Skor akhir bukanlah hal yang biasa dibahas ketika nama Gianni Infantino disebut. Namun jika sepak bola dunia diibaratkan sebuah pertandingan panjang, pria kelahiran Brig, Swiss, 55 tahun silam itu kini memegang kendali penuh di lapangan tengah. Sejak resmi menduduki kursi Presiden FIFA pada 26 Februari 2016, ia telah melalui tiga siklus pemilihan tanpa satu pun kartu merah berarti. Kongres FIFA di Paris, Bangkok, hingga Zurich menjadi saksi bagaimana mantan Sekretaris Jenderal UEFA itu membangun dominasi politik yang nyaris tanpa perlawanan.
Infantino bukan pemain yang mencetak hat-trick dalam satu laga. Ia lebih mirip gelandang bertahan yang mengatur tempo. Reformasi struktur organisasi, perluasan format Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim, hingga ekspansi Piala Dunia Antarklub menjadi 32 klub adalah deretan assist strategis yang mengubah peta kompetisi global. Penguasaan bola politiknya di Executive Council FIFA terbilang absolut, dengan hampir seluruh konfederasi besar memberi dukungan terbuka.
Momentum Gol Pertama: Reformasi Pasca-Krisis
Menit ke-1 kepemimpinannya dimulai ketika FIFA berada dalam tekanan luar biasa akibat skandal korupsi yang menyeret sejumlah pejabat tinggi. Infantino masuk membawa janji clean sheet administratif. Ia mendorong transparansi anggaran, mempublikasikan laporan keuangan tahunan, dan menempatkan auditor independen dalam struktur organisasi. Statistik kepemimpinan menunjukkan pendapatan FIFA melonjak dari sekitar USD 5,6 miliar pada siklus 2015-2018 menjadi USD 7,6 miliar pada siklus 2019-2022, dan diproyeksikan menembus USD 11 miliar untuk siklus 2023-2026.
Namun seperti pertandingan yang penuh VAR, setiap keputusan tetap memicu perdebatan. Kritik datang dari sejumlah asosiasi nasional yang menilai komersialisasi berlebihan mengorbankan kalender pemain. Jadwal Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan memuat 104 pertandingan, naik dari 64 laga pada edisi Qatar 2022. Angka itu setara dengan menambah hampir satu putaran penuh kompetisi domestik di tengah musim yang sudah padat.
Formasi Baru: Piala Dunia Antarklub dan Piala Dunia Wanita
Starting XI kebijakan Infantino tidak hanya menyerang lewat sektor komersial. Ia juga memperbesar panggung sepak bola wanita. Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru mencatat rekor penonton lebih dari 1,9 juta orang di stadion, dengan total hadiah naik menjadi USD 110 juta. Angka ini masih jauh dari Piala Dunia pria, tetapi pertumbuhannya termasuk yang tercepat dalam sejarah turnamen internasional FIFA.
Di sisi lain, Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat menghadirkan 32 klub, termasuk perwakilan Asia seperti Al Hilal dan Urawa Red Diamonds. Format baru ini memberi jalur pendapatan tambahan bagi klub-klub non-Eropa, meski jadwal pertandingan musim panas memicu protes dari sejumlah federasi pemain. Serikat pesepakbola menilai beban pertandingan bisa menembus 70 laga per musim bagi pemain top yang membela klub dan tim nasional sekaligus.
"Sepak bola harus tumbuh, tetapi pertumbuhan itu harus dinikmati semua pihak, bukan hanya segelintir," ujar seorang pejabat konfederasi yang meminta identitasnya dirahasiakan, menggambarkan nada kritik yang kerap mengiringi kebijakan ekspansi.
Peta Kekuatan Menuju Pemilihan Berikutnya
Dari kacamata taktik politik, posisi Infantino saat ini setara tim yang unggul dua gol menjelang babak kedua. Dukungan dari konfederasi Afrika (CAF), Asia (AFC), dan Amerika Utara (CONCACAF) menjadi tembok pertahanan yang sulit ditembus. Eropa melalui UEFA dan Amerika Selatan melalui CONMEBOL memang sempat bersuara lantang soal kalender, tetapi suara mereka belum cukup untuk menggoyang kursi kepresidenan.
Statistik elektoral memperkuat gambaran itu. Pada Kongres FIFA 2023 di Kigali, Rwanda, Infantino terpilih kembali tanpa lawan untuk periode 2023-2027. Ia hanya butuh satu putaran, tanpa perlu babak perpanjangan. Bandingkan dengan 2016 ketika ia menang tipis atas Salman bin Ibrahim Al Khalifa dengan selisih suara 115 berbanding 88. Kini, lawan-lawan potensial justru lebih banyak berdiskusi di luar lapangan daripada mengajukan diri sebagai kandidat.
Yang tersisa sebagai ujian sesungguhnya adalah bagaimana ia mengelola warisan kepemimpinannya. Jika ekspansi turnamen berjalan mulus tanpa merusak kesehatan pemain dan keseimbangan kompetisi domestik, Infantino bisa menutup kariernya dengan clean sheet reputasi. Sebaliknya, jika jadwal padat memicu gelombang cedera dan boikot dari klub-klub besar, maka menit-menit akhir kepemimpinannya bisa berubah menjadi tekanan tinggi yang tak terhindarkan. Sepak bola dunia kini menunggu, apakah sang pengatur tempo di Zurich mampu mempertahankan penguasaan bola hingga peluit panjang.
Comments (0)