedri dari belakang, lalu terlibat adu mulut sengit dengan Rodri. Sebuah momen yang memicu kerumunan besar: setidaknya 15 pemain dari kedua kubu terlibat saling dorong di tengah lapangan, sementara ofisial tim berusaha melerai.

Yang membuat situasi makin panas, Paredes dilaporkan sempat menendang bola ke arah bangku cadangan Spanyol sebelum akhirnya ditarik paksa oleh beberapa rekannya. Wasit yang dibantu VAR melakukan review insiden tersebut dan memberikan kartu merah langsung kepada Paredes — sebuah kartu merah yang tercatat di menit ke-120+6, meski pertandingan sudah resmi berakhir. Kericuhan berlanjut di lorong menuju ruang ganti, di mana petugas keamanan harus turun tangan memisahkan kedua tim.

Kronologi 120 Menit di MetLife Stadium

Sebelum insiden itu, dunia baru saja menyaksikan salah satu final terbaik dalam sejarah turnamen. Spanyol unggul penguasaan bola hingga 54 persen, tetapi Argentina tampil lebih klinis dengan 7 shots on target dari 13 percobaan, berbanding 6 dari 15 milik La Roja.

Menit ke-18, Julian Alvarez membuka keunggulan Argentina lewat penyelesaian first-time setelah assist terukur dari Enzo Fernandez. Spanyol merespons cepat: menit ke-34, Lamine Yamal menyamakan kedudukan dengan tendangan bebas melengkung yang tidak mampu dijangkau Emiliano Martinez — gol ke-7 pemain 19 tahun itu di turnamen ini. Menit ke-58, Lionel Messi mencetak gol perdananya di laga final lewat eksekusi penalti setelah handball Rodri di kotak terlarang, sekaligus memecah rekor gol sepanjang masa Piala Dunia menjadi 18 gol.

Spanyol kembali bangkit lewat sundulan Rodri pada menit ke-71 setelah umpan silang Nico Williams. Skor 2-2 memaksa perpanjangan waktu. Menit ke-101, Lautaro Martinez menuntaskan serangan balik kilat untuk membawa Argentina unggul 3-2, sebelum Yamal mencetak gol keduanya pada menit ke-117 dengan tendangan voli spektakuler — memaksa adu penalti. Pada drama 12 langkah, Emiliano Martinez menggagalkan eksekusi Pedri dan Rodri, cukup bagi Argentina untuk memastikan gelar keempat mereka.

Analisis Taktik: Duel Gelandang yang Memanas

Dari sisi formasi, Argentina tampil dengan 4-4-2 diamond yang dimotori Paredes sebagai single pivot di depan lini belakang, sementara Spanyol mempertahankan 4-3-3 khas Luis de la Fuente dengan Rodri sebagai jangkar. Data pertandingan menunjukkan duel fisik Paredes melawan Rodri sepanjang laga sudah menyalakan api: keduanya tercatat terlibat dalam total 19 tekel, dengan Paredes menerima kartu kuning pada menit ke-52 setelah tekel keras ke pergelangan kaki Pedri.

Wasit juga mengeluarkan tiga kartu kuning lain untuk Spanyol (Carvajal, Laporte, dan Cucurella) serta satu untuk Nahuel Molina. Tercatat pula 11 pelanggaran offside — tujuh di antaranya milik Argentina yang kerap bermain dengan garis pertahanan tinggi. Menariknya, meski total 26 tembakan dilepaskan kedua tim, tidak ada clean sheet yang tercipta; ini adalah final Piala Dunia pertama sejak 2018 yang membutuhkan adu penalti.

Buntut Panjang: Sanksi Menanti Paredes

Insiden Paredes diperkirakan akan berujung pada hukuman berat dari Komite Disiplin FIFA, termasuk larangan bermain beberapa laga dan denda. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, tidak menampik kekecewaannya saat konferensi pers setelah laga.

"Kami memenangkan trofi, tetapi malam ini ada satu hal yang tidak bisa kami banggakan. Itu bukan citra sepak bola, dan kami akan menangani ini secara internal," ujar Scaloni.

Di sisi lain, Paredes sempat muncul di area mixed zone dengan kepala tertunduk dan meminta maaf singkat kepada para pendukung. Namun pertanyaannya kini jelas: apakah noda di akhir laga itu akan mengubah persepsi publik terhadap gelar yang baru saja dirayakan Argentina? Yang pasti, pertandingan yang berlangsung selama 120 menit itu akan selalu dikenang — bukan hanya karena drama penalti, tetapi juga karena malam yang berakhir dengan kericuhan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User