Skor akhir 3-2 untuk Indonesia. Partai final bulu tangkis beregu putra Asian Games di Ichinomiya City, Jepang, Kamis (24/9/2026) berakhir dramatis setelah tim Merah-Putih bangkit dari ketertinggalan 0-2. Kemenangan ini memastikan medali emas, dan menjadi salah satu comeback paling bersejarah dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di pesta olahraga Asia.
Pertandingan berjalan selama empat jam 38 menit. Indonesia tertinggal lebih dulu lewat dua partai awal. Tunggal pertama kehilangan rubber game 21-19, 18-21, 19-21. Tunggal kedua juga kalah dua gim langsung 17-21, 20-22. Kedudukan 0-2 membuat peluang Indonesia nyaris tertutup. Namun, tiga partai tersisa dimenangi tanpa ampun.
Leo/Daniel Nyalakan Asa di Partai Ketiga
Menit ke-0 partai ketiga, pasangan ganda putra Leo R. Carnando dan Daniel Marthin langsung mengambil inisiatif serangan. Formasi starting XI beregu menempatkan mereka sebagai ujung tombak setelah dua kekalahan. Leo duduk di sisi kanan, Daniel di kiri. Kombinasi drive dan smes silang mereka membuat pasangan China, Liu Yi dan He Ji Ting, kelimpungan.
Leo/Daniel menang 21-15, 21-18 dalam 34 menit. Statistik menunjukkan mereka mencatatkan 18 smes mematikan, 11 di antaranya dari Leo. Penguasaan bola rally mereka mencapai 58 persen. Kemenangan ini memangkas ketertinggalan menjadi 1-2 dan menyalakan asa.
“Kami tidak mau pulang tanpa emas. Dua kekalahan awal justru membuat kami lebih berani menekan,” ujar Daniel Marthin usai laga.
Partai keempat menjadi milik tunggal ketiga Indonesia. Ia menang 21-12, 21-16 hanya dalam 31 menit. Skor imbang 2-2. Seluruh keputusan bergantung pada partai kelima, ganda kedua.
Ganda Kedua Tampil Sebagai Penentu
Partai penentu berlangsung menegangkan. Ganda kedua Indonesia tertinggal 11-16 di gim pertama, lalu bangkit dan menang 22-20. Gim kedua berjalan lebih terkendali, 21-17. Total durasi partai 47 menit. Kemenangan ini mengunci skor akhir 3-2.
Sepanjang laga, Indonesia mencatatkan total 82 smes, 14 ace, dan 9 error sendiri. China sedikit lebih unggul dalam penguasaan bola, 53 persen berbanding 47 persen. Namun, shots on target Indonesia mencapai 61 persen, jauh di atas China yang hanya 48 persen. Mental bertanding menjadi pembeda utama.
Pelatih kepala beregu putra Indonesia menyebut kebangkitan ini buah dari persiapan fisik dan taktik yang matang. “Kami melatih skenario tertinggal 0-2 selama sebulan terakhir. Hari ini skenario itu terpakai,” katanya dalam konferensi pers.
Analisis: Mental Juara dan Rotasi Taktis
Dari sisi taktik, perubahan formasi di partai ketiga menjadi kunci. Pelatih memindahkan pola serangan ke sisi kiri, memaksa Liu Yi keluar dari posisi idealnya. Data mencatat Liu Yi melakukan 7 unforced error di gim kedua, terbanyak di seluruh pertandingan. Sementara itu, servis pendek Daniel Marthin efektif menekan He Ji Ting yang kesulitan membangun serangan.
Kartu kuning diberikan wasit kepada pelatih China pada menit ke-38 partai keempat karena protes berlebihan. Tidak ada kartu merah sepanjang laga. VAR juga tidak digunakan karena bulu tangkis belum menerapkan teknologi itu secara penuh di ajang ini. Offside tidak relevan dalam cabang ini.
Dengan hasil ini, Indonesia menambah koleksi emas di Asian Games. Capaian ini juga menjadi clean sheet secara mental: tiga partai terakhir dimenangi tanpa kehilangan gim. Leo R. Carnando dan Daniel Marthin tampil sebagai pahlawan dengan dua kemenangan krusial, masing-masing menyumbang satu poin penuh.
Kemenangan dramatis ini akan dikenang sebagai salah satu comeback terbaik bulu tangkis beregu putra Indonesia. Skor akhir 3-2, tiga partai terakhir tanpa cela, dan medali emas kembali ke Tanah Air.
Comments (0)